periskop.id - Istilah ACAB kembali mencuat di tengah berbagai gerakan protes global. Akronim yang berarti "All Cops Are Bastards" ini sering muncul dalam bentuk grafiti, poster, hingga lirik lagu, dan menjadi simbol kritik terhadap otoritas. Versi angka, "1312", juga digunakan sebagai kode, di mana setiap angka mewakili urutan huruf dalam alfabet (1=A, 3=C, 1=A, 2=B).
Menurut laporan GQ, 10 Juni 2020, asal-usul pastinya tidak diketahui, tetapi istilah ini diyakini muncul di Inggris pada paruh pertama abad ke-20. Konon, akronim ini mulai digunakan oleh para buruh yang mogok kerja pada tahun 1940-an.
Sejarah dan Momen Kontroversial di Indonesia
Pada tahun 1970, frasa ini menjadi populer ketika surat kabar Daily Mirror menjadikannya tajuk utama setelah seorang remaja ditangkap karena menyulam ACAB di jaketnya. Sejak saat itu, ACAB menjadi simbol perlawanan anak muda terhadap opresi aparat. Akronim ini kemudian diadopsi oleh budaya punk dan menyebar ke seluruh dunia sebagai semboyan anarkis dan anti-otoritarian.
Di Indonesia, ACAB juga muncul dalam beberapa momen kontroversial, antara lain:
- Tragedi Kanjuruhan:
Akronim ACAB atau 1312 muncul dalam bentuk grafiti di sekitar Stadion Kanjuruhan pada Oktober 2022. Ini menjadi bentuk kritik keras terhadap tindakan polisi yang dinilai menyebabkan bencana.
- Kasus Band Sukatani:
Istilah ini kembali mencuat di media sosial ketika lagu dari band Sukatani dicabut dari platform digital. Warganet menggunakan ACAB sebagai bentuk solidaritas dan protes terhadap apa yang dianggap sebagai pembungkaman kritik.
- Insiden Brimob dan Ojol:
ACAB juga menjadi sorotan setelah insiden tragis pada 28 Agustus 2025, di mana seorang pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, tewas dilindas kendaraan taktis Brimob saat unjuk rasa di Senayan, Jakarta. Setelah insiden itu, media sosial dibanjiri dengan unggahan berlabel ACAB sebagai bentuk kemarahan publik.
ACAB di Mata Para Pengguna dan Kaitannya dengan Kekerasan Aparat
Meskipun ACAB adalah istilah yang kontroversial, maknanya bisa fleksibel. Bagi sebagian orang, itu hanyalah ekspresi pemberontakan, sementara bagi yang lain, itu mewakili ideologi anti-otoritarian yang lebih kompleks.
Seiring berjalannya waktu, penggunaan ACAB meluas hingga ke media sosial. Terlepas dari bagaimana istilah ini digunakan, pesan intinya tetap sama, penyalahgunaan wewenang tidak bisa diterima. Kepanjangan ACAB ini menjadi simbol bahwa kekerasan oleh pihak berwenang tidak dapat dibenarkan.
Tinggalkan Komentar
Komentar