periskop.id - Pertandingan kedua Grup L Piala Dunia 2026 yang mempertemukan Inggris vs Ghana di Boston Stadium berakhir dengan skor kacamata 0-0.
Thomas Tuchel yang datang dengan modal kemenangan impresif 4-2 atas Kroasia harus menerima kenyataan pahit bahwa penguasaan bola absolut tidak menjamin lahirnya gol.
Di sisi lain, Carlos Queiroz bersama Ghana mendemonstrasikan sebuah mahakarya pertahanan (defensive masterclass) yang membuat lini serang bertabur bintang milik The Three Lions frustrasi sepanjang 90 menit.
Sejak peluit pertama dibunyikan, Inggris langsung mengambil kendali permainan. Mengandalkan formasi 4-2-3-1, sirkulasi bola yang digalang oleh Declan Rice dan Elliot Anderson mengurung lini pertahanan Ghana.
Tercatat pada babak pertama, Inggris memegang kendali aliran bola hingga 86%, sebuah angka yang sangat jomplang untuk level Piala Dunia.
Namun, penguasaan bola tersebut bersifat steril. Ghana menerapkan skema low block yang sangat rapat dan disiplin tinggi.
Dipimpin oleh Thomas Partey di lini tengah serta kuartet bek yang solid, ruang gerak Jude Bellingham dan Harry Kane ditutup rapat.
Inggris bahkan gagal mencatatkan satu pun tembakan tepat sasaran (shot on target) di paruh pertama.
Memasuki babak kedua, Tuchel mencoba meningkatkan intensitas serangan dengan memasukkan Bukayo Saka dan Marcus Rashford. Peluang emas baru tercipta menjelang akhir laga.
Di menit ke-86, Tendangan melengkung kaki kiri Bukayo Saka berhasil ditepis dengan gemilang oleh kiper pengganti Ghana, Benjamin Asare.
Tak lama berselang, Sundulan pemain pengganti Nico O'Reilly membentur mistar gawang. Bola rebound jatuh ke kaki Harry Kane, namun sepakannya justru melambung di atas mistar.
Meski ditahan imbang, langkah Inggris maupun Ghana untuk melaju ke babak 32 besar masih berada di jalur yang aman. Kedua tim kini sama-sama mengoleksi 4 poin dari dua pertandingan.
Inggris hanya membutuhkan hasil imbang di laga pamungkas fase grup melawan Panama di MetLife Stadium untuk mengunci tiket lolos ke fase gugur, sekaligus menjaga ambisi Thomas Tuchel untuk keluar sebagai juara Grup L.
Sementara Ghana membuktikan bahwa peringkat FIFA (73) hanyalah angka di atas kertas ketika organisasi dan kedisiplinan taktik diterapkan dengan sempurna di atas lapangan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar