periskop.id - Survei Bank Indonesia (BI) memperkirakan data penjualan eceran November 2025 akan meningkat signifikan. Proyeksi ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) yang diperkirakan tumbuh 5,9% secara tahunan, lebih tinggi dari 4,3% pada Oktober.

Lonjakan ini terutama didorong oleh naiknya penjualan perlengkapan rumah tangga, barang budaya & rekreasi, suku cadang & aksesori, serta makanan, minuman, dan tembakau.

Secara bulanan, penjualan juga naik 1,1% seiring meningkatnya permintaan menjelang persiapan Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Tidak hanya itu, penjualan eceran pada Oktober 2025 menunjukkan tren positif. IPR naik 4,3% secara tahunan, melampaui pertumbuhan September yang sebesar 3,7%.

“Lonjakan ini terutama didorong oleh kenaikan penjualan barang budaya & rekreasi serta makanan, minuman, dan tembakau,” tulis laporan survei BI dikutip Rabu (10/12).

Secara bulanan, penjualan juga meningkat 0,6% seiring tingginya permintaan menjelang Natal, didukung kelancaran distribusi. Selain itu, tekanan inflasi diperkirakan meningkat pada awal 2026, tetapi mulai menurun menjelang kuartal II.

Survei melaporkan Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) Januari 2026 sebesar 163,2, naik signifikan dari 157,2 pada periode sebelumnya. Kenaikan ini dipicu ekspektasi naiknya harga bahan baku, upah, Pajak Pertambahan Nilai (PPN), serta meningkatnya permintaan menjelang Ramadan 1447 H.

Sebaliknya, IEH April 2026 diproyeksikan menurun menjadi 161,7, lebih rendah dibandingkan 172,5 sebelumnya, seiring normalisasi permintaan pasca Hari Besar Keagamaan Nasional Idulfitri dan stabilisasi pasokan barang.

BI menegaskan kondisi ini menunjukkan bahwa inflasi jangka pendek masih akan terasa, namun tren penurunan mulai terlihat seiring membaiknya keseimbangan antara permintaan dan pasokan.