Iklan
Sisterhood

Mental Load: Beban Tak Terlihat Perempuan di Balik Tenangnya Rumah Tangga

Mental load membuat ibu bukan hanya mengerjakan urusan rumah, tetapi juga terus memikirkan, mengatur, dan mengantisipasi kebutuhan keluarga.

Mental Load: Beban Tak Terlihat Perempuan di Balik Tenangnya Rumah Tangga
Ilustrasi mental load pada ibu. AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Seorang ibu bisa saja tidak sedang mencuci pakaian, memasak, atau mengantar anak ke sekolah. Namun, pikirannya tetap bekerja.

Ia mengingat stok susu yang hampir habis, jadwal pembayaran tagihan, seragam anak untuk esok hari, jadwal dokter, kebutuhan sekolah, sampai menu makan malam. Sebagian pekerjaan itu mungkin tidak pernah terlihat sebagai aktivitas fisik. Tetapi semuanya membutuhkan perhatian.

Inilah yang disebut mental load.

Mental load merujuk pada beban kognitif dan emosional yang muncul ketika seseorang harus terus memikirkan, merencanakan, mengatur, mengantisipasi, dan memantau berbagai kebutuhan rumah tangga dan keluarga.

Bukan Sekadar Pekerjaan Rumah

Mental load berbeda dengan pekerjaan rumah secara fisik.

Mencuci pakaian adalah pekerjaan fisik. Namun mengingat bahwa pakaian anak harus dicuci malam ini karena besok akan dipakai, memastikan deterjen masih tersedia, memilih pakaian yang harus dicuci lebih dulu, kemudian mengingat untuk menjemurnya, merupakan bagian dari pekerjaan kognitif.

Begitu pula dengan urusan anak. Mengantar anak ke sekolah adalah pekerjaan yang terlihat. Mengingat jadwal sekolah, mengetahui kapan ada kegiatan khusus, memastikan perlengkapan tersedia, dan mengantisipasi kebutuhan anak merupakan pekerjaan yang lebih sulit dilihat.

Karena berlangsung di dalam pikiran, pekerjaan ini sering dianggap bukan pekerjaan.

Padahal, penelitian tentang cognitive household labor menunjukkan bahwa pekerjaan merencanakan, mengantisipasi kebutuhan, dan mengatur kehidupan keluarga merupakan bagian penting dari kerja domestik yang tidak terlihat. 

Mengapa Ibu Sering Menanggung Lebih Banyak?

Mental load tidak hanya dialami perempuan. Ayah juga bisa mengalaminya. Namun, berbagai penelitian menunjukkan adanya pola pembagian yang tidak seimbang.

Sebuah studi terhadap 322 ibu dengan anak kecil menemukan bahwa ibu melaporkan mengambil porsi pekerjaan domestik yang lebih besar dibanding pasangan. Ketimpangannya terlihat lebih jelas pada pekerjaan kognitif dibanding pekerjaan fisik. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa pembagian pekerjaan kognitif yang tidak seimbang berkaitan dengan stres, burnout, kesehatan mental, dan kualitas hubungan yang lebih buruk pada ibu.

Penelitian lain terhadap 3.000 orang tua di Amerika Serikat menemukan pola yang sedikit lebih spesifik. Ibu lebih banyak menangani pekerjaan kognitif rutin yang berkaitan dengan kesejahteraan keluarga sehari-hari, sementara ayah relatif lebih banyak menangani pekerjaan yang sifatnya episodik, terutama terkait pemeliharaan rumah dan keuangan. 

Artinya, persoalannya bukan sekadar siapa yang paling sering memegang sapu atau siapa yang lebih banyak mencuci piring.

Persoalannya adalah siapa yang merasa bertanggung jawab agar semua urusan tetap berjalan.

Di banyak keluarga, pembagian pekerjaan terlihat sudah cukup adil. Suami mencuci piring. Istri memasak. Suami mengantar anak. Istri mencuci pakaian.

Namun pembagian tersebut belum tentu membagi mental load secara seimbang.

Jika istri tetap menjadi orang yang harus mengatakan kapan piring harus dicuci, mengingat kapan anak harus diantar, membuat daftar belanja, menentukan menu, dan memastikan semua kebutuhan tersedia, sebagian besar pekerjaan kognitif masih berada di tangannya.

Karena itu, kalimat seperti “tinggal bilang kalau butuh bantuan” kadang tidak menyelesaikan masalah.

Sebab, untuk meminta bantuan pun seseorang harus lebih dulu menyadari bahwa ada pekerjaan yang perlu dilakukan, memikirkan cara melakukannya, kemudian mengomunikasikannya kepada orang lain.

Dalam posisi tersebut, pasangan bukan sepenuhnya berbagi tanggung jawab. Salah satu orang tetap menjadi pengelola, sementara yang lain menjadi pelaksana.

Beban yang Tidak Selalu Terlihat

Mental load menjadi persoalan ketika daftar pekerjaan di kepala tidak pernah benar-benar selesai.

Tidak ada jam pulang dari pekerjaan domestik. Setelah anak tidur, masih ada pakaian yang perlu disiapkan. Setelah pekerjaan selesai, muncul kebutuhan lain yang harus dipikirkan untuk esok hari.

Bagi ibu yang juga bekerja, bebannya dapat bertambah karena pekerjaan berbayar dan pekerjaan domestik berjalan bersamaan.

Penelitian terhadap orang tua juga menemukan bahwa ibu melakukan lebih banyak pekerjaan kognitif selama pandemi dan bahwa tingginya pekerjaan kognitif berkaitan dengan kesejahteraan psikologis ibu yang lebih rendah. 

Karena itu, memahami mental load bukan berarti menyebut ibu sebagai pihak yang selalu paling terbebani atau menganggap ayah tidak berkontribusi. Yang lebih penting adalah melihat jenis tanggung jawab yang dibagi.

Membagi pekerjaan rumah berarti membagi siapa yang mencuci, memasak, atau mengantar anak. Membagi mental load berarti membagi pula siapa yang mengingat, merencanakan, mengambil keputusan, mengantisipasi, dan memastikan pekerjaan tersebut berjalan.

Di situlah pembagian peran di dalam rumah menjadi lebih dari sekadar menghitung jumlah pekerjaan.

Sebab, ada pekerjaan yang terlihat ketika dilakukan dengan tangan, tetapi ada pula pekerjaan yang terus berlangsung di kepala.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Rumah Tangga, dan perempuan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.