Periskop.id - Infrastruktur digital telah menjadi tulang punggung peradaban modern, mendukung segala aktivitas mulai dari layanan streaming dan penyimpanan awan hingga sistem Kecerdasan Buatan (AI) yang kini mengubah berbagai sektor industri. 

Melansir Visual Capitalist pada Rabu (18/2/2026), peta kekuatan pusat data (data center) dunia menunjukkan kesenjangan skala yang sangat signifikan, di mana satu negara masih memimpin jauh di depan.

Amerika Serikat Memimpin Pasar Global

Berdasarkan dataset dari Data Center Map, Amerika Serikat menempati posisi puncak dengan kepemilikan 3.960 fasilitas operasional. 

Angka ini luar biasa karena jumlah pusat data di Amerika Serikat lebih banyak daripada gabungan 14 negara peringkat berikutnya. Konsentrasi infrastruktur ini mencakup berbagai fasilitas, mulai dari cloud hub berskala kecil hingga kampus kolokasi yang sangat luas.

Dominasi Amerika Serikat sebagai pasar pusat data terbesar di dunia mencerminkan investasi masif yang dilakukan oleh perusahaan teknologi utama dan penyedia layanan awan (hyperscaler). 

Investasi bertahun-tahun ini menjadi alasan mengapa sebagian besar kapasitas penyimpanan dunia dan pusat pengembangan AI dibangun di negara tersebut.

Meskipun laporan ini mencatat angka hampir empat ribu, beberapa perkiraan industri lainnya bahkan menempatkan total pusat data di Amerika Serikat di atas 5.000 fasilitas. 

Perbedaan angka ini sering kali muncul karena adanya variasi dalam metodologi pendefinisian dan penghitungan apa yang dikategorikan sebagai data center.

Kekuatan Benua Eropa dan Pertumbuhan di Asia

Eropa saat ini mewakili konsentrasi data center terbesar kedua di dunia. Inggris, Jerman, dan Prancis menjadi pemain utama yang masing-masing memiliki ratusan fasilitas. 

Negara-negara ini berfungsi sebagai titik pertukaran internet utama dan pusat layanan TI multinasional. Selain itu, Belanda, Spanyol, dan Swedia juga tercatat mempertahankan jejak infrastruktur digital yang kuat.

Di sisi lain, kawasan Asia sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat. Ekspansi ini dipimpin oleh raksasa ekonomi seperti Tiongkok, Jepang, dan India yang didorong oleh adopsi teknologi awan yang masif. 

Negara-negara dengan konektivitas strategis seperti Singapura dan Hong Kong juga memegang pengaruh besar, sementara Indonesia, Malaysia, dan Korea Selatan muncul sebagai pasar yang sedang berkembang dengan potensi luar biasa.

Adapun, data soal peringkat 15 negara dengan jumlah data center terbanyak di dunia yakni sebagai berikut:

PeringkatNegaraData Center
1Amerika Serikat3.960
2Inggris498
3Jerman470
4Tiongkok365
5Prancis335
6Kanada285
7India275
8Australia268
9Jepang249
10Italia206
11Brasil198
12Spanyol189
13Belanda186
14Indonesia184
15Rusia178

Proyeksi Pertumbuhan dan Peluang AI di Indonesia

Indonesia diproyeksikan akan terus mengalami pertumbuhan pesat dalam industri pusat data. 

Asosiasi Pengusaha Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (APTIKNAS), sebagaimana dikutip oleh Antara pada Jumat (5/12/2025), menyebutkan bahwa perkembangan AI adalah faktor pendorong utama meningkatnya permintaan infrastruktur penyimpanan data yang aman dan berkapasitas besar di tanah air.

APTIKNAS menjelaskan bahwa biaya deployment pusat data untuk kebutuhan AI secara global diperkirakan mencapai US$23,3 miliar pada tahun 2024. 

Nilai ini dipandang sebagai peluang investasi besar bagi Indonesia. Selain pertumbuhan ekonomi digital, dukungan regulasi seperti Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi (UU PDP) serta Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 dinilai menjadi pondasi kuat bagi pengembangan ekosistem digital nasional.

Investasi Strategis: Quantum AI Data Center Pertama di Asia

Pemerintah Indonesia secara aktif memfasilitasi masuknya investasi teknologi tingkat tinggi. 

Pada Rabu (9/7/2025), Kementerian Investasi dan Hilirisasi melalui Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengumumkan proyek Quantum AI Data Center pertama di Asia yang berlokasi di Indonesia. Proyek tahap awal ini menyerap investasi sebesar US$400 juta atau setara dengan Rp6 triliun.

Pembangunan ini merupakan hasil kerja sama strategis antara perusahaan teknologi asal Silicon Valley, Worldvuer iByond Limited, dengan Tunas Prima Industrial Estate. Fasilitas canggih ini akan dibangun di kawasan industri hijau Tunas Prima di Batam, Kepulauan Riau.

Worldvuer iByond Limited membawa teknologi mutakhir melalui Vovea iByond Operating System. Sistem ini menggabungkan komputasi kuantum, kecerdasan buatan, dan big data analytics yang menghasilkan kecepatan pemrosesan jauh melampaui pusat data konvensional. 

Indonesia terpilih menjadi basis pertama teknologi ini di Asia setelah sebelumnya hanya dikembangkan di Silicon Valley dan Timur Tengah.