Periskop.id - PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) baru saja merilis laporan kepemilikan saham emiten di atas 1% yang menyingkap tabir strategi investasi salah satu raksasa institusi di Indonesia, BPJS Ketenagakerjaan atau BPJamsostek. 

Laporan ini merupakan langkah transparansi publik sesuai dengan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenai penyediaan data kepemilikan saham perusahaan terbuka.

Berdasarkan data KSEI per 27 Februari 2026, BPJS Ketenagakerjaan tercatat sebagai investor strategis yang memiliki pengaruh besar di pasar modal tanah air. 

Meskipun dikenal memiliki profil risiko konservatif dengan alokasi utama pada instrumen surat utang, porsi saham tetap menjadi instrumen krusial, khususnya untuk mendukung Program Jaminan Hari Tua (JHT) dan Jaminan Pensiun (JP).

Postur Portofolio dan Dana Kelolaan

Hingga akhir Oktober 2025, total dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan tercatat mencapai angka fantastis sebesar Rp879,1 triliun. Dari jumlah tersebut, alokasi untuk instrumen saham mencapai 8,6% atau setara dengan Rp75,6 triliun.

Secara rinci, berikut adalah komposisi alokasi investasi BPJS Ketenagakerjaan:

  • Obligasi: 70,4%
  • Deposito: 16,4%
  • Saham: 8,6%
  • Lainnya: 4,6%

Dominasi obligasi menunjukkan fokus lembaga dalam menjaga stabilitas nilai dana peserta, sementara investasi pada saham difokuskan pada emiten blue chip yang memiliki kinerja fundamental stabil, likuiditas tinggi, serta konsisten dalam membagikan dividen untuk menutupi klaim peserta di masa depan.

Daftar Lengkap 34 Saham Koleksi BPJamsostek

Berdasarkan data yang dihimpun oleh USAID IUWASH Tangguh dari laporan KSEI, BPJS Ketenagakerjaan menggenggam saham di 34 emiten yang tersebar di sektor perbankan, properti, pertambangan, hingga konsumsi. Beberapa saham dikelola secara spesifik di bawah portofolio Jaminan Pensiun (JP), sementara mayoritas berada di bawah Jaminan Hari Tua (JHT).

Berikut adalah daftar lengkap kepemilikan saham di atas 1% oleh BPJS Ketenagakerjaan:

  1. PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI)
  2. PT Astra International Tbk. (ASII)
  3. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI)
  4. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI)
  5. PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN)
  6. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI)
  7. PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE)
  8. PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN)
  9. PT Ciputra Development Tbk. (CTRA)
  10. PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA)
  11. PT Harum Energy Tbk. (HRUM)
  12. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP)
  13. PT Vale Indonesia Tbk. (INCO)
  14. PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF)
  15. PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP)
  16. PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG)
  17. PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR)
  18. PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF)
  19. PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP)
  20. PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI)
  21. PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA)
  22. PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC)
  23. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS)
  24. PT Bukit Asam Tbk. (PTBA)
  25. PT PP (Persero) Tbk. (PTPP)
  26. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR)
  27. PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA)
  28. PT TIMAH Tbk. (TINS)
  29. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM)
  30. PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR)
  31. PT United Tractors Tbk. (UNTR)
  32. PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR)
  33. PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT)
  34. PT Wijaya Karya Beton Tbk. (WTON)

Dilihat dari daftar di atas, BPJS Ketenagakerjaan tampak sangat selektif dengan mengoleksi saham-saham berkapitalisasi besar seperti TLKM, ASII, dan empat bank besar (BBNI, BBRI, BBTN, BMRI). 

Kehadiran emiten sektor konstruksi seperti PTPP dan WSKT, serta sektor energi seperti PTBA dan ITMG, menunjukkan diversifikasi yang matang guna menyeimbangkan pertumbuhan nilai aset dalam jangka panjang.