periskop.id - Kasus dugaan pelecehan seksual kembali mencuat dan menghebohkan pengguna X, kali ini melibatkan seorang pemilik brand lokal populer. Melalui cerita yang dibagikan oleh korban bernama Saa, kita diingatkan kembali bahwa lingkungan kerja profesional sekali pun bisa menjadi tempat yang tidak aman jika ada penyalahgunaan kekuasaan. Dari jebakan ajakan makan siang hingga tindakan agresif di studio foto, pengakuan ini menjadi bola salju yang menyeret nama besar hingga kehilangan berbagai kontrak kerja sama. Berikut adalah poin-poin penting dari kasus yang sedang menyita perhatian publik ini.
Kronologi Kasus Pelecehan Owner Brand M
Segala sesuatu yang dimulai dengan profesionalisme tidak selalu berakhir demikian. Inilah yang dialami oleh Saa, pemilik akun @aarummanis. Pada Mei 2025, ia menerima tawaran pekerjaan sebagai talenta untuk sesi pemotretan dan video sebuah brand lokal terkenal. Awalnya, semua tampak normal. Proses produksi berjalan lancar di sebuah studio dengan kehadiran dua fotografer (salah satunya adalah sang pemilik brand berinisial M) dan seorang talent scouter.
Namun, petaka justru dimulai saat lampu kamera mulai padam. Setelah pekerjaan usai, si pemilik brand mengajak Saa untuk makan siang. Sebuah ajakan yang dianggap Saa sebagai friendly gesture atau keramahan profesional antarrekan kerja. Apalagi, saat itu ia merasa lapar setelah bekerja seharian. Saa mengira mereka akan makan bersama-sama dengan tim lainnya di luar lokasi studio.
Sayangnya, ekspektasi Saa akan keramahan profesional tersebut seketika runtuh saat realita berkata lain. Bukannya beranjak ke rumah makan seperti rencana awal, ia justru diarahkan untuk kembali masuk ke area pemotretan. Saa sempat merasa bingung dan menaruh curiga, hingga ia mempertanyakan alasan mengapa mereka tidak jadi makan di luar serta menanyakan keberadaan sosok talent scouter yang seharusnya ikut bersama mereka. Namun, pertanyaan tersebut sengaja tidak digubris oleh sang pemilik brand. Pelaku M hanya memintanya untuk menunggu di dalam ruangan agar merasa lebih sejuk.
Ketegangan semakin memuncak saat Saa diminta menunggu di dalam ruangan tersebut dalam kondisi hanya berdua dengan pelaku. Tak lama kemudian, M berdalih bahwa makanan akhirnya dipesan melalui aplikasi daring saja. Di momen itulah, pelaku mulai melancarkan aksi bejatnya. Meskipun Saa sudah menyatakan penolakan secara tegas dan mencoba memberikan perlawanan, sang pemilik brand tidak mengindahkan hal tersebut dan tetap bersikap agresif.
Setelah aksi pelecehan itu berakhir, Saa akhirnya dibiarkan pulang. Namun, guncangan psikis yang dialaminya begitu dahsyat. Saking hebatnya rasa takut dan trauma yang menyergap, Saa mengaku sampai kehilangan kendali fungsi tubuhnya hingga mengompol saat berada di dalam taksi daring dalam perjalanan pulang. Luka batin ini terasa semakin menyesakkan saat ia kemudian mengetahui bahwa pelaku ternyata sudah berkeluarga. Hal ini meninggalkan trauma mendalam bagi Saa yang mengaku selalu merasa mual dan ingin muntah setiap kali melihat wajah pelaku muncul di media sosial.
Identitas Terungkap: Nama Mohan Hazian Terseret
Meski dalam utasnya Saa tidak menyebutkan nama lengkap pelaku, tetapi warganet bergerak cepat. Berdasarkan petunjuk inisial M, pemilik brand lokal ternama, dan berbagai bukti digital yang beredar, warganet mengerucutkan dugaan pada sosok Mohan Hazian, pendiri brand streetwear Thanksinsomnia. Kabar ini pun meledak hingga nama Mohan menjadi trending topic di X pada Senin, 9 Februari 2026.
Menariknya, kasus ini tidak berhenti pada sekadar perbincangan. Dampak nyatanya langsung terasa pada ekosistem bisnis yang melibatkan terduga pelaku. Salah satu langkah paling tegas diambil oleh Shira Media, penerbit yang menaungi buku-buku karya Mohan Hazian seperti Goresan Seorang Berandal dan Memulai Bisnis Kecil Di Internet. Melalui akun resminya, Shira Media menyatakan memutus seluruh aktivitas kerja sama, mulai dari distribusi hingga rencana cetak ulang.
Langkah ini dianggap sebagai langkah penting bahwa industri kreatif tidak lagi menoleransi pelaku kekerasan seksual, terlepas dari seberapa besar nama mereka. Hal yang lebih mengejutkan lagi, setelah unggahan Saa viral, setidaknya ada tiga orang lainnya yang menghubungi Saa dan mengaku mengalami pola pelecehan yang serupa dari orang yang sama. Ini menunjukkan bahwa apa yang dialami Saa mungkin hanyalah puncak gunung es dari sebuah perilaku yang berulang. Keberanian Saa berbicara telah membuka pintu bagi korban-korban lain untuk tidak lagi merasa sendirian di tengah trauma yang mereka simpan rapat-rapat selama ini.
Penyalahgunaan Kuasa dan Kontrol
Di bagian akhir pengakuannya, Saa menuliskan sesuatu yang sangat mendalam bahwa pelecehan seksual selalu tentang kontrol dan kekuasaan. Kalimat ini menjadi tamparan keras bagi kita semua. Kasus ini bukan sekadar tentang peristiwa asusila, melainkan tentang bagaimana seseorang menyalahgunakan posisi tawar yang lebih tinggi, sebagai bos atau pemilik bisnis untuk menekan orang lain yang berada di bawah kendalinya.
Saa mengaku tidak meminta keadilan hukum secara muluk-muluk karena ia merasa pesimis dengan minimnya bukti fisik setelah kejadian yang berlangsung setahun lalu. Ia hanya ingin melepaskan beban luka dan memori yang selama ini menyiksa batinnya. Sikap menyalahkan diri sendiri (self-blame) yang sempat ia alami adalah respons traumatis yang umum terjadi pada korban pelecehan. Melalui dukungan publik, ia berharap beban tersebut perlahan terangkat.
Tinggalkan Komentar
Komentar