Periskop.id - Setiap tanggal 22 Desember, masyarakat Indonesia merayakan Hari Ibu sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi perempuan dalam keluarga dan bangsa. Namun, di balik momentum perayaan ini, terdapat indikator kesehatan krusial yang harus terus menjadi perhatian bersama, yaitu Angka Kematian Ibu (AKI). 

Indikator ini merupakan cermin keberhasilan program kesehatan ibu sekaligus tolok ukur derajat kesehatan masyarakat secara umum.

Kematian ibu didefinisikan sebagai seluruh kasus kematian yang terjadi selama periode kehamilan, persalinan, hingga masa nifas. Kematian ini disebabkan oleh pengelolaan medis selama periode tersebut, bukan karena faktor eksternal seperti kecelakaan. 

AKI sendiri dihitung berdasarkan rasio kematian ibu di setiap 100.000 kelahiran hidup.

Tren Penurunan dan Fluktuasi Data Nasional

Hingga saat ini, data AKI di Indonesia didapatkan melalui survei dan sensus oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Berdasarkan catatan sejarah, terjadi penurunan yang cukup signifikan dari tahun 1991 hingga 2020. 

Pada tahun 1991, AKI berada pada angka 390 dan menyusut menjadi 189 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2020. Capaian ini hampir memenuhi target RPJMN 2019 hingga 2024 yang ditetapkan sebesar 183.

Angka kematian ibu (AKI) Indonesia tahun 1991-2020. Grafis dibuat oleh Periskop.

Namun, data pencatatan program kesehatan keluarga di Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan dinamika yang berfluktuasi. Pada tahun 2021, angka kematian sempat melonjak hingga 7.389 kasus, sebelum akhirnya melandai. Pada tahun 2024, tercatat jumlah kematian ibu sebanyak 4.150 jiwa. 

Penurunan dari tahun 2023 ke 2024 memberikan secercah harapan, meskipun upaya percepatan tetap mendesak dilakukan untuk mencapai target SDGs sebesar 70 pada tahun 2030.

Jumlah kematian ibu tahun 2019-2024. Grafis dibuat oleh Periskop.

Faktor Penyebab

Data tahun 2024 mengungkapkan fakta bahwa penyebab utama kematian ibu bukan lagi sekadar masalah teknis persalinan, melainkan penyakit penyerta atau komplikasi nonobstetrik. Komplikasi ini mencatat 1.351 kasus, yang meliputi gangguan metabolisme seperti penyakit jantung, obesitas, dan diabetes mellitus.

Penyebab terbesar berikutnya adalah hipertensi dalam kehamilan, persalinan, dan nifas dengan 988 kasus, serta perdarahan obstetrik sebanyak 955 kasus. 

Penyebab kematian ibu tahun 2024. Grafis dibuat oleh Periskop.

Perdarahan obstetrik merupakan kondisi medis serius berupa perdarahan signifikan yang mengancam jiwa ibu dan janin, sering kali dipicu oleh masalah pada plasenta atau rahim. Selain itu, infeksi terkait kehamilan dan komplikasi abortus juga masih menjadi kontributor dalam daftar penyebab kematian ibu di Indonesia.

Posisi Indonesia di Mata Dunia

Bagaimana kondisi kesehatan ibu kita dibandingkan dengan negara lain? Laporan World Health Organization (WHO) bertajuk “Trends in Maternal Mortality Estimates 2000 to 2023” menempatkan Indonesia dalam daftar lima negara yang mencatat kematian ibu di atas 5.000 kasus pada tahun 2023. Secara berurutan, posisi tersebut ditempati oleh Ethiopia, Afghanistan, Tanzania, Indonesia, dan Chad.

Estimasi angka kematian ibu Indonesia oleh WHO tahun 2000-2023. Grafis dibuat oleh Periskop.

Berdasarkan estimasi WHO, AKI Indonesia berada di angka 140 pada tahun 2023. Meskipun angka ini terus menurun secara konsisten dari angka 311 pada tahun 2000, posisi Indonesia di Asia Tenggara masih tergolong mengkhawatirkan. Indonesia menjadi negara dengan AKI tertinggi ketiga di ASEAN, berada di bawah Timor Leste (192) dan Myanmar (185).

Angka kematian ibu di Asia Tenggara (ASEAN) tahun 2023. Grafis dibuat oleh Periskop.

WHO juga memberikan estimasi risiko kematian ibu seumur hidup (lifetime risk of maternal death) di Indonesia sebesar 377. Angka ini menggambarkan probabilitas seorang anak perempuan berusia 15 tahun pada tahun estimasi akan meninggal akibat penyebab terkait kehamilan di masa depan.

Komitmen Pemerintah Menuju 2029

Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusan dalam memperbaiki derajat kesehatan ibu. Dalam RPJMN 2025 hingga 2029, target penurunan AKI telah ditetapkan secara ambisius. Pada tahun 2025, AKI ditargetkan berada pada posisi 122 dan diharapkan terus ditekan hingga mencapai angka 77 pada tahun 2029.

Di momentum Hari Ibu ini, data-data tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap ibu hamil adalah tanggung jawab kolektif. Peningkatan kualitas pelayanan, akses kesehatan yang merata, serta kesadaran terhadap kesehatan metabolisme ibu menjadi kunci utama agar tidak ada lagi nyawa yang hilang dalam perjuangan melahirkan generasi penerus bangsa.