Periskop.id - Dunia internasional kini tengah menyoroti perkembangan pesat Organisasi Kerja Sama Ekonomi D-8.
Kelompok yang digagas untuk memperkuat posisi negara-negara berkembang berpenduduk mayoritas Muslim ini bukan sekadar aliansi regional, melainkan sebuah pengaturan global yang strategis.
Dengan Sekretariat yang berkedudukan di Istanbul, Turki, organisasi ini kini dipimpin oleh Duta Besar Sohail Mahmood dari Pakistan sebagai Sekretaris Jenderal.
Sejarah dan Misi Besar D-8
Melansir dari laman resminya, Gagasan pembentukan D-8 pertama kali dicetuskan oleh Perdana Menteri Turki, Necmettin Erbakan, pada Oktober 1996.
Melalui Deklarasi Istanbul yang diresmikan pada 15 Juni 1997, organisasi ini menetapkan tujuan untuk mendiversifikasi peluang perdagangan, meningkatkan standar hidup masyarakat, serta memperkuat partisipasi negara anggota dalam pengambilan keputusan internasional.
Hingga tahun 2026, jumlah anggota D-8 telah berkembang menjadi sembilan negara menyusul bergabungnya Azerbaijan secara resmi pada tahun 2025.
Berikut adalah profil mendalam dari masing-masing negara anggota yang menjadi pilar kekuatan organisasi ini:
1. Azerbaijan
Azerbaijan yang beribu kota di Baku mencatatkan PDB sebesar US$74,6 miliar. Meskipun sektor hidrokarbon masih menyumbang 90% pendapatan ekspor, Azerbaijan tengah gencar melakukan transformasi energi.
Negara ini menargetkan kapasitas energi surya dan angin melonjak menjadi 1,5 gigawatt pada 2030 demi ambisi mengekspor hidrogen rendah karbon ke Eropa.
2. Bangladesh
Dengan PDB mencapai US$475,01 miliar dan penduduk 175,7 juta jiwa, Bangladesh adalah produsen garmen terbesar kedua di dunia.
Industri tekstil menyumbang 81% total ekspornya. Selain manufaktur, sektor jasa seperti perbankan kini menjadi kontributor PDB tertinggi yang menopang stabilitas ekonomi di kawasan.
3. Indonesia
Indonesia merupakan salah satu ekonomi terbesar di D-8 dengan PDB sebesar US$1,44 triliun. Struktur ekonominya ditopang oleh manufaktur otomotif, elektronik, dan pengolahan sumber daya alam.
Pertumbuhan konsumsi rumah tangga serta sektor jasa transportasi dan informasi menjadi penggerak utama bagi 284,43 juta penduduknya.
4. Iran
Republik Islam Iran memegang peranan vital dalam organisasi ini. Beribu kota di Teheran, Iran memiliki penduduk sebanyak 92,4 juta jiwa dengan PDB sebesar US$356,51 miliar.
Kekuatan utama Iran terletak pada kepemilikan 10% cadangan minyak dunia yang menyumbang 80% dari total ekspor nasional.
Namun, ekonomi Iran tidak hanya bergantung pada minyak. Negara ini memiliki basis industri yang sangat luas, mulai dari otomotif, farmasi, hingga fabrikasi logam.
Produk khas seperti karpet, buah-buahan, dan kacang-kacangan juga menjadi komoditas ekspor unggulan yang memperkuat struktur ekonomi domestik Iran di tengah dinamika global.
5. Malaysia
Malaysia mencatatkan PDB sebesar US$470,57 miliar dengan fokus utama pada sektor jasa dan manufaktur elektronik.
Sebagai produsen semikonduktor penting dunia, Malaysia kini mulai merambah industri hijau dan digitalisasi yang intensif pengetahuan untuk mendorong lebih dari 60% total ekspor negaranya.
6. Mesir
Perekonomian Mesir mengandalkan pendapatan dari Terusan Suez, minyak bumi, dan pariwisata budaya seperti Piramida Giza.
Sektor pertanian tetap menjadi tulang punggung dengan menyerap 31% tenaga kerja, menghasilkan komoditas unggulan seperti kapas dan gandum untuk pasar internasional.
7. Nigeria
Nigeria adalah produsen minyak terbesar di Afrika dengan jumlah penduduk mencapai 240,3 juta jiwa.
Sektor jasa, khususnya informasi dan komunikasi, menyumbang 50% PDB. Nigeria juga memegang predikat sebagai produsen singkong terbesar di dunia dengan basis manufaktur terunggul di wilayah Afrika Barat.
8. Pakistan
Pakistan memiliki PDB sebesar US$410,50 miliar dengan kekuatan utama pada sektor jasa dan industri tekstil.
Sebagai produsen kapas terbesar keempat di dunia, Pakistan menjadi pengekspor tekstil terbesar kedelapan di Asia. Pertanian tetap menjadi pilar yang menyerap lebih dari setengah tenaga kerja nasional.
9. Turki
Turki mencatatkan PDB tertinggi di grup ini sebesar US$1,57 triliun dolar AS. Sebagai manufaktur terbesar ke-12 dunia, Turki unggul di sektor otomotif dan peralatan rumah tangga.
Lompatan besar terlihat pada sektor pertahanan, di mana Turki kini menjadi eksportir alutsista mandiri dengan tingkat lokalisasi komponen mencapai 80%.
Tinggalkan Komentar
Komentar