periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini, Selasa 17 Maret 2026 diperkirakan masih dalam tren melemah. Sentimen global dan kekhawatiran fiskal menekan IHSG menjelang libur panjang.
“Secara teknikal IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 6.900-7.150,” ulas Tim Riset Phintraco Sekuritas, Selasa (17/3).
Beberapa saham pilihan Phintraco Sekuritas yang menarik diperhatikan pada perdagangan hari ini, antara lain CPIN, SCMA, MYOR, MEDC dan ESSA.
Sebelumnya, IHSG ditutup melemah di level 7,022.29 atau terkoreksi 1,61% pada perdagangan Senin (16/3). Kekhawatiran akan dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap inflasi, potensi melebarnya defisit APBN, berlanjutnya depresiasi Rupiah, serta potensi perlambatan ekonomi domestik, menjadi faktor negatif yang mempengaruhi pergerakan IHSG.
“Selain itu menjelang libur panjang membuat investor cenderung bersikap hati-hati,” tulis riset yang sama.
Sektor teknologi mengalami koreksi terbesar, sedangkan sektor keuangan membukukan kenaikan terbesar. Rupiah ditutup melemah pada level Rp16,997/US$ di pasar spot (16/3).
Sementara itu Presiden Prabowo kembali menegaskan komitmennya terhadap disiplin fiskal, dengan menyatakan prinsip utama dalam pemerintahannya adalah memastikan bangsa Indonesia hidup sesuai dengan kemampuan (16/3). Presiden menekankan bahwa opsi melonggarkan defisit APBN adalah pilihan terakhir.
Mayoritas indeks di bursa Asia bergerak di teritori negatif pada perdagangan Senin (16/3), akibat kenaikan harga minyak mentah dan mencermati perkembangan eskalasi konflik AS-Iran. Harga minyak WTI menguat hingga level US$100/barel (16/3), setelah pemerintahan Trump mengancam serangan militer terhadap Pulau Kharg di Iran, yang merupakan pusat distribusi minyak Iran yang memproses 90% ekspor minyak mentah Iran.
Sementara itu Presiden Trump mengatakan rencana perjalanannya ke Tiongkok pada akhir bulan ini dapat ditunda karena AS berupaya menekan Tiongkok untuk membantu membuka kembali Selat Hormuz.
Dari Tiongkok (16/3), data industrial production tumbuh 6.3% YoY di periode Januari-Februari 2026, berakselerasi dari 5.2% YoY di Desember 2025. Sedangkan penjualan ritel di Tiongkok tumbuh 2.8% YoY pada periode Januari-Februari 2026, membaik dari 0.9% YoY di Desember 2025.
Investor akan menantikan RDG Bank Indonesia yang diperkirakan akan mempertahankan BI Rate pada level 4.75% (17/3). Pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan meningkat 10.1% di Februari 2026 dari 9.96% di Januari 2026 (17/3).
Tinggalkan Komentar
Komentar