periskop.id - Ada sebuah kursi yang akan tetap kosong di meja makan keluarga Safira (24) dan Andi (23) saat Lebaran tiba. Kursi itu tidak benar-benar tak bertuan, ia hanya sedang “dipinjam” oleh profesi. Di saat jutaan orang bersiap bersimpuh di kaki orang tua, kedua wartawan muda ini justru berdiri tegap di depan kamera untuk memastikan setiap dari kita tahu jalan pulang masih terbuka lebar.
Ini adalah kisah tentang mereka yang memilih menjadi penjaga takbir di jalanan, merelakan hangatnya ruang tamu sendiri demi mengisi ruang tamu Anda dengan kabar Idulfitri.
Di Gerbang Tol Cikampek Utama (Cikatama), lampu rem kendaraan ribuan pemudik berpijar merah, berderet panjang bak aliran cahaya yang bergerak lambat menuju Timur.
Di sana, di sela debu aspal dan deru mesin yang tak henti, Safira, seorang wartawan televisi Indonesia, berdiri tegak. Mikrofon di tangannya adalah satu-satunya benda yang menghubungkannya dengan dunia luar, sedangkan hatinya tertinggal jauh di Surabaya.
Bagi Safira, Idulfitri kali ini adalah sejarah pertama yang ia tulis dengan tinta kerinduan. Ia bukan lagi bagian dari rombongan yang bersuka cita itu, melainkan penjaganya.
“Jujur, awalnya biasa saja. Tapi makin mendekati hari H (Lebaran), rasanya makin emosional," kata Safira, dengan nada bicara yang sedikit bergetar, kepada Periskop, Jumat (20/3).
Ada ironi yang menyesakkan dada saat Safira harus menatap layar kamera dan melaporkan kelancaran arus mudik. Di depan lensa, ia harus tampak prima dan serba tahu. Namun, di balik lampu sorot itu, Safira hanyalah seorang anak yang merindukan rumah.
"Ya Allah, orang-orang sekarang lagi sama keluarganya, pulang ke kampung halaman, sementara aku malah kerja dengan shift panjang. Aku jadi informan ke masyarakat yang sebenarnya aku iri-in banget. Sedih banget, jujur," tuturnya.
Bagi Safira, keriuhan Idulfitri yang biasanya ia lalui dalam pelukan hangat keluarga di Surabaya, kini berganti dengan sorot lampu kamera dan laporan arus mudik yang tak henti-henti.
“Dan apa ya, kayak sedih banget sih jujur. Ngerasanya kayak, ya ampun ternyata ini rasanya jadi orang-orang yang selama ini enggak bisa pulang kampung karena kerja. Dan ya malah aku kayak ada di depan layar TV, aku harus kelihatan oke di depan layar TV untuk mengabarkan kondisi dari tempat-tempat yang banyak pemudiknya gitu,” ungkap dia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tak jauh dari hiruk-pikuk penugasan di Jabodetabek, Andi, seorang wartawan dari media online, juga sedang menelan getir yang sama.
Jika tahun-tahun sebelumnya ia adalah asisten utama Ibunya di dapur, kini tangannya tak lagi memegang spatula sambil memasak opor ayam atau membantu Ayahnya membersihkan rumah untuk menyambut tamu. Hal yang paling menyiksa Andi bukanlah rasa lelah liputan, melainkan hilangnya keriuhan subuh yang biasa ia keluhkan.
"Biasanya subuh-subuh itu Nyokap paling riweuh. Jam tiga sudah bangun, nyetrika baju buat kita semua. Padahal kita yang cowok-cowok santai saja, tapi Nyokap yang paling menguras emosi kalau bangunin kita," kenang Andi sambil tersenyum pahit.
Tahun ini, rumah Andi mungkin lebih tenang karena ia tak ada di sana untuk dibangunkan secara paksa. Namun, ketenangan itu justru menjadi sunyi yang menyakitkan bagi sang Ibu.
Bagi Andi, momen yang paling membekas adalah ritual maaf-maafan. Namun, tahun ini, ritual tersebut akan dilakukan berbeda yang menambah kerinduannya terhadap keluarga.
"Saya nggak tahu nih entar sungkeman gimana, apa saya via online? Itu kan cukup sedih ya. Padahal saya sama keluarga masih di satu kawasan Jabodetabek, tapi di hari H kita nggak bisa ketemu," jelasnya.
Kesedihan itu kian terasa saat Andi menyadari kumpul keluarga besar adalah kemewahan yang tertunda.
"Biasanya kita ke rumah saudara, berkumpul, tapi ini saya lagi-lagi enggak bisa. Saya baru bisa kumpul di H+1 atau H+2 (Lebaran), karena di hari itu baru dapat libur pengganti. Itu momen yang enggak bisa saya lupain dan cukup menyesakkan karena enggak bisa kumpul bareng keluarga di waktu yang sama dengan orang lain," ucap Andi.
Rasa kehilangan akan atmosfer rumah yang hangat itu rupanya juga dirasakan oleh Safira di tengah riuhnya Cikatama. Bagi Safira, momen yang paling membekas bukan hanya saat kemenangan tiba, melainkan persiapan yang penuh kekacauan di dalamnya.
"Hal kecil yang paling aku kangenin ya itu, bangun subuh grasak-grusuk buat persiapan salat Id. Walaupun salatnya dekat rumah, tapi rasanya selalu diburu-buru banget. Aku yakin banget bakal kangen momen itu," kenang Safira.
Lebih dari sekadar persiapan fisik, Safira baru menyadari dalamnya makna sebuah tradisi justru saat ia tak lagi bisa melakoninya.
"Aku bakal kangen momen sungkeman sama orang tua. Dulu mikirnya, 'itu kayak apa sih', dan enggak pernah benar-benar menghikmatin. Tapi sekarang kalau dipikir-pikir, justru itu yang paling aku kangenin," tambahnya lirih.
Negosiasi Hati dengan Orang Tua
Menjelaskan kepada orang tua terkait tugas publik memanggil di hari raya bukanlah perkara mudah. Safira bercerita bagaimana adik dan orang tuanya terus bertanya berulang kali, seolah berharap ada celah kecil agar ia tetap bisa ikut pulang ke Surabaya.
"Sampai sekarang mereka masih make sure berulang-ulang, emang aku nggak bisa ikut Lebaran? Waktu aku awal bilang, mereka pasti sedih dan kecewa. Tapi mereka mengerti ini risiko yang harus aku ambil karena aku memilih bekerja sebagai wartawan," kata Safira.
Safira menyadari kedewasaan datang dengan tanggung jawab yang harus diemban, meskipun harus menukar pelukan fisik dengan sapaan dari balik layar TV.
Di rumah Andi, kesedihan itu terpancar jelas dari raut muka sang Ibu. Bagi Ibunda Andi, sesi foto keluarga setelah salat Id adalah ritual suci yang tak boleh terlewat. Andi pun berseloroh pahit, mungkin nanti fotonya akan disusulkan di hari kedua atau bahkan ia harus pasrah jika wajahnya sekadar "diedit" agar terlihat hadir di ruang tamu.
"Nyokap akhirnya mengikhlaskan meski agak sedih. Dia paling suka momen hari H karena itu paling memorable buat dia," ujar Andi.
Kebanggaan bagi Penjaga Takbir di Garis Depan Pemberitaan
Meskipun harus menelan rindu, ada secercah kebanggaan yang membuat langkah mereka tetap tegak di lapangan. Safira merasa ada kepuasan batin saat ia berhasil menjadi mata bagi jutaan pemudik. Di satu sisi, ia sedih karena hanya bisa menyapa keluarga lewat layar kaca. Namun, di sisi lain, Safira tahu ia sedang menjalankan cita-citanya.
"Aku yang memilih berada di jalan ini, merelakan waktu bersama keluarga untuk kerja. Jadi ya sudah, harus kuat," tegas Safira.
Sebelum menutup percakapan, Andi juga mengirimkan doa tulus dari sela-sela liputannya. Baginya, berjuang di lapangan adalah caranya membanggakan orang tua dengan cara yang berbeda.
"Sehat selalu buat Bunda, Ayah, dan adik-adik. Doakan Abang (Andi) sedang berjuang meraih kesuksesan agar bisa membanggakan kedua orang tua dan berguna untuk negara," ucap Andi dengan nada yang lebih tenang, seolah sedang menguatkan dirinya sendiri.
Pagi itu, saat takbir berakhir dan khotbah Id dimulai, Safira dan Andi tidak akan bersimpuh di kaki orang tua mereka. Mereka akan tetap berada di sana, di balik lensa dan catatan, memastikan kita semua tahu bahwa jalan pulang masih terbuka lebar. Mereka adalah penjaga takbir di garis depan yang merelakan kursi meja makan mereka kosong, agar meja makan Anda tetap penuh dengan cerita.
Tinggalkan Komentar
Komentar