periskop.id – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto membuka kembali lembaran sejarah kelam bangsa ini ketika kaum pribumi mengalami diskriminasi rasial parah dan ditempatkan pada strata sosial terendah oleh pemerintah kolonial.

“Rakyat kita, pribumi, pernah dianggap lebih rendah dari anjing,” tegas Prabowo dalam rangkaian acara Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah di Sentul, Senin (2/2).

Kepala Negara menyebut situasi tersebut sebagai bagian dari luka sejarah panjang akibat cengkeraman kolonialisme. Sistem pemerintahan asing kala itu tidak hanya menindas sektor ekonomi dan politik, tetapi juga secara sistematis merendahkan martabat manusia berdasarkan warna kulit dan ras.

“Karena sejarah kita, karena kita pernah dijajah, karena kita pernah mengalami pemerintahan penjajah yang imperialis dan rasialis,” jelasnya di hadapan peserta rapat.

Mantan Danjen Kopassus ini menyadari bahwa generasi muda saat ini, termasuk Gen Z dan Milenial, mungkin tidak lagi merasakan langsung perlakuan keji tersebut. Namun, jejak-jejak sejarah tentang rasisme kolonial adalah fakta yang tidak bisa dibantah.

Prabowo mengaku pernah menyaksikan sendiri bukti otentik diskriminasi tersebut di Jakarta. Hal ini menjadi pengingat keras bahwa kemerdekaan Indonesia diraih dengan pertaruhan harga diri yang luar biasa.

“Anak-anak muda sekarang tidak merasakan. Saya masih melihat prasasti-prasasti,” ujarnya mengenang masa lalu.

Salah satu momen yang paling diingatnya terjadi di kawasan kolam renang Manggarai, Jakarta Selatan. Prabowo menemukan sebuah prasasti yang memuat aturan diskriminatif justru puluhan tahun setelah proklamasi kemerdekaan dikumandangkan.

“Saya melihat satu prasasti tahun 1976, saya ulangi tahun 1978, 28 tahun setelah kedaulatan kemerdekaan, masih ada prasasti di kolam renang Manggarai waktu itu,” ungkap Prabowo merinci tahun kejadiannya.

Keberadaan prasasti tersebut menjadi simbol betapa kuatnya sisa-sisa mentalitas kolonial yang tertinggal. Meski benda tersebut kemungkinan besar kini sudah dibongkar, ingatan tentang isinya tetap membekas sebagai bukti sejarah.

Presiden menekankan pentingnya memahami sejarah ini bukan untuk memelihara dendam, melainkan agar bangsa Indonesia selalu waspada dan menjaga kedaulatan. Pengalaman pahit diperlakukan tidak manusiawi harus menjadi pecut semangat untuk berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain.