periskop.id - Hari Ibu tahun ini datang di tengah tekanan harga kebutuhan pokok yang masih membayangi rumah tangga. Bagi ibu-ibu milenial dan Gen Z, yang rata-rata berada pada fase awal membangun keluarga, kenaikan harga bukan sekadar isu ekonomi, tetapi persoalan harian yang langsung terasa di meja makan.
Kenaikan harga paling kentara dirasakan pada kebutuhan pangan. Telur, ayam, bawang, dan sayur menjadi komoditas yang paling sering disesuaikan dalam belanja harian. Alvinia (30) menggambarkan perubahan ini bukan dari lonjakan harga semata, melainkan dari porsi belanja yang semakin menyusut meski nominal yang dikeluarkan tetap.
“Yang biasanya seribu bisa dapat banyak, sekarang porsinya berkurang tapi harganya tetap,” kata Alvinia kepada Periskop, Senin (22/12).
Situasi tersebut memaksa ibu-ibu melakukan penyesuaian menu. Protein hewani mulai lebih jarang muncul di meja makan dan digantikan dengan sumber protein yang lebih terjangkau. Meski kerap disertai keluhan, kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.
“Kalau harga naik mau gimana pun tetap dibeli, paling disiasati lebih sering masak tahu dan tempe,” ujar Alvinia.
Di sisi lain, Meriana (33) menilai ruang untuk menyiasati belanja semakin sempit. Dalam kondisi seperti ini, penyesuaian lebih banyak dilakukan pada sisi mental dan ekspektasi.
“Di situasi seperti ini, disiasati dengan lebih ikhlas saja,” katanya.
Tekanan harga juga berdampak pada pengeluaran non primer. Rekreasi dan jajan menjadi pos yang paling cepat dikorbankan agar kebutuhan dapur tetap aman. Bagi Alvinia dan Meriana, rekreasi bukan lagi prioritas.
Dihubungi secara terpisah, Cinta (30), merasakan tekanan terbesar saat ini dari kebutuhan anak, khususnya susu. Dalam situasi tertentu, ia mengandalkan dukungan keluarga untuk menutup kebutuhan yang tidak bisa ditunda.
“Yang paling kerasa itu susu anak, karena ada alergi” kata Cinta.
Kondisi keuangan yang semakin ketat membuat sebagian ibu terpaksa mencari opsi darurat. Penggunaan layanan beli sekarang bayar nanti (buy now pay later/BNPL) atau pay later bahkan utang, pernah menjadi jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan harian.
“Pernah banget pakai pay later,” ujar Cinta singkat. Rupanya, opsi ini juga diamini oleh Alvinia dan Meriana yang juga pernah memanfaatkan fasilitas tersebut.
Di balik semua penyesuaian itu, beban terberat justru muncul saat harus mengatur keuangan dengan kondisi pemasukan yang terbatas. Tantangannya bukan hanya menghitung angka, tetapi menjaga kestabilan rumah tangga di tengah keterbatasan.
“Yang paling berat itu ngatur uang yang memang nggak ada (uangnya),” imbuh Meriana terkekeh.
Tinggalkan Komentar
Komentar