periskop.id - Pernah merasa frustrasi saat mencari jawaban di internet, tapi yang muncul hanyalah artikel aneh, video absurd, atau gambar yang tidak masuk akal? Anda mungkin sedang menghadapi fenomena baru bernama Artificial Intelligence (AI) Slop, konten digital berkualitas rendah yang dibuat massal oleh kecerdasan buatan, di mana kuantitas selalu menang atas kualitas. Dari YouTube hingga Google, AI Slop kini membanjiri dunia maya, memengaruhi cara kita mengonsumsi informasi dan bahkan masa depan AI itu sendiri.

Apa Itu AI Slop

AI slop adalah konten digital berkualitas rendah yang dibuat menggunakan AI secara cepat, massal, dan minim nilai informatif. Istilah ini dipilih sebagai Word of the Year 2025 oleh Merriam‑Webster untuk fenomena konten AI generik, video absurd, gambar aneh, dan berita palsu. AI slop mencakup berbagai jenis media generatif yang ditandai oleh fokus pada kuantitas daripada kualitas, dan sering kali diproduksi tanpa pengawasan manusia yang memadai. 

Fenomena ini semakin terlihat di YouTube. Konten AI berkualitas rendah (slop) muncul sekitar 20% dari rekomendasi video untuk pengguna baru. Kanal-kanal yang membagikan konten seperti ini bisa mendapatkan miliaran tayangan dan pendapatan besar hanya karena algoritma yang mendorong konten tersebut.

Banjir Konten Sampah dan Misi Bersih-Bersih Google

Dalam beberapa tahun terakhir, internet dipenuhi dengan konten berkualitas rendah, termasuk artikel dan video yang dibuat secara massal menggunakan AI. Banyak konten ini tidak memberikan informasi yang berguna, tetapi dibuat hanya untuk menarik klik atau menaikkan peringkat di mesin pencari. Fenomena ini sering disebut sebagai praktik “SEO hitam”, di mana pelaku menggunakan AI seperti ChatGPT untuk menghasilkan ribuan artikel yang menargetkan kata kunci tertentu, meskipun isinya minim nilai bagi pembaca.

Masalah ini membuat pengalaman pengguna menjadi terganggu karena saat mencari jawaban di Google, halaman pertama sering kali didominasi oleh konten yang kurang relevan atau bahkan menyesatkan. Menyadari hal ini, Google merespons dengan merilis March 2024 Core Update, sebuah pembaruan algoritma besar yang dirancang untuk membersihkan hasil pencarian dari konten berkualitas rendah. Google memperkirakan bahwa pembaruan ini dapat menghapus hingga 40% konten yang tidak orisinal atau dibuat semata untuk manipulasi peringkat, termasuk konten AI yang diproduksi massal.

Meskipun begitu, fenomena konten massal tidak hilang begitu saja. Banyak situs baru yang muncul dengan taktik serupa sehingga konten asli dan berkualitas buatan manusia harus bersaing lebih ketat untuk mendapatkan peringkat yang layak di hasil pencarian. 

Hampir 50% Penghuni Internet Bukan Manusia

Jika rusaknya Google belum cukup menakutkan, mari kita beralih ke media sosial. Pernah melihat postingan gambar AI yang aneh (seperti anak kecil merakit pesawat dari botol plastik) di Facebook, lalu kolom komentarnya penuh dengan pujian "Amin" atau "Hebat"? Besar kemungkinan, itu bukan interaksi manusia.

Fenomena ini memperkuat apa yang disebut Dead Internet Theory, sebuah teori konspirasi yang kini makin terasa nyata. Teori ini menyatakan bahwa sebagian besar aktivitas di internet sebenarnya dilakukan oleh bot, bukan manusia.

Dalam kasus AI Slop, terjadi siklus yang aneh.

  1. Bot A membuat gambar menggunakan AI.
  2. Bot B (yang diprogram untuk meningkatkan engagement) memberikan komentar pujian.
  3. Algoritma media sosial menganggap konten itu populer, lalu menyodorkannya ke beranda kita.

Laporan dari Imperva dalam Bad Bot Report menyebutkan bahwa hampir setengah dari lalu lintas internet global (sekitar 49,6%) berasal dari bot. Ketika bot saling berbicara dengan bot, ruang bagi interaksi manusia yang autentik menjadi semakin sempit. Kita perlahan menjadi penonton di internet yang mati.

Model Collapse: Saat AI Perlahan Bunuh Diri dengan Datanya Sendiri

Ironisnya, AI Slop tidak hanya merusak pengalaman manusia, tetapi juga bisa membunuh perkembangan AI itu sendiri di masa depan. Fenomena ini disebut oleh para peneliti sebagai Model Collapse.

Cara kerja Generative AI (seperti GPT-4 atau Midjourney) adalah dengan belajar dari data yang ada di internet. Masalahnya, jika internet sekarang dipenuhi oleh konten buatan AI Slop, ada kemungkinan jika model AI generasi berikutnya akan berlatih menggunakan data sampah buatan pendahulunya, bukan data murni buatan manusia.

Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Nature menjelaskan bahwa ketika AI dilatih menggunakan data hasil generate AI secara berulang-ulang, model tersebut akan mengalami penurunan kualitas.

Analogi sederhananya seperti memfotokopi sebuah dokumen berulang kali, setiap generasi fotokopi kehilangan detail penting dari aslinya. Itulah yang mengancam kecerdasan buatan jika kita tidak segera membersihkan internet dari polusi AI Slop ini.