Periskop.id - Ekuador gagal memanfaatkan dominasi besar saat ditahan imbang Curacao 0-0 pada laga kedua Grup E Piala Dunia 2026 di Stadion Kansas City, Amerika Serikat, Minggu (21/6) pagi WIB. Hasil ini menjadi pukulan bagi La Tri karena mereka belum meraih kemenangan dan masih tertahan dengan satu poin dari dua pertandingan.

Sebaliknya, bagi Curacao, hasil imbang tanpa gol ini terasa seperti kemenangan moral. Tim debutan sekaligus negara terkecil yang tampil di putaran final Piala Dunia itu meraih poin pertama dalam sejarah mereka di turnamen tersebut, hanya beberapa hari setelah dihajar Jerman 1-7 pada laga pembuka.

Advertisement

Ekuador tampil sangat dominan sepanjang pertandingan. Berdasarkan catatan FIFA, mereka menguasai 63% bola dan melepaskan 28 percobaan tembakan, dengan 15 di antaranya tepat sasaran. Namun, semua peluang itu dimentahkan oleh kiper Curacao, Eloy Room, yang tampil luar biasa di bawah mistar.

Room menjadi tokoh utama pertandingan. Kiper berusia 37 tahun itu berulang kali menggagalkan peluang Ekuador, mulai dari tembakan Enner Valencia, John Yeboah, hingga Gonzalo Plata. Penampilannya membuat tekanan Ekuador berubah menjadi frustrasi.

Reuters mencatat Room membuat 15 penyelamatan dalam 90 menit. Jumlah itu menjadi rekor penyelamatan terbanyak oleh seorang kiper dalam satu pertandingan Piala Dunia berdurasi normal sejak data statistik turnamen dicatat secara modern.

Ekuador langsung mengancam sejak menit awal. Pada menit ketiga, Enner Valencia mendapat peluang untuk membuka skor, tetapi tembakannya masih bisa ditepis Room. Momen itu seolah menjadi tanda bahwa Ekuador akan menghadapi malam panjang.

Setelah peluang awal tersebut, Ekuador terus mencoba membongkar pertahanan rapat Curacao. Mereka mengandalkan pergerakan dari sektor sayap, kombinasi lini tengah, serta percobaan tembakan jarak jauh. Namun, Curacao bertahan disiplin dengan blok rendah dan menumpuk pemain di area berbahaya.

Hingga 30 menit pertandingan berjalan, dominasi Ekuador belum menghasilkan ancaman yang benar-benar berujung gol. Curacao terlihat lebih banyak menunggu, tetapi tetap berusaha keluar melalui transisi cepat ketika ada ruang.

Menjelang akhir babak pertama, Ekuador kembali mendapat peluang melalui John Yeboah. Ia lepas dari kawalan pemain bertahan Curacao di kotak penalti dan melepaskan tembakan, tetapi Room kembali berada di posisi tepat untuk menangkap bola.

Skor 0-0 bertahan hingga turun minum. Bagi Ekuador, babak pertama menjadi gambaran jelas masalah mereka: mampu menguasai bola, tetapi belum cukup tajam dalam penyelesaian akhir.

Memasuki babak kedua, Ekuador meningkatkan intensitas serangan. La Tri mencoba mempercepat aliran bola dan memanfaatkan lebar lapangan. Tekanan itu membuat Curacao lebih sering berada di wilayah pertahanannya sendiri.

Pada menit ke-59, Gonzalo Plata nyaris mencetak gol. Namun, tembakannya kembali digagalkan Room yang tampil tenang dan sigap. Satu menit kemudian, Curacao membalas melalui sepakan Livano Comenencia dari luar kotak penalti, tetapi kiper Ekuador Hernan Galindez masih bisa menepis bola.

Terus Menekan Tanpa Hasil

Ekuador terus mencoba menekan hingga akhir pertandingan. Mereka melepaskan percobaan dari berbagai sudut, tetapi tidak ada satu pun yang mampu melewati Room. Ketika peluit panjang berbunyi, pemain Curacao merayakan hasil imbang itu, sedangkan para pendukung Ekuador terlihat kecewa karena kemenangan yang diharapkan tidak datang.

Room mengakui laga tersebut penuh emosi. Menurut dia, penyelamatan awal yang ia lakukan memberi kepercayaan diri besar bagi dirinya dan seluruh tim. “Saya sendiri masih harus memproses semuanya. Pertandingan ini penuh emosi. Saya tahu ini akan menjadi laga yang sulit. Penyelamatan pertama itu menentukan arah pertandingan, juga untuk tim," tuturnya. 

Hasil ini, lanjutnya, memberi kepercayaan diri. "Kami semua berkembang. Ini adalah hasil kerja tim. Kami terus berjuang, berjuang sampai menit terakhir. Meraih satu poin dengan cara seperti ini untuk Curacao benar-benar luar biasa," imbuhnya. 

Bagi Curacao, hasil ini menjadi jawaban atas keraguan setelah kekalahan telak dari Jerman. Sebelum laga melawan Ekuador, pelatih Dick Advocaat sebenarnya sudah menegaskan bahwa timnya masih bisa membuat kejutan pada pertandingan kedua dan ketiga.

"Pada akhirnya kami senang karena menjadi bagian dari turnamen sepak bola terbesar di dunia. Kami harus mengubah ini menjadi Piala Dunia yang indah. Kami masih bisa membuat kejutan pada pertandingan kedua dan ketiga," kata Advocaat setelah pertandingan melawan Jerman seperti dikutip Reuters pada Senin.

Pernyataan itu terbukti di Kansas City. Curacao tidak menang, tetapi mereka berhasil menahan Ekuador yang lebih diunggulkan dan datang dengan kebutuhan besar untuk meraih tiga poin.

Advocaat juga sebelumnya meminta para pemainnya tidak patah semangat setelah kekalahan dari Jerman. Ia menilai kekalahan besar dari salah satu tim terbaik dunia tidak boleh membuat Curacao kehilangan kebanggaan.

"Mereka sangat, sangat kuat dan kami kebobolan beberapa gol yang mudah. Para pemain tahu bahwa ketika kalah mereka tidak boleh patah semangat. Ini bukan sebuah aib," ujarnya.

Hasil melawan Ekuador juga memperlihatkan bahwa Curacao mampu memperbaiki struktur pertahanan dengan cepat. Setelah kebobolan tujuh gol dari Jerman, mereka tampil jauh lebih rapat, sabar, dan disiplin. Pertahanan lima bek membuat Ekuador kesulitan mencari ruang di kotak penalti.

Julian Nagelsmann, pelatih Jerman, sebelumnya juga sempat memuji Curacao meski tim tersebut kalah telak pada laga pembuka. Ia menilai Curacao tetap punya kemampuan bermain sepak bola dan menarik untuk diikuti perjalanannya di Grup E.

“Setelah mereka menyamakan kedudukan, kami membutuhkan beberapa menit untuk kembali mengendalikan permainan. Curacao juga bisa bermain sepak bola, seperti yang sudah kita lihat, dan saya penasaran melihat bagaimana mereka akan melanjutkan perjalanan di grup ini,” ujar Nagelsmann dalam laman FIFA pada Senin.

Di sisi lain, hasil imbang ini membuat situasi Ekuador semakin sulit. Mereka baru mengumpulkan satu poin dari dua pertandingan setelah sebelumnya kalah 0-1 dari Pantai Gading. Lebih mengkhawatirkan lagi, Ekuador belum mencetak satu gol pun di Piala Dunia 2026.

Ekuador Pastikan Perjuangan Belum Selesai

Pelatih Ekuador Sebastian Beccacece mengakui kegagalan mencetak gol menjadi hal yang menyakitkan bagi timnya. Meski begitu, ia menegaskan perjuangan Ekuador belum selesai.

“Tim ini sedang mencari setiap jalan untuk bisa maju. Tentu saja, tidak mampu mencetak gol malam ini adalah sesuatu yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Kami tidak mampu menghadirkan kegembiraan bagi tim, maupun bagi para pendukung kami," ucapnya. 

“Tapi hidup mengajarkan saya bahwa kita harus selalu terus bekerja, selalu belajar, dan tantangan bisa berubah menjadi peluang. Wajar jika sekarang kami merasakan sakit dan kekecewaan ini, tetapi ini belum berakhir," sambungnya. 

Sebelum pertandingan, Beccacece sebenarnya sudah mengingatkan para pemainnya agar tidak meremehkan Curacao meski lawan baru saja kalah besar dari Jerman. Ia menilai Ekuador perlu bermain penuh konsentrasi, disiplin secara taktik, dan mengambil keputusan dengan tepat sepanjang pertandingan.

Peringatan itu terbukti relevan. Curacao memang kalah kualitas individu, tetapi mampu menutup ruang dan bertahan dengan sangat keras kepala. Ekuador justru gagal menemukan solusi meski menciptakan peluang dalam jumlah besar.

Hasil ini juga memengaruhi peta Grup E. Jerman sudah memastikan tempat di babak 32 besar setelah menang 2-1 atas Pantai Gading dan mengoleksi enam poin dari dua laga. Pantai Gading berada di posisi kedua dengan tiga poin, sedangkan Ekuador dan Curacao sama-sama memiliki satu poin.

Dengan format Piala Dunia 2026 yang meloloskan dua tim teratas dari masing-masing grup serta delapan tim peringkat ketiga terbaik, peluang Ekuador dan Curacao secara matematis masih terbuka. Namun, keduanya wajib mengejar kemenangan pada laga terakhir.

Ekuador akan menghadapi Jerman pada Jumat 26 Juni 2026 WIB. Laga itu menjadi ujian berat karena Jerman sudah tampil kuat dan lebih dulu memastikan tiket fase gugur. Jika ingin menjaga peluang, Ekuador harus menang sambil berharap hasil pertandingan lain berpihak kepada mereka.

Curacao akan menantang Pantai Gading pada hari yang sama. Setelah meraih poin pertama, Curacao kini punya modal psikologis lebih baik untuk menghadapi laga hidup mati. Kemenangan atas Pantai Gading bisa membuka peluang mereka masuk hitungan menuju babak gugur, terutama melalui jalur peringkat ketiga terbaik.

Dari laga Ekuador melawan Curacao, pesan terbesarnya sederhana: dominasi statistik tidak selalu cukup. Ekuador menguasai bola, menciptakan banyak peluang, dan menekan hampir sepanjang laga. Namun, Curacao punya Room, pertahanan yang disiplin, dan mental yang tidak hancur setelah kekalahan besar.

Bagi Ekuador, hasil ini menjadi alarm keras sebelum bertemu Jerman. Mereka harus menemukan ketajaman dengan cepat. Bagi Curacao, satu poin di Kansas City menjadi sejarah yang mungkin akan dikenang lama: malam ketika tim debutan kecil dari Karibia menahan gempuran besar dan membuat Piala Dunia terasa lebih hidup.