Periskop.id - Pasar energi global kembali mengalami guncangan hebat pada awal pekan ini. Melansir CNBC pada Senin (27/4), harga minyak dunia melonjak sekitar 2% menyusul kabar kegagalan rencana putaran kedua negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. 

Kondisi ini diperparah dengan meningkatnya eskalasi militer di jalur laut paling strategis di dunia.

Harga minyak mentah Brent sebagai patokan internasional untuk kontrak berjangka tercatat naik lebih dari 2% menjadi US$107,89 per barel pada Minggu pukul 18.27 Eastern Time (ET) atau Senin pukul 05.27 Waktu Indonesia Barat (WIB). 

Tren serupa juga diikuti oleh minyak mentah Amerika Serikat yang melonjak lebih dari 2% hingga menyentuh angka US$96,63 per barel.

Pemicu utama sentimen negatif pasar ini bermula ketika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Sabtu secara mendadak membatalkan rencana pengiriman utusan khusus ke Islamabad, Pakistan. 

Sedianya, Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan terbang untuk melakukan negosiasi langsung dengan perwakilan Iran.

Melalui unggahan di platform Truth Social, Donald Trump memberikan alasan tajam di balik pembatalan tersebut. Ia menilai kondisi kepemimpinan Iran saat ini sedang mengalami kekacauan internal yang hebat.

“Terlalu banyak waktu terbuang untuk perjalanan, terlalu banyak pekerjaan! Selain itu, ada pertikaian internal yang luar biasa dan kebingungan dalam ‘kepemimpinan’ mereka,” tulis Trump dalam unggahannya.

Ia juga menambahkan dengan nada provokatif mengenai posisi tawar Amerika Serikat yang dianggapnya jauh lebih kuat. 

“Tidak ada yang tahu siapa yang memegang kendali, termasuk mereka sendiri. Selain itu, kami memegang semua kartu; mereka tidak punya apa-apa! Jika mereka ingin berbicara, yang perlu mereka lakukan hanyalah menelepon!!!” ujar sang presiden.

Di sisi lain, situasi di lapangan semakin memanas. Korps Garda Revolusi Iran dilaporkan telah menaiki dua kapal kargo di dekat Selat Hormuz. Aksi ini dilakukan di tengah tingginya ketegangan di jalur pelayaran yang menjadi urat nadi distribusi minyak mentah dunia tersebut. Langkah militer Iran ini dianggap oleh pelaku pasar sebagai ancaman serius terhadap kelancaran pasokan energi global.

Sementara itu, upaya diplomatik dari sisi Iran juga menemui jalan buntu. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memang melakukan perjalanan ke Islamabad pada akhir pekan lalu. 

Namun, kunjungan tersebut hanya diisi dengan pertemuan bersama para pejabat Pakistan sebelum akhirnya ia meninggalkan lokasi tanpa ada pertemuan dengan pihak Amerika Serikat.

Pernyataan resmi dari Teheran semakin mempertegas bahwa tidak ada kemajuan dalam dialog kedua negara. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan melalui media sosial pada Jumat malam waktu setempat mengenai posisi negaranya.

“Tidak ada pertemuan yang direncanakan akan berlangsung antara Iran dan Amerika Serikat,” kata Esmaeil.

Kegagalan diplomasi di meja runding serta aksi provokasi di perairan internasional ini diprediksi akan terus menekan harga energi dalam beberapa hari ke depan. 

Para pelaku pasar kini bersiap menghadapi kemungkinan fluktuasi harga yang lebih besar jika tidak ada tanda-tanda deeskalasi di kawasan Timur Tengah.