iklan periskop
Ekonomi

Presiden Direktur Bank BCA Proyeksikan BI Pangkas Suku Bunga Hingga 2 Kali di Tahun 2026

BCA proyeksi BI akan memangkas suku bunga acuan 1–2 kali tahun 2026, sambut penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI.

6 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Presiden Direktur Bank BCA Proyeksikan BI Pangkas Suku Bunga Hingga 2 Kali di Tahun 2026
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hendra Lembong saat konferensi pers, Selasa (27/1). Periskop.id/Siti Ayu Rachma
Ukuran teks
Sedang

periskop.id - Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Hendra Lembong memproyeksikan Bank Indonesia (BI) akan memangkas suku bunga acuan atau BI Rate sebanyak 1–2 kali dalam tahun 2026. 

"Mengenai proyeksi BI Rate, di tahun ini kita memprediksi 1-2 kali (pemangkasan) untuk saat ini ya," kata Hendra dalam konferensi pers, Selasa (27/1).

Hendra menyebut proyeksi tersebut disesuaikan dengan dinamika ekonomi global, khususnya kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai tidak seagresif perkiraan sebelumnya.

"Melihat situasi di US yang memang tidak se-agresif yang diperkirakan, kita juga prediksi penurunan... pemangkasan suku bunga acuan itu antara 1-2 kali," jelasnya.

Di sisi lain, Hendra juga menanggapi terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Pihaknya menyambut positif penunjukan tersebut dan berharap kehadiran Thomas dapat membawa perspektif serta gagasan baru bagi penguatan kebijakan moneter dan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pak Thomas Djiwandono terpilih, Deputi Gubernur, ya tentu harapannya beliau bisa membawa ide-ide baru yang lebih baik lagi untuk membantu pertumbuhan ekonomi," tuturnya.

Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) kembali memutuskan untuk mempertahankan suku bunga BI Rate sebesar 4,75%. Dengan demikian suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75% persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 5,5%.

‎"Rapat dewan gubernur Bank Indonesia pada 20 dan 21 Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate 4,75%," kata Gubernur BI, Perry Warjiyo dalam konferensi pers RDG, Rabu (21/1).

Perry mengatakan konsisten dengan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah masih tingginya ketidakpastian global dengan tetap memperkuat efektivitas transisi pelonggaran kebijakan  moneter dan makroprodensial yang telah ditempuh selama ini untuk menjaga stabilitas dan mendorong perekonomiam nasional. 

‎"Dengan tetap memperkuat aktivitas transmisi perlawanan kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini," tutup Perry.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Thomas Djiwandono, Suku Bunga Acuan, Bank Indonesia (BI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.