periskop.id - Gen Z kerap dicap sebagai generasi paling boros dan gemar berutang demi gaya hidup. Sedikit-sedikit pinjam, sedikit-sedikit nyicil, begitu stereotip yang beredar luas. Namun, benarkah anak muda hari ini hobi berutang hanya demi terlihat keren? Data justru menunjukkan cerita yang jauh berbeda. Di balik maraknya pinjaman online, ada realitas ekonomi yang menekan dan pilihan terbatas yang jarang dibicarakan.

Benarkah Gen Z Hobi Utang Demi Gaya? Cek Faktanya!

Sering muncul anggapan bahwa Gen Z hobi berutang di aplikasi pinjaman online (pinjol) hanya untuk terlihat keren, seperti membeli handphone baru, nongkrong di tempat mahal, atau liburan. Padahal, data yang ada menunjukkan fakta sebaliknya. Riset Jakpat pada tahun 2024 mencatat bahwa pengguna pinjol berbasis uang tunai ini jumlahnya tidak banyak, hanya 10% dari total responden. Angka ini membuktikan bahwa tuduhan Gen Z sebagai generasi yang boros tidak sepenuhnya benar.

Alasan mereka meminjam pun ternyata sangat mendasar, bukan untuk foya-foya. Mayoritas pengguna, yakni sebanyak 62%, memakai dana tersebut untuk keperluan mendesak. Sebanyak 42% menggunakannya untuk belanja kebutuhan sehari-hari, sementara sisanya memakai uang itu untuk membayar tagihan rutin, modal usaha kecil-kecilan, atau melunasi kewajiban lain.

Data ini memperlihatkan bahwa keputusan meminjam uang bukan didasari oleh keinginan bersenang-senang, melainkan karena kondisi keuangan yang terdesak. Saat ada keperluan mendadak dan tabungan sedang kosong, pinjol sering kali menjadi satu-satunya jalan keluar yang cepat. Jadi, daripada buru-buru menilai Gen Z berperilaku konsumtif, lebih baik kita melihat fakta bahwa mereka sebenarnya sedang berjuang menghadapi tantangan ekonomi yang nyata.

Gaji di Bawah Rp2,5 Juta: Realita Pahit Ekonomi Gen Z

Penggunaan pinjol di kalangan Generasi Z tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi mereka yang belum mapan. Sebagai generasi yang berada pada fase awal kehidupan produktif, Gen Z umumnya masih berstatus pelajar, mahasiswa, fresh graduate, atau pekerja dengan masa kerja pendek. Kondisi ini berdampak langsung pada tingkat pendapatan yang rendah dan keterbatasan kemampuan finansial untuk menghadapi kebutuhan mendesak.

Jurnal bertajuk Perilaku Generasi Z terhadap Pinjaman Online (Studi Kualitatif Mengenai Kebutuhan Finansial Jangka Pendek, Gaya Hidup, Literasi Keuangan, Promosi, Persepsi Risiko, dan Status Sosial) menegaskan bahwa kebutuhan finansial jangka pendek menjadi faktor dominan yang mendorong Gen Z menggunakan layanan pinjol. Mayoritas responden mengaku memanfaatkan pinjol untuk kebutuhan yang tidak bisa ditunda, seperti biaya pendidikan, kesehatan, hingga kebutuhan hidup harian. Artinya, pinjol lebih sering digunakan sebagai alat bertahan, bukan semata-mata untuk konsumsi gaya hidup.

Temuan ini diperkuat oleh Indonesia Gen Z Report 2024 yang menunjukkan bahwa lebih dari 50% Gen Z Indonesia memiliki pendapatan di bawah Rp2,5 juta per bulan. Dengan penghasilan sebesar itu, Gen Z menghadapi kesenjangan antara pendapatan dan biaya hidup, terutama di wilayah perkotaan. Kondisi ini membuat mereka sulit memiliki tabungan atau dana darurat yang memadai.

Ketika kebutuhan mendesak muncul, keterbatasan akses ke kredit formal seperti perbankan, mendorong Gen Z beralih ke pinjol yang menawarkan proses cepat dan mudah. Dalam konteks ini, pinjol dipersepsikan sebagai solusi instan atas tekanan ekonomi jangka pendek.

Godaan Cair Kilat: Mengapa Pinjol Lebih Menarik dari Bank?

Selain faktor kebutuhan, kemudahan akses menjadi alasan kuat mengapa pinjol begitu cepat diterima oleh Gen Z. Proses pengajuan yang serba digital, pencairan dana dalam hitungan jam, dan tanpa adanya jaminan membuat pinjol terasa jauh lebih praktis dibandingkan lembaga keuangan konvensional. Faktor ini menjadi daya tarik utama bagi responden.

Tidak hanya itu, iklan dan promosi juga memainkan peran besar. Penawaran bunga rendah, cicilan ringan, hingga klaim aman sering kali menjadi pemicu meningkatnya minat, terutama bagi Gen Z yang akrab dengan media digital. Sayangnya, tidak semua pengguna benar-benar memahami risiko jangka panjang dari utang pinjol.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berulang kali mengingatkan bahwa pinjol tetap memiliki risiko, terutama jika digunakan tanpa perhitungan matang. Bunga, denda keterlambatan, hingga potensi jerat utang menjadi ancaman nyata. Rendahnya literasi keuangan membuat sebagian pengguna baru menyadari konsekuensi setelah terlambat.

Di sinilah pentingnya mengubah sudut pandang. Alih-alih terus menyalahkan Gen Z, diskusi seharusnya bergeser pada peningkatan literasi keuangan dan perlindungan konsumen. Karena pada akhirnya, masalah utamanya bukan siapa yang meminjam, tetapi seberapa siap mereka memahami risikonya.