periskop.id - Berawal dari ajakan makan siang yang tampak biasa, sebuah sesi pemotretan profesional justru berubah menjadi mimpi buruk bagi seorang model berinisial Saa. Namun, pengakuan Saa di media sosial hanyalah puncak dari gunung es. Di balik nama besar brand lokal Thanksinsomnia, terkuak deretan kesaksian kelam yang merentang hingga delapan tahun silam. Inilah rangkaian peristiwa kasus dugaan kekerasan seksual yang menyeret Mohan Hazian.
Siasat Makan Bareng yang Berujung Trauma
Kasus ini mencuat ke permukaan setelah akun X @aarummanis atau yang akrab disapa Saa membagikan pengalaman pahitnya. Saa bukan orang baru di industri kreatif. Ia dikenal sebagai model dan pembuat konten. Kejadian traumatis tersebut dilaporkan terjadi pada Mei 2025, saat ia terlibat dalam proyek pemotretan dan pengambilan video untuk sebuah brand lokal.
Awalnya, pekerjaan berjalan normal. Masalah muncul saat sesi selesai dan tim berniat pulang. Saa diajak makan oleh sang pemilik brand berinisial M (yang kemudian dikaitkan dengan Mohan). Namun, situasi berubah mencekam ketika seorang rekan kerja lainnya izin pergi sebentar untuk menaruh peralatan. Saa akhirnya ditinggal berdua saja dengan M. Bukannya menuju tempat makan, Saa justru dibawa kembali ke area photoshoot.
Di sinilah tindakan tidak senonoh itu terjadi. Menurut pengakuan Saa, M mulai melakukan kontak fisik paksa, menciumnya, hingga melakukan masturbasi di hadapannya. Saa mengaku sempat mencoba melawan dengan mendorong dan memukul, tapi kalah tenaga.
"Saya masih jijik dan masih trauma sampai sekarang," ungkapnya dalam cuitan yang dikutip pada Senin (9/2/2026). Kejadian ini memicu kemarahan netizen karena modus mengajak makan dianggap sebagai jebakan yang sangat manipulatif.
Pola yang Berulang: Dari Korban 17 Tahun hingga 8 Tahun Silam
Setelah keberanian Saa bersuara, unggahan tersebut bak menjadi pintu masuk bagi korban-korban lain yang selama ini bungkam. Inilah yang sering disebut sebagai fenomena gunung es dalam kasus kekerasan seksual, apa yang terlihat di permukaan hanya sebagian kecil dari kenyataan yang ada. Beberapa korban mulai menghubungi Saa dan memberikan kesaksian serupa yang terjadi dalam rentang waktu berbeda.
Salah satu pengakuan yang paling menyita perhatian datang dari seorang korban anonim yang mengaku dilecehkan saat ia masih berusia 17 tahun. Kejadiannya sekitar tiga tahun lalu dengan modus yang hampir sama, yaitu diajak bicara berdua, lalu pelaku melakukan tindakan eksibisionis dengan menunjukkan alat kelaminnya. Tak berhenti di situ, korban lain muncul dengan cerita dari 8 tahun lalu. Ia mengaku hampir diperkosa, tapi berhasil meloloskan diri di saat-saat terakhir.
Selain kekerasan fisik, ada pula korban yang mengungkap kekerasan verbal melalui aplikasi kencan. Ia mengaku dikirimi pesan-pesan eksplisit yang sangat tidak sopan oleh pria berinisial M tersebut. Rentetan pengakuan ini menunjukkan pola yang konsisten, pelaku memanfaatkan posisi tawar atau kekuasaan sebagai pemilik brand besar untuk mengintimidasi korban. Hal ini membuat publik bertanya-tanya: sudah berapa banyak orang yang menjadi korban selama bertahun-tahun Mohan berkecimpung di industri ini?
Klarifikasi Mohan dan Kritik Pedas Dokter Tirta
Menanggapi bola liar yang terus bergulir, Mohan akhirnya angkat bicara. Melalui unggahan di Instagram pribadinya pada Selasa (10/2/2026), ia menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang terjadi. Meski begitu, ada poin yang ditegaskan oleh Mohan, ia membantah tuduhan pemerkosaan.
"Saya bukan seorang pemerkosa dan saya tidak pernah memperkosa siapa pun," tegasnya dalam pernyataan tertulis.
Mohan mengakui adanya kekhilafan di masa lalu dengan wanita lain, tapi ia merasa narasi yang beredar di media sosial tidak sepenuhnya menggambarkan kenyataan utuh. Ia pun memilih membatalkan konferensi pers yang semula dijadwalkan dan lebih memilih menyampaikan pernyataan pribadi karena merasa dampaknya sudah sangat merugikan keluarga serta bisnisnya. Namun, klarifikasi ini justru dianggap kontradiktif oleh sebagian pihak.
Dokter Tirta ikut memberikan komentar pedas. Menurutnya, video klarifikasi awal yang diunggah Mohan justru memancing amarah karena dianggap tidak menjawab substansi banyaknya jumlah korban yang muncul.
"Tuduhan ke kamu nggak 1-2, tapi ada banyak! Dan itu semua harus kamu jelaskan," tulis dr. Tirta. Mohan sendiri menyatakan siap menanggung konsekuensi kehilangan pekerjaan dan kepercayaan demi memperbaiki diri. Namun, bagi publik, permintaan maaf saja tentu tidak menghapus jejak trauma para korban.
Tinggalkan Komentar
Komentar