Periskop.id - Perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri di Indonesia kembali jadi perbincangan hangat. Saat sebagian besar umat Muslim masih menunggu keputusan resmi pemerintah terkait 1 Syawal 1447 Hijriah, ternyata ada kelompok yang sudah lebih dulu merayakan Lebaran pada Kamis, 19 Maret 2026.

Fenomena ini bukan tanpa alasan. Di balik perbedaan tersebut, ada metode penentuan kalender yang berbeda, salah satunya digunakan oleh pengikut Tarekat Syattariyah.

Di beberapa daerah seperti Nagan Raya (Aceh) dan wilayah lain di Indonesia, ribuan jamaah Syattariyah telah melaksanakan Salat Id lebih awal setelah menyelesaikan puasa selama 30 hari. Hal ini memunculkan rasa penasaran: sebenarnya apa itu Tarekat Syattariyah, bagaimana sejarahnya, dan kenapa bisa berbeda dalam menentukan hari raya?

Apa Itu Tarekat Syattariyah?

Tarekat Syattariyah merupakan salah satu aliran dalam tradisi tasawuf (Sufisme) yang menekankan pendekatan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tarekat ini pertama kali muncul di India pada abad ke-15 dan dikaitkan dengan tokoh sufi bernama Abdullah Syattar, yang dikenal sebagai sosok penting dalam penyebaran ajaran ini.

Seiring waktu, Tarekat Syattariyah berkembang luas ke berbagai wilayah seperti Iran, Asia Tengah, hingga Turki Usmani dengan nama yang berbeda-beda. Di Indonesia, tarekat ini menemukan tempatnya di tengah masyarakat dan berkembang melalui jalur dakwah, pesantren, serta tradisi lokal yang masih bertahan hingga saat ini.

Sejarah Tarekat Syattariyah di Indonesia

Masuknya Tarekat Syattariyah ke Indonesia tidak terlepas dari peran ulama dan jaringan perdagangan Islam pada masa lalu. Salah satu wilayah yang menjadi pusat perkembangan tarekat ini adalah Cirebon, khususnya di lingkungan keraton. Dari sana, ajaran Syattariyah menyebar ke berbagai pesantren yang didirikan oleh para bangsawan yang memilih meninggalkan keraton akibat tekanan kolonial.

Pesantren-pesantren seperti Buntet, Kempek, hingga Al-Jauhriyah menjadi pusat penyebaran ajaran ini. Selain di Jawa, Tarekat Syattariyah juga berkembang kuat di Aceh dan terus diwariskan secara turun-temurun, termasuk dalam praktik keagamaan seperti penentuan awal Ramadan dan Idulfitri yang masih dipertahankan hingga sekarang.

Ajaran Utama Tarekat Syattariyah

Sebagai bagian dari tarekat sufi, Syattariyah memiliki fokus utama pada penyucian jiwa dan pendekatan spiritual kepada Tuhan. Berikut beberapa prinsip ajarannya:

Pendekatan Spiritual Cepat (Syattar)

Nama "Syattariyah" berasal dari kata “syattar” yang berarti cepat, merujuk pada metode spiritual yang diyakini dapat mempercepat seseorang mencapai kedekatan dengan Allah.

Dzikir dan Latihan Ruhani

Pengikut tarekat ini rutin melakukan dzikir sebagai bentuk latihan batin untuk meningkatkan kesadaran spiritual.

Bimbingan Guru (Mursyid)

Perjalanan spiritual dalam tarekat harus dibimbing oleh seorang guru agar tetap sesuai dengan ajaran yang benar.

Integrasi Syariat dan Hakikat

Tarekat Syattariyah menggabungkan praktik syariat Islam dengan pemahaman hakikat atau dimensi batin.

Kenapa Tarekat Syattariyah Rayakan Idulfitri Lebih Awal?

Perbedaan waktu perayaan Idulfitri oleh pengikut Tarekat Syattariyah disebabkan oleh metode penentuan kalender yang mereka gunakan, yaitu Hisab Bilangan Lima. Metode ini merupakan sistem perhitungan tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun selama ratusan tahun dan masih dipertahankan hingga kini, khususnya di wilayah Aceh.

Dalam kasus Idulfitri 2026, pengikut Syattariyah menetapkan 1 Syawal jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Penetapan ini bukan keputusan baru, melainkan hasil perhitungan yang konsisten dengan tradisi mereka. Hal ini juga ditegaskan oleh Bupati Nagan Raya:

“Metode ini sudah digunakan secara turun-temurun di Nagan Raya selama lebih dari 200 tahun,” ujar Teuku Raja Keumangan

Praktik Perayaan Idulfitri oleh Tarekat Syattariyah

Di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, ribuan jamaah Tarekat Syattariyah melaksanakan Salat Id di Masjid Peuleukung dengan penuh khidmat. Perayaan berlangsung seperti Idulfitri pada umumnya, mulai dari salat berjamaah, saling bersalaman, hingga silaturahmi antar keluarga dan masyarakat.

Fenomena serupa juga terjadi di beberapa daerah lain seperti Maluku Tengah dan Tulungagung, Jawa Timur. Meski jumlahnya tidak sebesar di Aceh, praktik ini tetap dijalankan dengan penuh keyakinan oleh para pengikutnya sebagai bagian dari tradisi keagamaan yang telah lama mereka jalani.

Perbedaan dalam penentuan hari raya ternyata bukan hal yang baru bagi masyarakat di daerah-daerah tersebut. Warga sudah terbiasa dengan adanya perbedaan antara metode hisab dan rukyat, sehingga tidak menimbulkan konflik di tengah masyarakat.

Seorang warga bahkan menyampaikan bahwa ia tetap mengikuti keputusan pemerintah tanpa mempermasalahkan perbedaan tersebut:

"Tidak ikut (Lebaran awal), kami ikut ketetapan pemerintah saja."

Sementara itu, Bupati Nagan Raya juga menegaskan bahwa perbedaan ini sudah berlangsung lama dan tetap berjalan dengan damai:

“Di Nagan Raya ini sudah biasa, tidak ada masalah karena sudah berlangsung ratusan tahun.” Ujarnya.