periskop.id - Jeffrey Hendrik ditunjuk sebagai Pejabat Sementara (PJs) Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusul pengunduran diri Iman Rachman dari kursi pimpinan bursa. Sebelumnya, Jeffrey menjabat sebagai Direktur Pengembangan BEI.
Hal tersebut terkonfirmasi langsung Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko BEI Sunandar. Kekosongan di pucuk pimpinan ini muncul di tengah upaya BEI memulihkan kepercayaan pasar pasca gejolak yang sempat mengguncang pasar modal Tanah Air.
“Sudah, Pak Jeffrey. Keputusan resmi sebenarnya sudah diumumkan saat rapat direksi BEI pas Jumat. Hanya saja, mekanisme pengunduran dirinya masih harus diproses lebih lanjut,” ujar Sunandar saat berbicara dengan wartawan di Gedung BEI, Selasa (3/2).
Sunandar menegaskan penunjukan pimpinan sementara dilakukan dengan memperhatikan stabilitas pasar serta kelancaran operasional dan pengawasan BEI. Sementara untuk posisi Direktur Utama definitif, prosesnya akan mengikuti mekanisme internal BEI yang berlaku.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memastikan Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah ditunjuk untuk mengemban amanah sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI guna mengisi kekosongan kepemimpinan di otoritas bursa.
“Iya (Jeffrey jadi Pjs Dirut BEI),” ujar Purbaya saat ditemui awak media di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (31/1).
Purbaya menjelaskan tugas mendesak Jeffrey bersama jajaran manajemen bursa adalah mewakili institusi dalam pertemuan penting dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Agenda strategis ini telah berlangsung sejak Senin sore kemarin 2 Februari 2026.
"Dia (Jeffrey) sama timnya mereka, lah,” terangnya singkat.
Kilas Balik Perjalanan Karir Jeffrey Hendrik
Jeffrey Hendrik memulai karier di pasar modal sejak pertengahan 1990-an dan ditempa langsung oleh Krisis Keuangan Asia 1997–1998. Lulusan Sarjana Ekonomi Universitas Trisakti (1995) ini mengawali karier di PT Zone Pratama (1994–1996), lalu mendalami pasar modal di PT Transpacific Securindo (1996–1999) pada divisi Corporate Finance.
Pengalaman krisis membentuk pandangannya bahwa pasar modal yang sehat tidak boleh bergantung pada dana asing. Capital flight saat itu menjadi pelajaran penting tentang perlunya basis investor domestik yang kuat.
Visi tersebut diwujudkan ketika Jeffrey menjabat Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak Juni 2022. Fokus utamanya adalah akselerasi jumlah investor dan pendalaman pasar. Hasilnya, jumlah investor pasar modal melonjak dari 14,87 juta pada akhir 2024 menjadi 21,03 juta per Januari 2026, didorong oleh program edukasi seperti Duta Pasar Modal yang melibatkan mahasiswa di berbagai daerah.
Di sisi pengembangan produk, Jeffrey memimpin peluncuran Bursa Karbon Indonesia (IDXCarbon) pada September 2023 sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda Net Zero Emission. Ia juga menghidupkan kembali pasar derivatif melalui Single Stock Futures (SSF) berbasis saham blue chip serta Kontrak Berjangka Indeks Asing (KBIA) MSCI Hong Kong untuk memperluas akses investor ke pasar global.
Dalam isu sensitif intraday short selling, Jeffrey mengambil pendekatan moderat dengan menjaga segmentasi pasar. Investor syariah tetap terlindungi melalui sistem SOTS, sementara investor konvensional dapat memanfaatkan short selling sesuai ketentuan.
Kini, Jeffrey ditunjuk sebagai Pejabat Sementara Direktur Utama BEI. Di tengah sorotan isu MSCI, ia mempertegas komitmen otoritas bursa untuk membangun pasar modal Indonesia yang likuid, inklusif, dan berdaya saing global.hanya besar secara kapitalisasi, tetapi juga unggul dalam integritas.
“Kami juga menegaskan komitmen kami untuk membangun pasar modal Indonesia berkelas dunia tidak hanya setara dalam hal nilai perdagangan dan kapitalisasi pasar, tetapi juga setara dalam transparansi dan tata kelola,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Tinggalkan Komentar
Komentar