periskop.id - Bank Indonesia (BI) memprakirakan kinerja penjualan eceran pada Desember 2025 tetap bergerak dalam jalur pertumbuhan yang solid. Kondisi itu mencerminkan daya beli masyarakat yang masih terjaga di penghujung tahun.

Proyeksi tersebut tertuang dalam hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) yang menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) Desember 2025 diperkirakan tumbuh sebesar 4,4% secara tahunan (year on year/YoY). Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, penguatan kinerja ritel tidak terlepas dari meningkatnya konsumsi masyarakat pada sejumlah sektor strategis.

"Penopang utama pertumbuhan berasal dari kelompok suku cadang dan aksesori, makanan, minuman dan tembakau, barang budaya dan rekreasi, serta bahan bakar kendaraan bermotor yang mencatatkan kinerja positif seiring meningkatnya mobilitas dan aktivitas masyarakat menjelang akhir tahun," tulis Ramdan dalam keterangan resmi, Senin (12/1).

Secara bulanan, Ramdan melaporkan penjualan eceran pada Desember 2025 diprakirakan melonjak signifikan sebesar 4,0%. Angka ini jauh melampaui pertumbuhan pada November 2025 yang tercatat sebesar 1,5%.

Akselerasi tersebut didorong oleh hampir seluruh kelompok barang, terutama peralatan informasi dan komunikasi serta perlengkapan rumah tangga lainnya, yang mengalami peningkatan permintaan sejalan dengan tingginya aktivitas belanja masyarakat selama periode libur panjang akhir tahun.

Sebelumnya, IPR secara tahunan juga mencatatkan pertumbuhan yang kuat sebesar 6,3% secara tahunan (yoy) pada November 2025. Menurut Ramdan, capaian tersebut menjadi indikasi awal meningkatnya geliat konsumsi masyarakat menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, yang mendorong penjualan di berbagai kelompok barang utama.

Meski kinerja penjualan eceran menunjukkan tren positif, Bank Indonesia tetap mencermati potensi tekanan harga yang dapat muncul ke depan. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk Februari 2026 tercatat meningkat ke level 168,6, dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 163,2.

"Kenaikan ini mencerminkan ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi lonjakan harga kebutuhan pokok seiring mendekatnya periode Ramadan 1447 Hijriah," terang Ramdan.

Namun demikian, BI memperkirakan tekanan inflasi bersifat sementara. Dalam horizon jangka menengah atau enam bulan mendatang, ekspektasi tekanan harga justru menunjukkan tren penurunan.

Hal ini tercermin dari Indeks Ekspetasi Harga Umum (IEH) Mei 2026 yang turun ke level 154,5 dari sebelumnya 161,7, mengindikasikan potensi meredanya tekanan inflasi seiring membaiknya pasokan dan stabilitas harga di tingkat konsumen.