Periskop.id - Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian dunia seiring meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

Melansir dari Visual Capitalist, selat ini merupakan salah satu titik sempit atau chokepoint jalur energi paling krusial di planet bumi. 

Kestabilan ekonomi global, baik bagi negara pengekspor maupun pengimpor minyak mentah, sangat bergantung pada kelancaran arus perdagangan yang melewati jalur sempit ini.

Berdasarkan data dari U.S. Energy Information Administration (EIA) untuk periode kuartal pertama tahun 2025, pemetaan arus minyak mentah dan kondensat menunjukkan konsentrasi yang sangat tinggi pada segelintir pemain besar. 

Gangguan sedikit saja pada jalur ini diprediksi akan mengguncang pasar energi internasional secara instan.

Negara Pengekspor Minyak Terbesar Melalui Selat Hormuz

Arus minyak yang melintasi Selat Hormuz dikuasai oleh segelintir produsen raksasa di kawasan Teluk Persia. Arab Saudi tercatat sebagai pemain utama dengan menyumbang porsi terbesar, yakni 37,2% dari total volume ekspor yang melintasi selat tersebut.

Berikut adalah rincian pangsa ekspor minyak mentah dan kondensat melalui Selat Hormuz pada kuartal I 2025:

Negara Asal EksporPangsa Volume
Arab Saudi37,2%
Irak22,8%
Uni Emirat Arab12,9%
Iran10,6%
Kuwait10,1%
Qatar4,4%
Lainnya1,9%

Data tersebut menunjukkan bahwa lima negara teratas, mulai dari Arab Saudi hingga Kuwait, secara kolektif menyumbang 93,6% dari seluruh volume minyak yang melintas. 

Hal ini membuktikan betapa pasokan energi dunia sangat bergantung pada stabilitas politik dan keamanan di kawasan Teluk.

Negara yang paling bergantung pada minyak Selat Hormuz

Dari sisi konsumsi, negara negara di Asia menjadi pihak yang paling rentan jika terjadi gangguan di Selat Hormuz. Secara kolektif, kawasan Asia menyerap 89,2% dari seluruh minyak mentah dan kondensat yang dikirim melalui jalur laut ini.

China muncul sebagai tujuan ekspor terbesar dengan selisih angka yang sangat signifikan dibandingkan negara lain. Berikut adalah rincian negara tujuan impor pada kuartal I 2025:

Negara atau Kawasan TujuanPangsa Impor
China37,7%
India14,7%
Asia Lainnya13,9%
Korea Selatan12,0%
Jepang10,9%
Eropa3,8%
Amerika Serikat2,5%
Lainnya4,5%

Sangat kontras dengan ketergantungan Asia yang tinggi, Amerika Serikat hanya menerima sekitar 2,5% dari aliran minyak Selat Hormuz. Hal ini mencerminkan keberhasilan AS dalam meningkatkan produksi energi domestik serta diversifikasi sumber impor mereka.

Mengapa Selat Hormuz Penting bagi Perdagangan Minyak Dunia?

Ketegangan militer terbaru di Timur Tengah membawa ancaman nyata bagi keamanan energi. Pernyataan Iran yang menyebut akan menyerang kapal mana pun yang melintasi selat tersebut menempatkan lebih dari 20% aliran minyak dunia dalam risiko besar.

Jika Selat Hormuz benar benar ditutup atau mengalami gangguan operasional yang serius, dampaknya akan sangat mematikan bagi ekonomi Asia. 

China dan India, yang secara gabungan menerima lebih dari separuh volume minyak di selat tersebut, akan menghadapi krisis energi yang mampu melumpuhkan sektor industri dan transportasi mereka. 

Situasi ini tidak hanya menjadi masalah regional, tetapi juga menjadi bom waktu bagi stabilitas harga komoditas global.