periskop.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan produk mie instan dan nasi yang bisa matang sempurna hanya dengan siraman air dingin, tanpa perlu bantuan kompor, gas, atau listrik.

“Jadi mie instan, tapi disiram air dingin, tetap panas. Selama ini kalau kita (masak) mie instan butuh air mendidih, nah sekarang riset kami yang ada di Jogja sudah kami tugaskan,” kata Kepala BRIN, Arief Satria, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi X DPR RI di Jakarta, Rabu (28/1).

Inovasi ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan logistik mendesak. Target utamanya adalah penyediaan makanan hangat di lokasi bencana alam.

Kondisi di pengungsian seringkali serba terbatas. Akses terhadap api dan air bersih panas kerap menjadi kendala utama dalam penyajian makanan.

Teknologi ini menjadi solusi praktis bagi para pengungsi. Mereka bisa mendapatkan asupan makanan hangat tanpa repot mencari air panas di tengah situasi darurat.

Pusat riset BRIN di Playen, Yogyakarta, menjadi dapur utama pengembangan produk ini. Para peneliti pangan fokus menyempurnakan formula dan kemasan produk tersebut.

Kunci teknologi ini terletak pada kemasan pintar (smart packaging). Kemasan ini dirancang mampu memicu reaksi panas secara mandiri saat bersentuhan dengan air biasa.

“Tolong kembangkan sampai pada packaging yang bagus, sampai kita mencari mitra industrinya,” ujar Arief menirukan instruksinya kepada tim periset.

Selain mie instan, BRIN juga menerapkan teknologi serupa pada komoditas nasi. Nasi instan ini nantinya hanya perlu disiram sedikit air dingin untuk berubah menjadi nasi hangat siap santap.

Inovasi ini dinilai memiliki potensi pasar yang sangat luas. Selain untuk logistik kebencanaan, produk ini sangat cocok untuk bekal jemaah haji, umrah, hingga para pendaki gunung.

Jika diproduksi massal, teknologi ini tentu menjadi kabar gembira bagi masyarakat luas. Terutama bagi kalangan anak kos yang mendambakan kepraktisan tingkat tinggi dalam memasak makanan.

BRIN menargetkan produk ini segera mendapatkan mitra industri. Tujuannya agar inovasi tersebut bisa diproduksi massal dan masuk ke dalam e-katalog pemerintah.