Periskop.id - Kabar duka yang sangat mengejutkan datang dari Kota Cilegon, Banten. Di tengah suasana pertengahan Desember yang seharusnya tenang menjelang akhir tahun, publik justru digegerkan dengan peristiwa tragis yang menimpa seorang bocah berusia 9 tahun, Muhammad Axle. Kasus ini menjadi sorotan tajam bukan hanya karena korbannya masih di bawah umur, tetapi juga karena lokasi kejadian yang berada di perumahan elite dan merupakan anak dari figur politik.
Bagi Anda yang baru mengikuti kasus ini, mungkin banyak pertanyaan yang muncul, siapa sebenarnya orang tua korban? Bagaimana kronologi kejadiannya? Dan mengapa kasus ini disebut sangat misterius oleh pihak kepolisian?
Berikut fakta-fakta kunci berdasarkan laporan terbaru dari lapangan dan keterangan resmi pihak berwenang. Mari kita simak ulasan lengkapnya di bawah ini.
1. Maman Suherman Ayah Korban adalah Tokoh PKS Cilegon
Sebelum masuk ke detail kejadian, ada baiknya kita meluruskan simpang siur informasi yang beredar di media sosial. Beberapa warganet sempat salah mengira bahwa ayah korban adalah Maman Suherman sang penulis terkenal. Faktanya, ayah dari almarhum Muhammad Axle adalah Haji Maman Suherman, seorang tokoh politik di Cilegon. Beliau tercatat sebagai kader Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan menjabat di jajaran Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS. Posisi sang ayah sebagai tokoh publik di daerah Cilegon inilah yang membuat berita ini menyebar dengan sangat cepat di kalangan masyarakat Banten. Tragedi ini tentu menjadi pukulan berat bagi keluarga besar Maman Suherman yang dikenal dermawan dan aktif di lingkungan sosial.
2. Detik-Detik Awal Terungkapnya Peristiwa Tragis
Bagaimana sebenarnya peristiwa nahas ini pertama kali diketahui? Berdasarkan kronologi yang dihimpun dari kepolisian, kejadian ini diperkirakan terjadi pada Selasa (16/12) siang di kediaman keluarga korban di Perumahan Bukit Baja Sejahtera (BBS) III, Kelurahan Ciwaduk, Kota Cilegon.
Peristiwa ini bermula saat ayah korban, Maman Suherman, menerima panggilan telepon dari anak keduanya yang meminta pertolongan. Mendapat kabar tersebut, ia segera meninggalkan pekerjaannya di kawasan Ciwandan dan bergegas menuju rumahnya di Perumahan BBS 3, Kelurahan Ciwaduk, Kota Cilegon. Setibanya di lokasi, ia menemukan korban dalam kondisi tengkurap dengan luka serius dan pendarahan hebat. Suasana rumah mewah yang biasanya tenang seketika berubah menjadi kepanikan. Pihak keluarga segera berusaha memberikan pertolongan pertama dengan melarikan Muhammad Axle ke Rumah Sakit Bethsaida Cilegon. Namun, takdir berkata lain. Tim medis menyatakan bahwa korban telah meninggal dunia, diduga akibat kehabisan darah sebelum sempat mendapatkan penanganan intensif.
3. Hasil Autopsi: Ditemukan 22 Luka di Tubuh Korban
Fakta paling menyayat hati dari kasus ini terungkap setelah proses autopsi selesai dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cilegon. Polres Cilegon mengungkapkan data yang mengejutkan publik, ditemukan total 22 luka di tubuh mungil bocah 9 tahun tersebut. Jika dirinci, luka-luka tersebut terdiri dari 19 luka akibat benda tajam serta 3 luka akibat benda tumpul. Luka-luka ini tersebar di wilayah kepala hingga badannya.
Banyaknya jumlah luka ini memunculkan spekulasi bahwa pelaku melakukan aksinya dengan penuh emosi atau kepanikan, bukan sekadar niat melukai biasa. Temuan forensik ini menjadi kunci utama bagi polisi untuk menentukan jenis senjata yang digunakan pelaku. Hingga artikel ini ditulis, polisi menduga bahwa kematian korban disebabkan oleh pendarahan hebat akibat luka tusuk tersebut.
4. Penyelidikan Berjalan: Polisi Periksa 8 Saksi
Polisi telah mengamankan lokasi kejadian dengan memasang garis pembatas untuk menjaga area tetap steril selama proses penyidikan berlangsung. Sejak itu, penyidik secara intensif memeriksa para saksi, baik dari lingkungan keluarga korban maupun warga sekitar. Hingga saat ini, sebanyak delapan orang telah dimintai keterangan guna membantu merangkai kronologi kejadian. Di sisi lain, kepolisian juga menunggu hasil autopsi dari pihak rumah sakit sebagai bagian penting dalam proses penyidikan. Hasil tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan terkait penyebab kematian korban. Sambil menunggu hasil medis, petugas terus mengumpulkan bukti dan informasi tambahan agar peristiwa ini dapat diungkap secara menyeluruh dan akurat.
5. Teka-Teki CCTV dan Senjata yang Hilang
Meskipun bukti fisik pada tubuh korban sudah jelas, pengungkapan siapa pelakunya ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada beberapa kendala teknis yang dihadapi penyidik di lapangan yang membuat kasus ini semakin misterius.
Pertama, terkait Closed Circuit Television (CCTV). Di rumah mewah seperti yang berlokasi di BBS III Cilegon, keberadaan kamera pengawas seharusnya menjadi standar keamanan. Namun, laporan awal menyebutkan bahwa CCTV di lokasi kejadian diduga dalam kondisi tidak dapat dimanfaatkan secara optimal. Hal ini menyulitkan polisi untuk mengidentifikasi siapa saja yang keluar-masuk rumah pada jam kritis tersebut.
Kedua, barang bukti senjata. Meskipun hasil autopsi menunjukkan adanya 19 luka tusukan, polisi belum berhasil menemukan senjata tajam yang digunakan pelaku di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP). Senjata tersebut diduga dibawa kabur oleh pelaku atau dibuang di tempat lain untuk menghilangkan jejak. Selain itu, belum ada laporan mengenai barang berharga yang hilang sehingga motif perampokan murni masih menjadi tanda tanya besar. Polisi kini tengah memeriksa saksi-saksi, termasuk orang-orang terdekat dan pekerja di lingkungan rumah, untuk merangkai teka-teki kejadian ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar