Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo, mengeluarkan peringatan kepada warga Ibu Kota mengenai potensi puncak banjir rob yang diperkirakan terjadi pada Jumat (5/12) pagi. Peringatan ini disampaikan berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Seperti sekarang ini, hari ini tanggal 4, dari kemarin saya sudah mendapatkan data, dan saya sudah menyampaikan ke publik bahwa banjir rob akan terjadi, dan terjadi hari ini. Puncak banjir rob itu besok tanggal 5 Desember, jam 09.00 pagi," ujar Pramono, di Jakarta Pusat, seperti dikutip oleh Antara, Kamis (4/12).

Lebih lanjut, Pramono menambahkan bahwa ancaman banjir di Jakarta tidak akan berhenti setelah tanggal 5 atau 6 Desember 2025. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mengantisipasi kemungkinan munculnya gelombang banjir rob berikutnya pada pekan ketiga Desember 2025. Sementara itu, puncak curah hujan tinggi yang sering memicu banjir lokal diperkirakan baru akan melanda Ibu Kota pada Januari 2026.

Banjir rob yang terjadi pada akhir tahun ini tentu menyebabkan sejumlah ruas jalan tergenang, memaksa aktivitas warga tersendat dan menimbulkan kerugian bagi sektor perikanan, pelabuhan, serta permukiman pesisir.

Kejadian banjir rob terbaru ini kembali menegaskan bahwa Jakarta menghadapi persoalan yang jauh lebih besar dari sekadar pasang air laut sesaat. Di balik peristiwa rob yang muncul secara berkala, terdapat krisis struktural yang telah berlangsung puluhan tahun dan memperburuk risiko banjir rob dari masa ke masa.

Kota Jakarta menghadapi ancaman bencana pesisir yang semakin serius. Banjir rob Jakarta yang terjadi di kawasan pesisir diperparah oleh krisis struktural jangka panjang, yakni penurunan muka tanah (land subsidence) yang terdeteksi setidaknya sejak tahun 1978, sebagaimana yang dijelaskan pada artikel jurnal berjudul “Prediksi Penurunan Muka Air Tanah terhadap Banjir Rob di Kawasan Pesisir Kota Jakarta”.

Tingginya tingkat perkembangan sosio-ekonomi kota, seperti investasi finansial yang lebih besar, perkembangan pusat ekonomi, dan penambahan jumlah penduduk karena besarnya migrasi masuk, seringkali tidak diimbangi dengan peningkatan ketahanan kota. Keadaan kota yang sudah terpapar bencana seperti banjir dan rob kemudian diperparah oleh kebijakan yang tidak pro-ekologi, seperti pembangunan yang mengurangi kawasan resapan air serta menambah beban tanah.

Faktor Utama Pemicu Rob

Untuk memahami mengapa banjir rob semakin meluas, penting melihat faktor-faktor lingkungan yang saling berkaitan dan mempercepat kerentanan pesisir Jakarta.

Intrusi air laut (rob) disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor, di antaranya inflirtrasi air, kurangnya drainase kawasan, kenaikan muka air laut, perubahan iklim, perubahan arah serta intensitas angin, dan yang paling krusial, elevasi serta penurunan muka tanah. 

Selain faktor iklim dan hidrologi, kondisi geografis Jakarta turut memperburuk situasi. Karakter topografi kota yang tidak seragam menciptakan kantong-kantong wilayah rendah yang sangat sensitif terhadap pasang air laut. Ketidakseragaman topografi menyebabkan beberapa kawasan memiliki ketinggian yang lebih rendah dari pasang maksimum, memungkinkan terjadinya intrusi air laut saat pasang.

Secara umum, terdapat dua teori utama yang menjelaskan fenomena penurunan tanah, yakni aktivitas pengambilan air tanah (groundwater pumping) dan peningkatan beban di muka tanah.

Groundwater pumping sendiri dapat diartikan sebagai aktivitas pengambilan air tanah yang sebagian besar didorong oleh layanan air bersih PDAM yang tidak mencukupi. Pengambilan air terjadi dalam skala kecil (rumah tangga) hingga skala besar (industri).

Sesuai dengan dokumen Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk konservasi Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta, ekstraksi air tanah yang ditunjukkan oleh penurunan akuifer berdampak hingga 30% dari subsiden di Kota Jakarta. Adapun, subsiden adalah istilah untuk penurunan permukaan tanah secara permanen. 

Sementara itu, peningkatan beban diartikan sebagai beban di atas permukaan tanah yang terus meningkat seiring dengan pesatnya perkembangan Kota Jakarta. Penurunan muka tanah memiliki pola yang mengikuti tren ekstraksi material. Penurunan ini menyebabkan tanah memadat, sehingga muka tanah semakin menurun.

Wilayah Terdampak

Perlu diketahui bahwa banjir rob di Jakarta terjadi di seluruh kawasan yang berbatasan langsung dengan Teluk Jakarta, khususnya Jakarta Utara. Secara spesifik, kawasan-kawasan itu meliputi Kelapa Gading, Koja, Pademangan, Penjaringan, Cilincing, dan Tanjung Priok.

Kawasan-kawasan tersebut rutin terkena banjir rob mengingat tingkat penurunan permukaan tanah yang terjadi relatif lebih tinggi dibanding area lain di Jakarta. Masih menurut sumber artikel yang sama, hasil penelitian memberikan gambaran lebih detail mengenai seberapa cepat penurunan tanah terjadi, sekaligus memperlihatkan besarnya ancaman terhadap keberlanjutan kota.

Pada 2017, penurunan lahan pada Kota Administrasi Jakarta Utara cenderung linear, dengan kisaran penurunan sebesar 0,5 cm setiap bulannya. Akumulasi ini berarti tanah turun 6 cm setiap tahun, dan terhitung pada akhir 2019 tanah sudah turun 18 cm. Penelitian lain menyebutkan rata-rata penurunan berkisar antara 5 – 8,5 cm per tahun.

Kawasan terendah di Jakarta Utara diproyeksikan akan mengalami penurunan hingga mencapai elevasi 45,4 cm pada tahun 2030, dengan rata-rata proyeksi penurunan 4 cm per tahun. 

Langkah Mitigasi

Dengan tingkat penurunan tanah yang terus berlanjut, upaya struktural berskala besar menjadi semakin mendesak untuk melindungi Jakarta dari risiko banjir rob di masa depan.

Menghadapi temuan kritis ini, terdapat dua indikasi rencana besar untuk mitigasi banjir rob hingga tahun 2030, yakni melanjutkan pembangunan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) seawall dan mengintensifikasikan penyambungan pipa air bersih pada kawasan pesisir.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam laman resmi Dinas Sumber Daya Air (DSDA) Jakarta, NCICD adalah program pembangunan tanggul pantai dan pengembangan kawasan pesisir Jakarta sebagai langkah pencegahan banjir rob. Program kolaborasi antara Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Dinas SDA ini berada di Fase A, yang meliputi pembangunan Tanggul Pengaman Pantai dan Muara Sungai sepanjang 38,9 km yang ditargetkan rampung pada tahun 2030.

Terkait dengan progres pembangunan proyek ini, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta pada Desember 2024 mengonfirmasi bahwa proyek NCICD ini baru terealisasikan sepanjang 22,9 km, artinya masih ada 16,1 km lagi yang belum selesai dibangun.

Selain solusi infrastruktur besar, upaya konservasi sumber daya air menjadi elemen penting dalam mengurangi risiko penurunan tanah jangka panjang.

Melansir dari studi berjudul “Pengelolaan Air Tanah Dan Intrusi Air Laut”, pencegahan banjir rob juga harus dilakukan melalui pengelolaan air tanah yang tepat.

Pertama, fokus pada konservasi dan pengembangan cekungan air tanah (CAT). Penanganan CAT harus dijalankan dalam sudut pandang konservasi dan pengembangan.

Kemudian, merancang dan membangun suplai air alternatif untuk menggantikan pemompaan berlebihan dari sumur bor di area pesisir Jakarta.

Terakhir, melakukan program imbuhan air tanah. Program ini dilakukan dengan mengisi kembali air tanah secara alami atau buatan pada sistem akuifer melalui sumur resapan, kolam retensi, atau injeksi air bersih.