Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan hasil penataan kawasan Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu. Ia meyakini koridor sepanjang 3,8 kilometer itu akan menjadi salah satu ikon baru Jakarta setelah tiang monorel mangkrak dibongkar, trotoar diperbaiki, dan kawasan dibuat lebih rapi.

“Saya yakin jalan ini akan menjadi landmark baru bagi Jakarta karena semua orang melihat sekarang jauh menjadi lebih tertata, lebih rapi, bahkan di ujung ada anggrek yang dipasang secara khusus,” kata Pramono di Jakarta, Minggu (21/6). 

Advertisement

Penataan Jalan H.R. Rasuna Said mencakup perbaikan trotoar, pembongkaran 109 tiang monorel, serta penyesuaian ketinggian elevasi antara jalur cepat dan jalur lambat. Total biaya penataan kawasan ini disebut mencapai sekitar Rp91 miliar.

Peresmian wajah baru Rasuna Said juga dilakukan bersamaan dengan penamaan Halte Setiabudi Integritas. Penamaan halte tersebut merupakan hasil kolaborasi Pemprov DKI Jakarta dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan PT Transjakarta sebagai simbol penguatan budaya antikorupsi di ruang publik strategis.

Bagi Pemprov DKI, Rasuna Said bukan sekadar jalan protokol. Kawasan ini merupakan salah satu koridor penting Jakarta yang menghubungkan pusat bisnis, perkantoran, simpul transportasi, dan ruang publik. Karena itu, penataan kawasan tersebut diposisikan sebagai bagian dari upaya memperbaiki wajah kota sekaligus meningkatkan kenyamanan mobilitas warga.

Pramono menjelaskan penataan kawasan Halte Setiabudi Integritas tidak menggunakan APBD. Pembiayaan dilakukan melalui skema kreatif berupa hak penamaan atau naming rights serta pendapatan iklan.

“Pembiayaannya sepenuhnya dari naming rights dan iklan yang ada. Ini cara Jakarta membangun kotanya, tidak semata-mata bergantung pada APBD tetapi kami beri kesempatan kepada naming rights,” kata Pramono.

Skema ini menjadi salah satu poin penting dalam penataan Rasuna Said. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berupaya menunjukkan bahwa pembangunan fasilitas publik dapat dilakukan dengan memanfaatkan sumber pembiayaan alternatif, sepanjang tetap dikelola secara transparan dan memberi manfaat bagi warga.

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengatakan, pembongkaran 109 tiang monorel di kawasan tersebut rampung dalam waktu satu bulan. Setelah pembongkaran, Dinas Bina Marga melanjutkan penataan jalan dan trotoar agar kawasan menjadi lebih tertib dan nyaman.

“Selanjutnya, kami melakukan penataan Jalan Rasuna Said dan trotoarnya. Kami tata,” kata dia.

Pembongkaran tiang monorel menjadi bagian paling simbolik dari perubahan wajah Rasuna Said. Selama bertahun-tahun, tiang-tiang proyek monorel yang mangkrak berdiri di tengah jalan dan kerap dianggap mengganggu estetika kawasan. Setelah dibongkar, ruang jalan menjadi lebih terbuka untuk ditata ulang.

Koridor Kuningan Dengan Wajah yang Rapi

Sebelum penataan rampung, Pramono memang telah menargetkan pembongkaran tiang monorel dan penataan Jalan H.R. Rasuna Said selesai sebelum HUT ke-499 Jakarta. Ia ingin kawasan Kuningan memiliki wajah yang lebih rapi dan mendekati suasana koridor Sudirman-Thamrin.

“Mudah-mudahan, sebelum tanggal 22 Juni tahun ini, Jakarta untuk Kuningan ini kurang lebih nanti hampir sama dengan Sudirman-Thamrin. Ada pedestrian, ada tempat untuk selokan dan taman yang lebih baik,” ungkap Pramono.

Sebelumnya, Pramono juga sempat meluruskan, anggaran yang disiapkan bukan hanya untuk membongkar tiang monorel, melainkan untuk penataan kawasan secara menyeluruh. Artinya, pekerjaan tidak berhenti pada membongkar struktur lama, tetapi juga memperbaiki kualitas jalan, trotoar, taman, dan elemen pendukung lainnya.

"Saya juga ingin meluruskan dalam kesempatan ini Rp100 miliar yang dikeluarkan itu bukan hanya untuk membongkar, tetapi untuk membuat jalan, trotoar, merapikan dan sebagainya biaya keseluruhan untuk memperbaiki jalan Rasuna Said itu angkanya Rp100 miliar. Jadi bukan hanya bongkar, kalau bongkar kecil bangetlah," kata Pramono.

Dalam prosesnya, pembongkaran tiang monorel dilakukan secara bertahap agar tidak mengganggu aktivitas warga. Dinas Perhubungan DKI Jakarta sebelumnya menyampaikan pembongkaran dilakukan pada malam hari pukul 23.00 hingga 05.00 WIB. Skema ini dipilih untuk mengurangi potensi kemacetan dan gangguan lalu lintas pada jam sibuk.

Setelah kawasan ditata, Pemprov DKI juga mulai menghidupkan kembali fungsi ruang publik di Rasuna Said. Salah satunya melalui penyelenggaraan Hari Bebas Kendaraan Bermotor atau car free day (CFD) di kawasan tersebut.

Pemprov DKI sebelumnya melakukan evaluasi sebelum CFD Rasuna Said digelar rutin. Evaluasi mencakup kesiapan infrastruktur jalan pascarevitalisasi, pengaturan lalu lintas, akses keluar-masuk kawasan, fasilitas pendukung, keamanan, kebersihan, dan dampak terhadap kenyamanan warga sekitar.

“Evaluasi dampak terhadap mobilitas dan kenyamanan warga sekitar, manajemen keramaian serta kebersihan juga telah dilakukan,” jelas Chico.

Chico menjelaskan CFD Rasuna Said dibuat lebih singkat dibandingkan CFD Sudirman-Thamrin karena mempertimbangkan karakter kawasan perkantoran dan aktivitas warga.

“Waktu pelaksanaan sengaja dibuat lebih singkat dibandingkan CFD Sudirman-Thamrin karena mempertimbangkan aktivitas masyarakat dan kantor di sekitar kawasan yang mulai ramai pukul 10.00 WIB,” ujar Chico.

Dengan adanya penataan jalan, trotoar, ruang hijau, dan kegiatan CFD, Rasuna Said diarahkan menjadi kawasan yang tidak hanya berfungsi sebagai jalur kendaraan, tetapi juga ruang aktivitas warga. Ini sejalan dengan arah pembangunan kota modern yang memberi ruang lebih besar bagi pejalan kaki, transportasi publik, dan kegiatan komunitas.

Rangkaian HUT ke-499 Jakarta

Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah Provinsi DKI Jakarta sekaligus Ketua Panitia HUT ke-499 Kota Jakarta Suharini Eliawati mengatakan, peresmian kawasan ini menjadi bagian dari perayaan hari jadi Jakarta. Menurut dia, kegiatan tersebut juga menunjukkan langkah konkret pembangunan yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat.

“Melalui penataan kawasan, penguatan budaya peduli lingkungan, serta pembangunan infrastruktur yang terintegrasi, kami ingin menghadirkan kota yang semakin nyaman, modern, dan berdaya saing bagi seluruh warga,” kata dia.

Dalam rangkaian HUT ke-499 Jakarta, Pemprov DKI juga memperkenalkan sejumlah agenda lain, termasuk gerakan pilah sampah dari rumah, pembangunan pedestrian deck Dukuh Atas, serta pemanfaatan akses baru menuju JIS-Ancol. Pramono mengajak warga ikut menikmati sekaligus menjaga wajah baru kota.

“Saya mengajak seluruh warga menikmati wajah baru Jakarta. Mari datang ke Rasuna Said yang semakin tertata, mulai memilah sampah dari rumah melalui gerakan Jaga Jakarta, menyambut pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas, serta memanfaatkan akses baru menuju JIS–Ancol. Jakarta yang maju bukan hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi dijaga bersama oleh seluruh warganya,” ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung.

Meski demikian, pekerjaan Pemprov DKI tidak berhenti setelah peresmian. Kawasan yang baru ditata perlu dijaga agar tidak kembali semrawut. Trotoar harus tetap ramah pejalan kaki, jalur kendaraan tidak boleh kembali dipenuhi hambatan, dan ruang publik harus dirawat secara konsisten.

Penataan Rasuna Said juga akan diuji dari sisi keberlanjutan pengelolaan. Jika naming rights dan iklan digunakan sebagai sumber pembiayaan, Pemprov DKI perlu memastikan skema tersebut tidak mengorbankan estetika kota, keselamatan, maupun hak warga atas ruang publik yang nyaman.

Di sisi lain, pembongkaran tiang monorel menjadi pelajaran penting bagi Jakarta. Proyek infrastruktur yang tidak selesai dapat meninggalkan beban visual, hukum, dan tata ruang selama bertahun-tahun. Karena itu, setiap proyek baru harus dirancang dengan perencanaan matang, pendanaan jelas, serta pengawasan ketat agar tidak meninggalkan masalah serupa.

Dengan penataan sepanjang 3,8 kilometer, pembongkaran 109 tiang monorel, dan integrasi dengan halte serta ruang publik, Rasuna Said kini memasuki fase baru. Dari kawasan yang sempat identik dengan proyek mangkrak, koridor ini sedang diarahkan menjadi wajah kota yang lebih rapi, modern, dan ramah aktivitas warga.

Jika konsistensi perawatan dapat dijaga, keyakinan Pramono bahwa Rasuna Said menjadi ikon baru Jakarta bukan hal yang berlebihan. Namun, ukuran keberhasilannya tidak hanya terletak pada peresmian dan tampilan baru, melainkan pada bagaimana kawasan itu benar-benar memberi kenyamanan bagi warga setiap hari.