periskop.id - Mata uang rupiah ditutup menguat tipis pada perdagangan Jumat (5/12) sore, meskipun sebelumnya sempat melemah. Rupiah ditutup di level Rp16.648 per dolar AS, naik 5 poin dari penutupan sebelumnya di Rp16.653.

Untuk perdagangan Senin depan, Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan emas bergerak fluktuatif di kisaran Rp16.640-Rp16.680.

“Pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed, sekaligus kondisi pasar global yang cukup dinamis,” ujar Ibrahim, Jumat (5/12).

Dukungan terhadap rupiah datang dari ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi memangkas suku bunga pada pertemuan kebijakan minggu depan. Harga berjangka menunjukkan kemungkinan kuat penurunan sebesar 25 basis poin. Investor beralih ke pandangan bahwa The Fed mungkin akan mulai melonggarkan kebijakan seiring melemahnya momentum ekonomi.

Data pasar tenaga kerja AS memperkuat sentimen ini. Klaim pengangguran mingguan turun tajam menjadi 191.000, level terendah sejak September 2022, meski para ekonom mencatat volatilitas terkait liburan dapat memengaruhi angka tersebut. Sementara itu, laporan penggajian swasta awal pekan ini menunjukkan perusahaan-perusahaan AS memangkas 32.000 pekerjaan pada November, menandakan melemahnya kondisi perekrutan.

“Fokus pasar hari ini tertuju pada Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) AS untuk September, yang dirilis pukul 22.00 WIB. Data inflasi PCE ini akan menjadi acuan penting untuk menilai prospek kebijakan The Fed menjelang pertemuannya minggu depan,” kata Ibrahim.

Selain itu, perundingan AS-Rusia awal pekan ini gagal menghasilkan terobosan terkait gencatan senjata di Ukraina. Kurangnya kemajuan ini meredam harapan pelonggaran sanksi energi terhadap minyak mentah Rusia, sehingga menjaga premi risiko di pasar. “Gangguan pasokan energi diperkirakan masih berlanjut, terutama setelah serangan Ukraina baru-baru ini terhadap infrastruktur energi Rusia,” kata Ibrahim.

Pasar juga mewaspadai potensi konflik militer di Venezuela setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akhir pekan lalu bahwa AS akan mengambil tindakan untuk menghentikan pengedar narkoba Venezuela.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2025 sebesar USD150,1 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir Oktober 2025 sebesar USD149,9 miliar. Kenaikan ini berasal dari penerimaan pajak, jasa, dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah.

“Kenaikan cadangan devisa juga merupakan bagian dari upaya BI menstabilkan nilai tukar rupiah menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global,” ujar Ibrahim.

Cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor atau 6,0 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap kuat, didukung prospek ekspor yang terjaga serta arus masuk penanaman modal asing yang diprakirakan terus berlanjut. Sinergi BI dengan pemerintah juga diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan.