Periskop.id - Program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), kini tengah mendapatkan sorotan tajam dari para pengamat ekonomi. Center of Economic and Law Studies (CELIOS) baru saja merilis publikasi studi kritis berjudul “Makan (Tidak) Bergizi (Tidak) Gratis” yang mengungkapkan bahwa program tersebut sejauh ini belum menunjukkan dampak positif bagi perekonomian nasional. Sebaliknya, studi tersebut justru menemukan adanya indikasi dampak negatif yang perlu segera diantisipasi oleh pemerintah.
Dalam laporan tersebut, ketersediaan lapangan kerja yang dijanjikan oleh program MBG dinilai masih sangat terbatas. Sebanyak 40% responden merasa bahwa peluang kerja dari program ini belum dapat dirasakan oleh masyarakat luas.
Lapangan pekerjaan yang timbul terkesan eksklusif dan hanya menguntungkan segelintir pihak, sehingga tujuan awal untuk menggerakkan ekonomi akar rumput belum tercapai secara maksimal.
Masalah Transparansi Rantai Pasok dan Konflik Kepentingan
Kritik mendalam juga tertuju pada mekanisme distribusi dan pelibatan sektor usaha mikro. Sebanyak 48% responden menyatakan tidak mengetahui adanya keterlibatan usaha kecil atau warung lokal dalam rantai pasok makanan MBG. Hal ini memunculkan persepsi bahwa rantai pasok program ini tidak transparan dan cenderung tertutup.
Kondisi tersebut diperburuk dengan temuan mengenai isu integritas dalam penunjukan vendor penyedia makanan. Sebanyak 79% responden menyadari adanya potensi konflik kepentingan dalam proses penunjukan langsung vendor.
Temuan ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk lebih memperketat pengawasan guna menghindari praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam ekosistem program MBG.
Eksploitasi Tenaga Kerja dan Hilangnya Pangan Lokal
Sisi lain yang tidak kalah memprihatinkan adalah kondisi para tenaga profesional yang terlibat dalam program ini. Studi CELIOS mensinyalir adanya praktik mempekerjakan pegawai dengan durasi jam kerja yang berlebihan.
Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak empat dari lima ahli gizi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tercatat bekerja lebih dari delapan jam per hari, sebuah kondisi yang melampaui batas standar kerja sehat.
Program ini juga membawa dampak buruk bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Karena adanya penyeragaman menu secara masif, terdapat sekitar 747 jenis pangan lokal yang kini terancam hilang dan tidak lagi tersedia di pasaran. Penyeragaman ini dikhawatirkan akan mematikan kekayaan nutrisi tradisional Indonesia yang sudah ada sejak lama.
Besarnya Peluang Investasi yang Terkorbankan
Secara makro ekonomi, CELIOS mencatat adanya nilai manfaat yang hilang (opportunity cost) dalam jumlah yang sangat fantastis. Nilai manfaat yang hilang diprediksi mencapai Rp404 triliun dari peluang investasi pencegahan stunting masa depan.
Hal ini terjadi karena anggaran kesehatan sebesar Rp24,7 triliun yang seharusnya bisa digunakan untuk program kesehatan esensial lainnya dialihkan guna membiayai program MBG.
Puncak dari kekhawatiran ini adalah nasib para pekerja di sektor makanan konvensional. Analisis dalam studi tersebut memperkirakan sebanyak 1,94 juta orang rentan kehilangan pekerjaan akibat adanya pergeseran pasar dan dominasi vendor besar dalam program MBG.
Jika tidak segera dievaluasi, program yang niat awalnya untuk memperbaiki gizi bangsa ini justru dikhawatirkan akan memperlebar kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar