periskop.id - Bulan Ramadan selalu hadir dengan berbagai tradisi unik yang dijalankan oleh masyarakat. Salah satu tradisi yang cukup dikenal adalah sahur on the road (SOTR). Kegiatan ini dilakukan dengan menyantap sahur di luar rumah sembari berbagi makanan kepada mereka yang membutuhkan. Biasanya disertai dengan konvoi kendaraan bersama.
Selain berbagi, kegiatan ini biasanya dilanjutkan dengan kegiatan lain, seperti salat Subuh berjamaah, kajian agama, dan kegiatan keagamaan lainnya. Tradisi ini bukan hanya sekadar kegiatan sahur di luar, tetapi juga meningkatkan solidaritas dan mempererat rasa kebersamaan.
Meski terlihat positif, praktik SOTR sering kali disalahgunakan untuk melakukan hal-hal yang merugikan. Berdasarkan kasus-kasus yang pernah terjadi, kegiatan ini dimanfaatkan oleh oknum untuk membuat keributan, tawuran, merampas, hingga mengganggu ketertiban.
Setelah memahami sedikit tentang SOTR, sebenarnya bagaimana asal-usul tradisi ini hingga akhirnya berkembang dan menjamur di masyarakat?
Apa Itu Sahur on the Road (SOTR)?
Melansir dari situs Rumah Zakat, sahur on the road (SOTR) adalah kegiatan sahur yang dilaksanakan di luar rumah, seperti di jalanan atau tempat umum lainnya. Kegiatan ini dilakukan secara berkelompok dengan berkumpul bersama untuk menyantap sahur. Sering kali disertai dengan aksi berbagi makanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Biasanya, SOTR diselenggarakan oleh komunitas atau kelompok pertemanan dengan tujuan mempererat tali silaturahmi sekaligus menumbuhkan rasa solidaritas sosial. Pelaksanaannya biasanya dilakukan dengan berkeliling kota sambil mengunjungi tempat-tempat, seperti panti asuhan atau masjid.
Bagaimana Asal-Usul Tradisi Sahur on the Road?
Tradisi SOTR mulai berkembang pada awal tahun 2000-an. Pada mulanya, kegiatan ini dipopulerkan oleh media dan dimanfaatkan sebagai momen untuk membangunkan masyarakat agar bersiap menjalankan sahur.
Seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut kemudian berkembang dan berubah menjadi sebuah tradisi. Istilah sahur on the road pun digunakan untuk menamai tradisi ini. Umumnya, tradisi ini banyak dilakukan oleh kalangan pemuda.
Dampak yang Ditimbulkan
Dampak Positif
1. Menumbuhkan solidaritas sosial
Kegiatan ini sering dibarengi dengan berbagi makanan kepada sesama. Aktivitas ini mampu meningkatkan rasa peduli dan kebersamaan di antara masyarakat.
2. Meningkatkan motivasi anak muda untuk rajin beribadah
Tradisi ini mampu memberikan motivasi bagi anak muda untuk aktif berpartisipasi dalam melakukan aksi-aksi sosial. Aktivitas itu juga mampu meningkatkan kualitas ibadah di bulan Ramadan.
Dampak Negatif
Meski tradisi ini terlihat positif, terkadang sering disalahgunakan oleh oknum untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Beberapa kegiatan yang sering disalahgunakan, seperti menghambat arus lalu lintas, merampas barang, melakukan tawuran, dan mengganggu ketertiban umum.
Oleh karena itu, tradisi ini tidak hanya dipandang positif, tetapi juga menimbulkan citra yang negatif. Beberapa dampak negatif yang ditimbulkan tradisi ini antara lain:
1. Mengganggu ketertiban umum
SOTR kerap dilakukan secara konvoi dengan kendaraan. Hal tersebut dapat menimbulkan kebisingan dan mengganggu kenyamanan masyarakat.
2. Mengaburkan Esensi Ibadah
Tradisi ini juga sering digunakan sebagai ajang untuk bersenang-senang sehingga tidak ada niat tulus. Dengan begitu, nilai esensi dari ibadah dapat memudar.
3. Menimbulkan konflik
Berdasarkan kasus yang pernah terjadi, SOTR dapat menimbulkan pertengkaran dengan kelompok lain.
Tinggalkan Komentar
Komentar