periskop.id - Berhenti menyebut Gen Z dan Milenial hanya peduli pada konten hiburan. Survei terbaru dari Muda Bicara ID memberikan sinyal keras bagi para politisi bahwa anak muda tidak lagi tidur. Dengan angka intensitas yang mencapai lebih dari 91%, politik telah menjadi bagian dari konsumsi rutin di media sosial. Namun, di tengah banjir informasi, ke mana mereka sebenarnya mencari kebenaran? Apakah mereka lebih percaya pada media resmi atau justru terjaring narasi para influencer?

91,8% Anak Muda Aktif Ikuti Isu Politik

Selama ini, ada stigma bahwa anak muda adalah kelompok yang apatis. Namun, data berbicara sebaliknya. Berdasarkan hasil survei, intensitas kelompok muda dalam mengikuti perkembangan isu politik di media sosial sangatlah tinggi. Tercatat sebanyak 42,80% responden menyatakan sangat sering dan 49,00% menyatakan cukup sering memantau isu politik. Jika kita totalkan, ada sekitar 91,8% anak muda yang menjadikan politik sebagai konsumsi rutin mereka.

Hanya ada sekitar 7,50% yang mengaku jarang dan angka yang hampir tidak terlihat, yaitu 0,70% untuk kategori tidak pernah. Angka ini merupakan sinyal kuat bagi para politisi dan pengambil kebijakan bahwa anak muda tidak lagi tidur. Mereka menonton, membaca, dan mungkin saja sedang mengetik komentar kritis di media sosial.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Media sosial berhasil mendemokratisasi informasi. Jika dulu kita harus menunggu jam tayang berita di televisi, sekarang informasi politik hadir dalam bentuk reels, threads, atau konten singkat yang mudah dikunyah sambil minum kopi. Transformasi dari konsumsi informasi yang bersifat pasif menjadi aktif inilah yang membuat angka sangat sering begitu mendominasi. Politik bukan lagi soal rapat formal di gedung Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), melainkan apa yang sedang trending di linimasa mereka pagi ini.

Cari Info Politik: Masih Percaya Media atau Cuma Influencer?

Setelah melihat tingginya intensitas anak muda mengonsumsi informasi, muncul pertanyaan penting, ke mana mereka mencari kebenaran? Di tengah banjir informasi dan risiko hoaks, anak muda ternyata masih memiliki kompas kepercayaan yang cukup jelas.

Media massa arus utama tetap menjadi rujukan utama dengan persentase 52,4%. Hal ini menunjukkan bahwa, meski berada di era disrupsi digital, kredibilitas dan jurnalisme profesional masih dianggap penting sebagai dasar verifikasi informasi.

Namun, pilihan berikutnya memperlihatkan pergeseran budaya. Media konten khusus atau alternatif dipercaya oleh 23% responden, disusul influencer sebesar 15,1%. Pola ini menandakan bahwa anak muda menyukai informasi yang tidak terlalu kaku, mereka membutuhkan data dari media resmi, sekaligus penjelasan yang lebih ringan, manusiawi, dan relevan dari kreator konten.

Sementara itu, kepercayaan terhadap pejabat publik hanya mencapai 2,9%, masih di bawah akun hiburan (4,2%) dan hampir setara dengan akademisi (2,4%). Temuan ini menjadi catatan penting karena komunikasi pejabat masih dianggap terlalu formal dan kurang selaras dengan gaya audiens digital anak muda.

Ketika Data Bertemu Narasi: Cara Anak Muda Memahami Politik

Data di atas memperlihatkan dengan jelas bagaimana anak muda mengonsumsi informasi politik saat ini. Mereka hidup di dua dunia sekaligus, tetap mempercayai akurasi media massa, tetapi memahami isu politik melalui kurasi dan sudut pandang para kreator konten. Pola ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, politik menjadi lebih mudah dipahami dan terasa dekat. Di sisi lain, cara sebuah isu dibingkai oleh kreator sangat berpengaruh dalam membentuk opini anak muda.

Minimnya ketertarikan pada akun resmi pejabat publik dan akademisi menunjukkan adanya persoalan kepercayaan, atau setidaknya ketidaksesuaian gaya komunikasi. Anak muda tidak hanya mencari informasi satu arah, tetapi perspektif, sikap, dan ruang untuk terlibat dalam diskusi. Mereka ingin merasa diajak berpikir, bukan sekadar diberi pengumuman. Karena itu, jika pejabat dan akademisi ingin lebih didengar, mereka perlu belajar dari influencer soal cara bercerita yang menarik, tanpa mengorbankan kekuatan data.

Kesimpulannya, politik Indonesia kini benar-benar hidup di ruang digital, dengan anak muda sebagai aktor aktif di dalamnya. Tantangan ke depan adalah memastikan tingginya intensitas konsumsi informasi ini sejalan dengan literasi digital yang kuat, agar anak muda tidak terjebak dalam gelembung informasi atau sudut pandang yang sempit.