periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait terseretnya nama Djaka Budhi Utama Dirjen Bea dan Cukai yang menerima suap Blueray Cargo John Field sebesar Rp2,9 miliar atau SGD213600.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak akan ikut campur dalam proses penyelidikan tersebut. Kendati begitu, ia bilang kalau terbukti bersalah maka akan segera dicopot jabatannya, sebagaimana arahan dari Presiden Prabowo Subianto pada saat Sidang Paripurna, kemarin (20/5).
"Kalau persidangan saya nggak akan ikut campur, saya lihat aja seperti apa hasilnya kan. Kalau terbukti bisa aja, tapi kalau terbukti ya sudah. Harusnya iya, kalau terbukti ya," ujar Purbaya kepada media, Jakarta, Kamis (21/5).
Sebelumnya, Prabowo meminta Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengevaluasi pimpinan Bea Cukai yang dinilai tidak mampu menjalankan tugas dengan baik.
Lantaran dirinya menyoroti kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai yang dinilai masih menjadi keluhan para pelaku usaha. Ia meminta institusi tersebut segera melakukan pembenahan menyeluruh, terutama terkait praktik pungutan liar (pungli) dan birokrasi yang menghambat aktivitas ekonomi.
Prabowo mengaku menerima banyak keluhan dari kalangan pengusaha terkait maraknya pungutan liar atau pungli dalam proses pelayanan birokrasi. Karena itu, ia meminta seluruh kementerian dan lembaga segera melakukan bersih-bersih internal serta menindak tegas aparat yang melakukan pelanggaran.
"Saya ingatkan kembali, untuk ke-sekian kali, bea cukai kita harus diperbaiki. menteri keuangan, kalau pimpinan bea cukai tidak mampu, segera diganti," tegas Prabowo dalam sidang paripurna DPR RI, Jakarta, Rabu (20/5).
Menurut Prabowo, pemerintah tidak boleh bekerja lamban di tengah tuntutan masyarakat dan dunia usaha terhadap pelayanan yang cepat dan efisien. Ia menekankan bahwa seluruh institusi negara harus bergerak lebih responsif dan tidak bersikap santai dalam menjalankan tugas pemerintahan.
"Bangsa dan rakyat menuntut pekerjaan yang cepat jangan kita jadi pemerintah yang santai, pemerintah yang leha-leha, pemerintah yang kumaha engke wae (bagaimana nanti saja). Kita harus jadi pemerintah yang didorong oleh engke kumaha (nanti bagaimana) bukan kumaha engke (bagaimana nanti)," tutupnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar