Periskop.id - Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Tangerang Sari Nur Arofah menyatakan, mengonsumsi makanan berserat saat sahur, seperti sayur dan buah, membantu seseorang menjaga rasa kenyang lebih lama, khususnya saat puasa.

”Selain itu, hindari makanan berminyak agar tubuh tidak mudah mengantuk dan lemas di siang hari,” kata Sari di Tangerang, Sabtu (21/2). 

Hal lain yang bagus dikonsumsi saat sahur adalah lauk pauk yang mengandung protein, karena berperan penting dalam menjaga daya tahan tubuh.

“Apa yang dikonsumsi saat sahur dan berbuka sangat memengaruhi kondisi tubuh selama berpuasa. Oleh karena itu, pola makan selama Ramadan perlu diperhatikan agar tubuh tetap mendapatkan asupan energi dan nutrisi yang cukup," tuturnya. 

Sementara itu, saat berbuka puasa, orang yang berpuasa diimbau untuk makan secukupnya dan tidak berlebihan. Proses makan sebaiknya dilakukan secara bertahap agar perut tidak terasa sesak. 

Pilihlah menu bergizi seimbang serta kurangi konsumsi makanan yang terlalu manis, asin dan berlemak. “Dinkes juga mengingatkan pentingnya mencukupi kebutuhan cairan dengan minum delapan gelas air per hari. Waktu minum dapat dibagi mulai saat sahur, berbuka, setelah shalat magrib, isya dan tarawih, serta sebelum tidur,” ujar Sari.

Selain menjaga pola makan, masyarakat juga dianjurkan untuk mengatur aktivitas fisik, mencukupi waktu tidur, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan. "Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa puasa memiliki manfaat bagi kesehatan apabila dijalankan dengan pola hidup yang tepat," ucapnya. 

Jangan Berlebihan
Namun, menanggapi tren diet dengan memperbanyak asupan serat yang disebut fibermaxxing, ahli gizi klinis Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) mengingatkan, mengonsumsi serat secara berlebihan juga bisa memicu munculnya masalah kesehatan.

"Segala sesuatu yang berlebihan akan berakibat tidak baik. Konsumsi serat berlebihan akan mengurangi asupan makanan dari kelompok lain, misalnya bahan makanan sumber karbohidrat dan protein," kata Luciana seperti dilansir Antara.

Luciana menyampaikan, kebutuhan serat harian orang Indonesia berkisar 30 sampai 37 gram per hari. Konsumsi serat yang melebihi kebutuhan berisiko mengganggu keseimbangan asupan nutrisi, bisa menyebabkan penurunan asupan zat gizi penting lainnya.

Kalau tidak diimbangi dengan konsumsi cairan yang mencukupi, Luciana mengatakan, konsumsi makanan berserat secara berlebihan juga bisa memicu munculnya masalah pencernaan.

"Konsumsi serat berlebihan, jika tidak diimbangi asupan air yang cukup, dapat menyebabkan sembelit," serunya. 

Luciana mengatakan, walaupun berperan penting bagi kesehatan tubuh, serat tetap harus dikonsumsi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Menurut dia, serat antara lain dapat melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit.

Juga membantu mengontrol berat badan karena menimbulkan rasa kenyang lebih lama, serta membantu menjaga kadar gula darah dalam kisaran normal.

Selain itu, serat berperan dalam penurunan kadar kolesterol jahat, mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus, serta mengurangi risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker usus besar.​​​​​​​​​​​​​​

Luciana mengimbau masyarakat untuk tidak ikut-ikutan menerapkan diet populer yang tidak jelas dasar ilmiahnya. Ia menyarankan masyarakat untuk berpegang pada pedoman gizi yang dikeluarkan oleh institusi resmi.

"Sebaiknya mengikuti pedoman yang dianjurkan institusi yang bertanggung jawab. Anjuran konsumsi sayur dan buah, yang keduanya merupakan sumber serat, adalah setengah dari piring makan kita,” ucapnya. 

Luciana juga menyampaikan, pola makan dengan gizi seimbang merupakan kunci untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.