periskop.id - Puasa selama Ramadan bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga menyimpan manfaat kesehatan yang didukung sains. Sejumlah temuan yang dirangkum oleh Healthline mengungkap bahwa pola puasa, termasuk intermittent fasting, dapat membantu menstabilkan gula darah, menurunkan peradangan, menjaga kesehatan jantung, hingga mendukung pengelolaan berat badan. Lalu, apa saja manfaat kesehatan yang bisa diperoleh jika puasa dijalankan dengan pola yang tepat? Berikut penjelasannya.
1. Menstabilkan Gula Darah dan Mencegah Diabetes
Banyak orang mengalami lonjakan gula darah akibat resistensi insulin yang tidak terkontrol. Puasa membantu memperbaiki kondisi ini dengan meningkatkan sensitivitas insulin. Ketika tubuh berpuasa, kadar insulin menurun sehingga sel menjadi lebih responsif dalam memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi.
Sebuah artikel jurnal berjudul “Intermittent fasting plus early time-restricted eating versus calorie restriction and standard care in adults at risk of type 2 diabetes: a randomized controlled trial” terhadap 209 partisipan menunjukkan bahwa intermittent fasting tiga kali per minggu dapat menurunkan risiko diabetes tipe 2 melalui peningkatan sensitivitas insulin. Saat resistensi insulin berkurang, tubuh mampu mengelola kadar gula darah dengan lebih stabil sehingga membantu mencegah lonjakan dan penurunan drastis yang sering terjadi.
2. Melawan Peradangan Tersembunyi dalam Tubuh
Peradangan atau inflamasi sebenarnya merupakan respons alami tubuh untuk melawan infeksi dan memperbaiki jaringan yang rusak. Namun, ketika inflamasi berlangsung dalam jangka panjang (kronis), kondisi ini dapat berkontribusi terhadap berkembangnya berbagai penyakit serius, seperti penyakit jantung, kanker, dan rheumatoid arthritis.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa intermittent fasting dapat membantu menurunkan kadar penanda inflamasi dalam tubuh. Sebuah tinjauan penelitian tahun 2022 terhadap 18 studi melaporkan bahwa pola puasa intermiten secara signifikan menurunkan kadar C-reactive protein, yaitu protein dalam darah yang digunakan sebagai indikator adanya peradangan. Dengan menurunkan kadar penanda inflamasi tersebut, puasa berpotensi mendukung kesehatan jangka panjang dan membantu mengurangi risiko penyakit kronis yang berkaitan dengan peradangan.
3. Menjaga Jantung Tetap Kuat dan Sehat
Penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Untuk menurunkan risikonya, kita tidak hanya perlu memperhatikan apa yang dimakan, tetapi juga kapan kita makan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa puasa selang-seling (alternate-day fasting) dapat membantu menurunkan kadar kolesterol total dan beberapa faktor risiko penyakit jantung, terutama pada orang yang memiliki berat badan berlebih. Selain itu, pola puasa tertentu juga dikaitkan dengan penurunan tekanan darah. Artinya, puasa bisa menjadi salah satu cara yang membantu menjaga kesehatan jantung, asalkan tetap disertai dengan pola makan yang sehat dan gaya hidup aktif.
4. Solusi Efektif Menurunkan Berat Badan dan Lemak Perut
Banyak orang mencoba puasa untuk membantu menurunkan berat badan. Secara sederhana, ketika waktu makan dibatasi, asupan kalori cenderung ikut berkurang. Tinjauan penelitian berjudul “Intermittent Fasting versus Continuous Calorie Restriction: Which Is Better for Weight Loss?” menunjukkan bahwa intermittent fasting lebih efektif dalam membantu penurunan berat badan dibandingkan dengan pembatasan kalori secara terus-menerus. Selain itu, beberapa penelitian juga menemukan bahwa puasa dapat membantu mengurangi lemak tubuh, termasuk lemak di area perut.
5. Membantu Pencegahan dan Pemulihan Kanker
Sebuah tinjauan penelitian tahun 2021 yang dipublikasikan dalam jurnal American Cancer Society menyebutkan bahwa intermittent fasting dalam kondisi tertentu berpotensi membantu memperlambat pertumbuhan tumor dan mengurangi toksisitas kemoterapi pada sebagian pasien.
Namun, para peneliti juga menekankan bahwa bukti yang ada masih terbatas dan diperlukan lebih banyak uji klinis berkualitas tinggi. Dalam beberapa jenis dan kondisi kanker, puasa bahkan berpotensi memberikan efek yang tidak diinginkan. Karena itu, pasien yang sedang menjalani terapi kanker tidak disarankan mencoba puasa tanpa pengawasan medis.
Tinggalkan Komentar
Komentar