periskop.id - Dalam taklimat Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, di Sentul, Bogor, Senin (2/2) Presiden Prabowo Subianto menegaskan kekhawatiran dunia terhadap pecahnya perang dunia ketiga dengan dampak nuclear winter, sebuah fenomena iklim ekstrem akibat perang nuklir.
"Ada simulasi kalau terjadi perang nuklir kita yang tidak terlibat saja pasti kena, kita akan kena partikel-partikel radioaktif. Mungkin ikan-ikan kita nanti akan terkontaminasi, akan terjadi nuclear winter karena debunya akan menutup matahari tidak satu, dua, tiga tahun, para ahli mengatakan bisa winter-nya itu puluhan tahun," ungkap Prabowo.
Pembahasan tentang nuclear winter sendiri mengemuka sudah sejak lama dan selalu dikaitkan dengan perang dunia ketiga. Pertanyaanya, apa sih nuclear winter itu sendiri?
Apa itu Nuclear Winter
Nuclear winter adalah istilah yang merujuk pada kondisi iklim global yang sangat dingin akibat asap dan debu dari kebakaran massal pasca ledakan nuklir yang masif. Partikel ini menutupi atmosfer dan menghalangi sinar matahari mencapai permukaan bumi.
Fenomena nuclear winter pertama kali dikaji serius pada era Perang Dingin di tahun 1983 oleh kelompok ilmuwan di Amerika Serikat yang dikenal sebagai tim TTAPS. Saat itu para ilmuwan mulai menghitung dampak iklim dari perang nuklir skala besar antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Salah satu ilmuwan yang juga bagian dari tim TTAPS, astronom populer, Carl Sagan yang menyebarkan konsep nuclear winter ini kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih mudah dipahami banyak orang.
Dalam pemaparannya, penyebab utama nuclear winter adalah kebakaran kota dan hutan yang dipicu oleh ledakan nuklir. Kebakaran tersebut menghasilkan asap pekat yang kaya akan jelaga yang kemudian naik ke stratosfer.
Berbeda dengan polusi biasa, asap di stratosfer tidak mudah hilang karena hujan tidak turun di lapisan ini. Akibatnya, partikel dapat bertahan selama bertahun-tahun menutupi cahaya matahari.
Dampak Nuclear Winter
Dari perhitungan yang dilakukan oleh para ilmuwan, simulasi iklim menunjukkan bahwa penurunan suhu global bisa mencapai beberapa derajat Celsius. Penurunan suhu global akan mengganggu banyak aspek kehidupan yang sudah terbentuk di Bumi. Salah satunya adalah sistem pertanian dunia.
Dampak paling nyata adalah gagal panen. Tanaman membutuhkan cahaya matahari untuk fotosintesis, dan penurunan intensitas cahaya matahari akan mengurangi hasil panen secara drastis.
Selain itu, ekosistem laut juga terancam. Selain partikel radioaktif dari jatuhan nuklir yang dapat mencemari perairan, jumlah ikan di laut pun akan menurun drastis karena rantai makanan terbawah, plankton, kehilangan cahaya matahari dengan efek domino keruntuhan ekosistem laut secaa global.
Krisis pangan global menjadi konsekuensi utama. Negara-negara tropis seperti Indonesia, yang bergantung pada musim tanam stabil, akan menghadapi ancaman kelaparan.
Studi Alan Robock dan tim Rutgers University (2007) memodelkan skenario perang nuklir regional (dengan contoh India–Pakistan) dengan penggunaan sekitar 100 senjata nuklir berdaya kecil. Hasilnya bisa memberi dampak penurunan suhu global hingga 2°C dan bertahan lebih dari satu dekade.
Tak hanya pendinginan global, nuclear winter juga dapat merusak lapisan ozon. Hal ini meningkatkan paparan radiasi ultraviolet di permukaan bumi. Dampak kesehatan manusia meliputi paparan radiasi, penyakit akibat kekurangan gizi, dan migrasi besar-besaran karena krisis pangan.
Kekhawatiran yang Datang dari Geopolitik
Negara yang tidak terlibat perang tetap akan terkena dampak. Seperti yang disampaikan Presiden Prabowo, partikel radioaktif dan pendinginan global tidak mengenal batas negara.
Kekhawatiran ini semakin relevan di tengah ketegangan geopolitik dunia. Ancaman perang nuklir bukan hanya isu militer, tetapi juga ancaman terhadap kelangsungan hidup manusia.
Upaya pencegahan nuclear winter hanya bisa dilakukan melalui diplomasi internasional, pengendalian senjata nuklir, dan kebijakan luar negeri yang bebas aktif serta non-aligned.
Kesimpulannya, nuclear winter adalah ancaman nyata yang didukung bukti ilmiah. Pencegahan perang nuklir menjadi satu-satunya cara untuk menghindari bencana iklim global yang bisa berlangsung puluhan tahun.
Tinggalkan Komentar
Komentar