Periskop.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengumumkan, pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) D-8 2026 di Jakarta ditunda sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Dalam taklimat media Kemlu di Jakarta, Jumat (13/3), Direktur Kerja Sama Multilateral Tri Tharyat menyampaikan, Menteri Luar Negeri RI Sugiono telah mengirimkan surat kepada negara mitra D-8 yang berisi penundaan pelaksanaan KTT D-8 dan seluruh rangkaian kegiatannya.
"Mengenai penetapan tanggal selanjutnya, tentunya kita akan bicarakan secara lebih detail pada saatnya. Saat ini mungkin belum waktunya karena perkembangan yang masih terus berlangsung di wilayah Timur Tengah, " serunya.
Menurutnya, keputusan tersebut diambil setelah pihak Kemlu berkonsultasi dengan Sekjen D-8, komisioner, dan para duta besar negara anggota D-8 serta para mitra di negara akreditasi masing-masing. Dia juga mengatakan negara anggota D-8 memberi masukan terkait pelaksanaan KTT D-8 dan memahami keadaan yang sedang sulit akibat perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Indonesia memimpin keketuaan D-8 periode 2026-2027 dengan mengusung tema “Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama.”
Sebelum penundaan tersebut, Indonesia akan menyelenggarakan KTT D-8 pada 15 April 2026 yang didahului oleh pertemuan tingkat pejabat tinggi serta pertemuan tingkat menteri luar negeri.
D-8 adalah organisasi kerja sama ekonomi negara berkembang yang terdiri atas Indonesia, Bangladesh, Mesir, Iran, Malaysia, Nigeria, Pakistan, dan Turki. Azerbaijan menjadi negara anggota terbaru yang bergabung D-8 pada Desember 2024.
Seperti diketahui, Iran diserang oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, ratusan siswi, serta pejabat tinggi Iran lainnya.
Iran pun melakukan serangan balasan dengan menyerang aset-aset militer AS yang ditempatkan di negara-negara kawasan Timur Tengah. Iran secara efektif menutup jalur air Selat Hormuz yang mengakibatkan naiknya harga minyak dunia.
Dorong Deeskalasi
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan, Indonesia, sebagai pemegang keketuaan organisasi Developing Eight (D-8), terus mendorong deeskalasi untuk mencegah konflik antara Iran dengan Amerika Serikat-Israel semakin meluas.
"Sebagai Ketua D-8, RI juga terus menekankan pentingnya deeskalasi dan mendorong berbagai pihak untuk terus menahan diri," kata Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang.
Yvonne mengatakan, Indonesia senantiasa menjaga komunikasi dengan seluruh anggota D-8 lainnya, khususnya terkait dengan dinamika situasi yang terjadi saat ini.
Dia juga memastikan status keanggotaan Iran di organisasi D-8 sama sekali tidak terdampak dengan dinamika yang terjadi dengan AS dan Israel saat ini. Sebagai puncak rangkaian keketuaan, Indonesia akan menjadi tuan rumah KTT ke-12 D-8 di Jakarta pada April 2026, yang akan didahului oleh pertemuan tingkat pejabat tinggi serta pertemuan tingkat menteri luar negeri.
KTT D-8 itu mengusung tema "Menavigasi Pergeseran Global: Memperkuat Kesetaraan, Solidaritas, dan Kerja Sama untuk Kemakmuran Bersama".
Sebelumnya, Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi berharap agar D-8 secara tegas mengutuk penyerangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu. Hal itu merupakan bentuk dukungan konkret yang diharapkan Iran terhadap negara-negara anggota D-8 agar deeskalasi dapat tercapai.
"Berkaitan dengan D-8, kami ingin agar organisasi penting ini secara kuat dan tegas memberikan kutukan kepada penyerangan yang terjadi oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negara kami," ujar Dubes Boroujerdi dalam konferensi pers di kediaman resmi Dubes Iran di Jakarta, Senin (2/3).
Dubes Boroujerdi berharap agar organisasi D-8 dapat berdiri di sisi yang benar dari sejarah dan memberikan pernyataan, kutukan serius terhadap penyerangan yang terjadi di Iran.
Tinggalkan Komentar
Komentar