periskop.id - Pada Selasa, 9 Desember 2025 sekitar pukul 12.43 WIB, kantor Terra Drone di Cempaka Baru, Kemayoran, Jakarta Pusat dilanda kebakaran hebat. Api diperkirakan muncul dari lantai dasar, dugaan sementara menyebut baterai litium sebagai titik awal. Karyawan sempat mencoba memadamkan api menggunakan sekitar lima Alat Pemadam Api Ringan (APAR), tetapi upaya itu gagal kala asap dan kobaran api melebar dengan cepat.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengonfirmasi bahwa total korban terdampak sebanyak 76 orang, 22 di antaranya meninggal dunia, dan 54 berhasil diselamatkan. Dari korban tewas, 15 adalah perempuan dan 7 laki-laki. Tragisnya, di antara korban tersebut terdapat seorang perempuan yang tengah mengandung, kategori yang menurut Basarnas termasuk dalam kelompok rentan yang harus mendapat prioritas evakuasi pada setiap keadaan darurat.
Saksi mata menjelaskan bahwa meskipun api hanya di lantai dasar, asap pekat cepat naik ke lantai atas, menghalangi jalan keluar. Evakuasi menggunakan tangga darurat dan turun melalui tangga biasa, tetapi banyak pekerja terjebak di lantai atas ketika asap padat memenuhi lorong dan ruangan.
Kasus ini menjadi duka mendalam, bukan hanya karena kehilangan nyawa, tetapi juga menggugah kesadaran akan pentingnya keselamatan, jalur evakuasi, dan prioritas penyelamatan korban rentan.
Lima Kelompok Rentan yang Wajib Jadi Prioritas Evakuasi Menurut Basarnas
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menegaskan bahwa keberhasilan penanganan bencana, apa pun bentuknya, sangat ditentukan oleh kemampuan memetakan korban prioritas serta memastikan jalur evakuasi yang aman dan dapat diakses.
Dalam setiap keadaan darurat, petugas harus mampu mengidentifikasi siapa yang paling membutuhkan pertolongan terlebih dahulu. Basarnas menetapkan lima kategori utama korban prioritas.
1. Anak-Anak dan Balita
Mereka berada dalam posisi paling rentan. Kemampuan fisik yang terbatas, sistem imun yang belum matang, dan kesulitan memahami situasi membuat mereka harus dievakuasi sejak awal. Setiap detik sangat berarti bagi keselamatan mereka.
2. Lansia
Kelompok lanjut usia sering memiliki keterbatasan mobilitas, gangguan keseimbangan, serta kondisi kesehatan kronis seperti penyakit jantung atau pernapasan. Dalam situasi penuh asap seperti kebakaran, risiko mereka kolaps jauh lebih tinggi.
3. Ibu Hamil dan Menyusui
Inilah kelompok yang memerlukan perhatian ekstra. Ibu hamil membawa dua nyawa sekaligus sehingga kebutuhan oksigen, kestabilan fisik, dan perlindungan medis jauh lebih sensitif. Jika paparan asap berbahaya terjadi, risiko bagi janin meningkat drastis. Kehilangan ibu hamil dalam tragedi Terra Drone memperlihatkan betapa rapuhnya kelompok ini ketika jalur evakuasi tidak kondusif.
4. Penyandang Disabilitas
Baik disabilitas fisik maupun sensorik, kondisi mereka membuat proses evakuasi memerlukan bantuan tambahan. Dalam kepanikan dan asap gelap yang menghalangi pandangan, dukungan evakuasi menjadi kunci penyelamatan.
5. Korban dengan Luka Parah
Mereka yang mengalami luka bakar, patah tulang, atau sesak napas berat harus segera mendapat pertolongan medis. Penundaan sekecil apa pun bisa berakibat fatal.
Tragedi di gedung Terra Drone menjadi pengingat keras bahwa keselamatan bukan hanya sekadar prosedur, melainkan tanggung jawab nyata yang menentukan hidup dan mati. Dengan memahami siapa yang harus diprioritaskan dan memastikan jalur evakuasi selalu siap digunakan, kita dapat mencegah nyawa rentan kembali menjadi korban.
Mengapa Ibu Hamil Harus Jadi Prioritas Penyelamatan?
Salah satu korban dalam kebakaran ini adalah seorang perempuan hamil yang diduga tengah mengandung anak pertama. Kehilangan seperti ini menyayat, sekaligus mengingatkan kita bahwa dalam situasi darurat, kelompok rentan, termasuk ibu hamil memerlukan perhatian dan prioritas khusus.
Mengapa demikian?
- Kebutuhan Oksigen Ganda
Ibu hamil memerlukan suplai oksigen yang cukup untuk dirinya dan janinnya. Saat asap memenuhi ruangan, ruang bernapas menyempit, resiko sesak napas dan kehilangan kesadaran sangat cepat meningkat. - Mobilitas Terbatas
Kondisi kehamilan bisa membatasi kelincahan, ketika tangga sempit, asap pekat, dan jalur evakuasi padat, ibu hamil bisa kesulitan bergerak cepat. - Resiko Ganda
Bila ibu pingsan atau kehilangan kesadaran, janin juga berada dalam kondisi kritis sehingga penyelamatan cepat bukan hanya menyelamatkan satu, melainkan dua nyawa. - Prioritas dalam Evakuasi
Norma dan protokol keselamatan umumnya menempatkan ibu hamil, lansia, penyandang disabilitas, dan anak-anak sebagai prioritas tertinggi saat evakuasi.
Dalam tragedi ini, kenyataan pahit menunjukkan bahwa tanpa jalur evakuasi yang memadai dan prosedur darurat yang siap, prioritas penyelamatan ideal bisa gagal terlaksana dan korban paling rentan pun menjadi korban.
Kematian ibu hamil dalam kebakaran bukan hanya angka, tetapi representasi kegagalan sistem perlindungan terhadap yang paling membutuhkan bantuan. Ini menjadi pelajaran kemanusiaan sekaligus alarm bagi pengelola gedung, perusahaan, maupun regulasi keselamatan kerja.
Tinggalkan Komentar
Komentar