periskop.id - Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa 71,04% pemuda Indonesia berusia 16—30 tahun masih berstatus belum menikah. Ini bukan angka kebetulan, melainkan sinyal kuat bahwa pola hidup generasi muda sedang berubah drastis.

Perubahannya pun terjadi dengan cepat. Pada 2020, persentase pemuda lajang masih 59,82%. Empat tahun berselang, di 2024, angkanya melonjak menjadi 69,75%. Kini, hanya dalam lima tahun, jumlahnya naik lebih dari 11% dan resmi menembus angka 70%.

Perumpamaannya, jika kamu berada di satu ruangan berisi 10 pemuda usia 16-30 tahun, sekitar 7 orang di antaranya kemungkinan besar masih lajang. Gambaran ini menegaskan satu hal penting, menikah muda yang dulu dianggap sebagai “paket normal” kehidupan, kini bukan lagi pilihan utama.

Bagi generasi sekarang, lajang bukan simbol keterlambatan, apalagi kegagalan. Justru sebaliknya, status ini semakin dipandang sebagai pilihan sadar untuk fokus pada pendidikan, karier, kesehatan mental, dan kemandirian finansial. 

Generasi yang Memilih Siap Sebelum Menikah

Lalu, ke mana fokus energi para pemuda ini dialihkan? Jawabannya adalah pendidikan dan pekerjaan. Data BPS memperlihatkan bahwa penundaan pernikahan bukan keputusan impulsif, melainkan langkah yang rasional dan berorientasi masa depan.

Pada 2025, rata-rata lama sekolah pemuda Indonesia telah mencapai 11,21 tahun. Artinya, sebagian besar pemuda kini menempuh pendidikan hingga hampir menuntaskan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Bahkan, capaian pendidikannya terus meningkat. Sebanyak 12,04% pemuda sudah menamatkan pendidikan tinggi (Diploma atau Universitas), sementara 43,75% lainnya merupakan lulusan SMA atau sederajat. Semakin tinggi jenjang pendidikan, semakin kuat pula dorongan untuk menata hidup, termasuk soal finansial dan karier sebelum memutuskan menikah.

Data BPS 2025 mencatat bahwa Angka Partisipasi Sekolah (APS) pemuda perempuan lebih tinggi dibandingkan pemuda laki-laki di berbagai jenjang. Persentase perempuan dengan pendidikan rendah (SD/sederajat ke bawah) lebih kecil, sementara proporsi yang menamatkan pendidikan tinggi jauh lebih besar. Sebanyak 15,17% pemuda perempuan telah lulus pendidikan tinggi, hampir dua kali lipat dibandingkan pemuda laki-laki yang hanya 8,97%. Temuan ini menunjukkan bahwa perempuan muda Indonesia semakin berdaya dan menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama dalam membangun masa depan.

Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 juga menunjukkan hubungan kuat antara status ekonomi rumah tangga dan capaian pendidikan. Semakin tinggi kondisi ekonomi keluarga, semakin panjang rata-rata lama sekolah pemuda. Pola ini menjelaskan mengapa penundaan pernikahan kian umum terjadi. Fokus pada pendidikan dan peningkatan kualitas diri menjadi strategi rasional untuk mencapai stabilitas ekonomi dan sosial sebelum memasuki pernikahan.

Mapan Dulu Baru Nikah, Kini Jadi Pilihan Pemuda

Fokus itu tidak berhenti di bangku sekolah. Dunia kerja menjadi arena utama berikutnya. Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025, ada lebih dari separuh pemuda yang bekerja (57,86%). Di saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pemuda turun menjadi 11,78%, menandakan semakin banyak anak muda yang aktif masuk ke pasar kerja.

Data ini mengarah pada satu kesimpulan besar bahwa generasi muda sedang serius membangun fondasi hidup. Prinsip “Mapan dulu, baru nikah” tak lagi sekadar nasihat orang tua atau slogan media sosial, ia telah berubah menjadi strategi hidup kolektif yang dijalankan oleh pemuda di Indonesia.

Perubahan perilaku pemuda Indonesia yang tercermin dalam data BPS bukanlah hal aneh. Ketika pendidikan semakin tinggi, partisipasi kerja meningkat, dan perempuan muda kian unggul secara akademik, keputusan menunda pernikahan menjadi pilihan yang logis. Generasi muda tidak sedang menjauh dari pernikahan, melainkan mendefinisikan ulang sebagai keputusan yang lahir dari stabilitas, kemandirian, dan perencanaan matang.