periskop.id - Anggota Komisi VIII DPR RI, Maman Imanulhaq menegaskan perlindungan terhadap perempuan dan anak wajib menjadi tanggung jawab kolektif seluruh elemen bangsa. Keamanan kelompok rentan ini dinilai tidak bisa hanya dibebankan pada satu pihak saja.
Ia menyampaikan hal tersebut demi merespons kasus penyekapan seorang perempuan di Bandung yang diduga terjadi selama tiga tahun. Menurutnya, tindakan kriminal yang diduga dilakukan oleh orang terdekat korban itu sangat mencederai rasa kemanusiaan.
“Kasus ini ibarat gunung es. Perempuan masih sangat rentan menjadi korban kekerasan, termasuk oleh orang-orang terdekatnya sendiri. Karena itu Komisi VIII meminta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak memberikan perhatian serius terhadap kasus ini,” ujar Maman dalam keterangannya kepada Parlementaria di Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Politisi Fraksi PKB ini menyatakan bahwa peristiwa tragis tersebut tidak boleh dianggap sebagai kriminalitas biasa. Insiden ini disebutnya telah menyisakan trauma fisik sekaligus psikologis yang sangat mendalam bagi korban.
Maman menilai perkara panjang ini menjadi bukti konkret masih rapuhnya sistem proteksi dini di masyarakat. Akibatnya, rantai kekerasan gagal dideteksi dan dicegah sejak awal sebelum dampaknya meluas.
Oleh karena itu, ia mengaku telah meminta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) memberikan atensi khusus. Penanganan kasus ini menurutnya harus berjalan optimal dan tuntas.
Di sisi lain, langkah sigap aparat penegak hukum dalam menangani perkara langsung mendapat apresiasi darinya. Respons cepat Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memburu pelaku juga dipuji oleh Maman.
Namun, ia mengingatkan bahwa masa penyekapan yang sangat lama tanpa ketahuan ini wajib menjadi bahan evaluasi total. Kepekaan sosial publik dianggapnya perlu ditingkatkan secara masif.
Masyarakat dimintanya untuk lebih peduli apabila ada tetangga atau kerabat yang mendadak hilang secara mencurigakan. Kepedulian lingkungan dinilai menjadi kunci utama pencegahan kejahatan serupa.
“Jangan sampai ada keluarga atau orang terdekat yang menghilang begitu lama tetapi tidak ada laporan sama sekali. Edukasi kepada masyarakat menjadi penting agar mereka menjadi garda terdepan dalam melindungi anggota keluarganya,” katanya.
Selanjutnya, ia mendesak adanya penguatan sistem keamanan perempuan dan anak lewat program edukasi publik yang gencar. Sinergi antara pemerintah, aparat, dan organisasi sipil disebutnya sebagai harga mati.
“Komisi VIII meminta penguatan sistem perlindungan terhadap perempuan dan anak, peningkatan edukasi kepada masyarakat, serta sinergi yang lebih kuat antara aparat penegak hukum, pemerintah, dan civil society agar kasus serupa tidak kembali terjadi,” tegasnya.
Selain aspek hukum, Maman menekankan pembangunan ketahanan keluarga sebagai pilar pertahanan paling mendasar. Komunikasi yang sehat dalam rumah tangga dinilai efektif mengendus potensi ancaman lebih awal.
Pada akhir keterangannya, ia berharap tragedi di Bandung ini menjadi momentum perbaikan regulasi perlindungan secara menyeluruh. Hak rasa aman bagi setiap warga negara ditegaskannya harus dijamin penuh oleh negara.
“Jangan sampai kejadian ini berulang. Hentikan kekerasan oleh siapa pun, kepada siapa pun, dan atas nama apa pun. Melindungi perempuan dan anak harus menjadi tanggung jawab bersama seluruh komponen bangsa,” pungkas Maman.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar