periskop.id - PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) berhasil mencatat laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp180 miliar sepanjang 2025, naik tipis dibandingkan tahun 2024 yang hanya Rp178 miliar. Pencapaian ini sejalan dengan proyeksi manajemen meski pendapatan mengalami kontraksi di tengah dinamika sektor pariwisata dan properti.

Dalam laporan keuangan yang diterbitkan Selasa,17 Februari 2026 dari sisi pendapatan PJAA membukukan pendapatan Rp1,12 triliun turun 11% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,27 triliun. Sebelumnya, Direktur Utama PJAA Winarto menyampaikan target pendapatan 2025 sebesar Rp1,1 triliun sesuai Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Meski demikian, tantangan fundamental masih membayangi. Penurunan jumlah kunjungan di sejumlah unit rekreasi utama menjadi sinyal bahwa pemulihan pasar belum sepenuhnya solid, ditambah persaingan destinasi hiburan yang semakin ketat di wilayah Jabodetabek. Di sisi beban, laba kotor PJAA turun 23% menjadi Rp512 miliar dari Rp667 miliar pada 2024 akibat kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 1,7% menjadi Rp610 miliar, mencerminkan meningkatnya biaya operasional.

Namun, efisiensi tercapai pada beban keuangan yang turun 25% menjadi Rp72 miliar, membantu menahan tekanan terhadap profitabilitas. Selain itu, perseroan memperoleh pendapatan non-inti sebesar Rp225 miliar, terutama dari kompensasi pembebasan lahan untuk proyek Jalan Tol Ir. Wiyoto Wiyono Seksi Harbour Road II (HBR II).

Nilai ganti rugi atas enam bidang tanah seluas 7.185 meter persegi tersebut mencapai Rp176 miliar, yang tercatat sebagai piutang usaha pada 31 Desember 2025, namun telah direalisasikan secara tunai pada 5 Januari 2026.

Dengan kombinasi pendapatan operasional dan non-inti ini, laba usaha PJAA hanya terkoreksi 13% menjadi Rp325 miliar. Meski laba kotor dan laba usaha tertekan, laba bersih perseroan tetap tercatat Rp180 miliar, seluruhnya dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Ke depan, keberlanjutan kinerja perseroan akan sangat bergantung pada pemulihan trafik pengunjung dan kemampuan menjaga efisiensi biaya, agar pertumbuhan laba tidak lagi bertumpu pada faktor non-berulang. Tekanan biaya tetap, mulai dari pemeliharaan, utilitas, hingga life cycle cost wahana, serta depresiasi aset rutin, menjadi tantangan yang perlu dikelola agar laba tetap stabil di masa mendatang.