periskop.id - Direktur Pengembangan sekaligus Pejabat Sementara Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menegaskan kehadiran Danantara dalam pertemuan yang digelar antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan MSCI (Morgan Stanley Capital International) bukan untuk bernegosiasi atau memengaruhi keputusan MSCI.

Lembaga pengelola investasi itu hadir sebagai bagian dari forum, dengan posisi yang setara seperti pelaku pasar lainnya, yaitu menyampaikan perspektif dan pandangan.

“Untuk hari ini, Danantara hanya menyampaikan concern kepada MSCI,” ujar Jeffrey saat dijumpai di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) dikutip Selasa (3/2).

Ia menekankan masukan yang disampaikan didengar sebagai sudut pandang investor institusi, bukan sebagai bagian dari proses evaluasi indeks atau negosiasi resmi. Ia kembali menegaskan kehadiran Danantara sama sekali tidak beririsan dengan proses keputusan MSCI.

"Semua masukan dan feedback yang diberikan merupakan bagian dari komunikasi transparan investor institusi," sambungnya tegas.

Lebih lanjut, Jeffrey menyampaikan hasil tanggapan MSCI terkait agenda tersebut tidak akan diumumkan oleh pihak Indonesia.

"Seluruh komunikasi resmi dan keputusan ada di kewenangan MSCI sebagai penyedia indeks global,” terang dia.

Dengan demikian, kehadiran Danantara menegaskan peran institusi domestik dalam menyampaikan pandangan pasar, tanpa memengaruhi proses evaluasi atau keputusan resmi MSCI.

Sebelumnya, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Pandu Sjahrir menyatakan pihaknya menghadiri rapat daring bersama Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin sore 2 Februari 2026 didampingi Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Meski ikut hadir, Pandu menegaskan perannya bukan sebagai pengambil keputusan dalam diskusi. Seluruh proses pembahasan resmi sepenuhnya berada di tangan BEI dan OJK.

"Ya, saya hanya mengikuti saja, nonton jalannya rapat,” ujar Pandu kepada wartawan di Gedung BEI, Senin.

Menurut Pandu, kehadiran Danantara lebih bersifat sebagai pembeli saham, ia menilai  pasar modal Indonesia masih menawarkan peluang investasi yang sangat menarik.

"Kami hanya ikut membeli saham karena valuasinya menarik, ekonominya solid, dan prospeknya bagus,” tuturnya.