periskop.id - Hari Ibu bukan sekadar seremoni. Ia adalah perayaan tentang ketangguhan batin, keberanian, dan kemampuan seseorang bangkit dari titik terendah tanpa menyerah. Tahun ini, jika ada satu sosok yang mengajarkan makna resiliensi secara nyata, mata kita pasti tertuju pada Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara yang kini berdiri sebagai simbol harapan dan inspirasi di tanah air.

Kepemimpinan Lahir dari Duka di Maluku Utara

Sabtu, 12 Oktober 2024, menjadi tanggal yang tertulis dalam sejarah dan politik Maluku Utara. Sebuah insiden tragis terjadi ketika speedboat Bella 72 mengalami kebakaran saat berada di Pelabuhan Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu. Akibatnya, Calon Gubernur Maluku Utara, Benny Laos, meninggal dunia di tengah kampanye politiknya. Enam orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam peristiwa itu.

Tragedi itu juga menghentikan langkah politiknya di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Maluku Utara 2024 dan mengguncang keluarga yang ditinggalkannya. Bagi Sherly, peristiwa ini bukan hanya sedih, tapi menghantam seluruh sendi kehidupan, dari peran pribadi sebagai istri dan ibu, hingga visi yang selama ini mereka jalankan bersama. Sherly sendiri turut menjadi korban dalam kecelakaan itu dan sempat menerima perawatan.

Bagi kebanyakan orang, tragedi seperti itu mungkin akan menjadi alasan untuk mundur, berduka, dan menarik diri dari kehidupan publik. Itu sangat manusiawi. Namun, di sinilah letak perbedaan antara seorang ibu biasa dan seorang ibu pejuang.

Dalam waktu kurang dari dua minggu setelah tragedi, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Maluku Utara menetapkan Sherly sebagai Calon Gubernur Maluku Utara menggantikan mendiang suaminya, setelah seluruh persyaratan dipenuhi melalui pleno pada 23 Oktober 2024. 

Keputusan ini bukan hanya tentang politik, itu adalah momen simbolik yang menunjukkan bagaimana seorang perempuan mampu menyulut kembali harapan di tengah duka. Sherly mengambil alih visi yang sempat tertunda, berdiri di tempat yang sama dengan suaminya, tetapi dengan beban yang jauh lebih berat.

Ketika Naluri Seorang Single Parent Menjadi Arah Kepemimpinan 

Sebagai ibu dari tiga anak, Edbert, Edelyn, dan Edrick, Sherly harus menghadapi kenyataan pahit, menenangkan anak-anak yang kehilangan ayah dan sekaligus meyakinkan pendukung yang terpukul oleh tragedi tersebut.

Perjalanannya mengajarkan kita bahwa air mata seorang ibu bukanlah tanda kelemahan. Justru dalam banyak kasus, air mata itu menjadi sumber kekuatan untuk bangkit dan terus berjalan. Sherly tidak membiarkan visi suaminya karam bersama kapal yang terbakar, ia mengambil alih kemudi perjuangan itu dan membawanya ke hadapan rakyat Maluku Utara.

Kehadiran Sherly di kancah politik yang selama ini didominasi oleh figur laki-laki membawa nuansa kepemimpinan yang lebih lembut, tapi tegas. Apa yang dilakukan Sherly ini selaras dengan konsep maternal thinking yang digagas oleh filsuf Sara Ruddick. Ruddick menekankan bahwa maternal thinking memadukan akal, emosi, dan cinta dalam pengambilan keputusan karena seorang ibu terbiasa menghadapi kebutuhan yang konkret dan sering kali saling bertentangan. Pola pikir ini relevan tidak hanya dalam keluarga, tetapi juga dalam konteks sosial dan politik.

Dengan bekal naluri tersebut, Sherly terbiasa memaknai tangisan tanpa suara, membaca getaran emosi yang tak terucap, dan memahami apa yang sebenarnya dibutuhkan orang-orang di sekitarnya. Kemampuan ini ia bawa ke dalam strategi kepemimpinannya untuk mendengar, merangkul, dan membangun kembali harapan rakyat.

Kisah Sherly sangat relevan untuk kita renungkan pada Hari Ibu. Hari ini bukan sekadar tentang bunga, hadiah, atau pujian, tetapi tentang ketahanan, tentang keberanian untuk bangkit ketika hidup memberikan pukulan paling keras.

Ia bukan lagi sekadar istri dari Benny Laos. Ia berdiri sebagai Sherly, seorang ibu, perempuan yang bangkit dari duka, dan seorang pemimpin yang berani memikul beban besar demi masa depan anak-anaknya dan masyarakat Maluku Utara.