Periskop.id - Keterbatasan lahan dan pasokan listrik di Singapura, yang selama ini dikenal sebagai pusat konektivitas utama, telah memicu ledakan pembangunan infrastruktur teknologi di negara-negara tetangga. 

Basis pengguna bisnis yang terus berkembang di Asia Tenggara kini menjadi daya tarik utama bagi investasi besar dari Amerika Serikat hingga China.

Melansir France 24 pada Kamis (26/2), fenomena ini bermula ketika Singapura menghentikan pembangunan pusat data (data center) baru antara tahun 2019 hingga 2022 akibat keterbatasan sumber daya.

Kondisi ini memaksa perusahaan teknologi raksasa untuk melirik wilayah di seberang perbatasan sebagai basis fasilitas digital mereka.

Malaysia: Kekuatan Baru yang Bergerak Cepat 

Malaysia kini tumbuh pesat menjadi kekuatan baru di sektor pusat data. Menurut data dari firma intelijen pasar DC Byte, Malaysia menyumbang lebih dari setengah total kapasitas data center yang saat ini tengah dibangun di antara lima negara utama, yaitu Indonesia, Thailand, Filipina, dan Vietnam.

Michael Freeman, Direktur Regional Malaysia, Thailand, dan Vietnam di perusahaan manajemen proyek konstruksi Turner and Townsend, menilai kebijakan Malaysia sangat ramah terhadap investasi.

"Malaysia bergerak lebih cepat karena sistem perizinan yang terstandarisasi dan terintegrasi, serta alokasi utilitas yang lebih pasti, sehingga pengembang memiliki kejelasan soal listrik, air, penggunaan lahan, dan jadwal persetujuan," jelas Freeman.

Meskipun lonjakan paling pesat terjadi di negara bagian Johor, pemerintah setempat kini mulai memberlakukan persyaratan yang lebih ketat terkait penggunaan air dan listrik. 

Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa sumber daya lokal tetap terjaga dan tidak tertekan oleh kebutuhan operasional fasilitas teknologi tersebut.

Indonesia: Antara Populasi Besar dan Hambatan Listrik 

Indonesia tetap menjadi magnet bagi raksasa teknologi karena populasinya yang besar dan melek teknologi. Salah satu buktinya adalah Microsoft yang menginvestasikan US$1,7 miliar untuk infrastruktur cloud dan kecerdasan buatan (AI) di tanah air. 

Baru-baru ini, Microsoft memperlihatkan fasilitas data center operasionalnya di dekat Jakarta kepada AFP yang berfungsi memproses permintaan AI tanpa henti.

Namun, Freeman mencatat bahwa Indonesia masih menghadapi sejumlah hambatan struktural yang memperlambat penyelesaian proyek. Kendala tersebut mencakup pasokan listrik yang belum stabil dan masih bergantung pada batu bara, serta lambatnya proses persetujuan untuk energi terbarukan. 

Selain itu, prosedur perizinan yang panjang dan ketidakpastian akses jaringan listrik menjadi tantangan tersendiri bagi investor.

Untuk mengatasi masalah energi, Microsoft telah menandatangani kesepakatan dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) guna meningkatkan kapasitas energi terbarukan Indonesia sekitar 200 megawatt dalam jangka waktu satu dekade.

Thailand dan Filipina: Potensi di Tahap Awal 

Thailand juga mulai menunjukkan taringnya dengan peluncuran cloud region baru oleh Google di Bangkok pada Januari lalu. 

Google memproyeksikan bahwa kehadiran pusat datanya akan menyumbang lebih dari 40 miliar dolar AS bagi perekonomian Thailand dalam lima tahun ke depan.

Meski demikian, jurnalis teknologi yang berbasis di Singapura, Paul Mah, mengingatkan adanya potensi kendala di Thailand. 

"Banyak perusahaan berbondong-bondong ke Thailand, tetapi negara tersebut berpotensi menghadapi kendala, terutama dalam distribusi listrik ke lokasi yang diinginkan operator pusat data," ungkap Mah.

Sementara itu, Filipina juga diperkirakan akan mengalami lonjakan serupa seiring dengan perkembangan ekonomi digitalnya. 

Lembaga KPMG mencatat bahwa Filipina, bersama India, Indonesia, dan Thailand, saat ini masih berada pada tahap awal pembangunan infrastruktur namun memiliki potensi pertumbuhan yang sangat masif.

Vietnam: Menanti Gelombang Multinasional 

Vietnam telah menjadi sorotan selama beberapa tahun terakhir berkat ketersediaan listrik yang baik dan tingginya permintaan pasar. Pemerintah Vietnam sendiri tengah berupaya mempermudah investor dengan menyediakan kawasan teknologi khusus dan menyederhanakan proses pendirian data center.

Hambatan utama di Vietnam saat ini masih terletak pada sistem perizinan yang dianggap menantang. Namun, Freeman optimistis bahwa Vietnam akan segera kedatangan gelombang penyedia multinasional dalam beberapa tahun ke depan.

"Jika satu atau dua proyek berhasil dibangun dan membuktikan sistem perizinan berjalan efektif, maka minat dan pembangunan pusat data kemungkinan akan melonjak drastis," tambah Freeman.