periskop.id - Setelah Lebaran, banyak orang masih memiliki utang puasa Ramadan, tetapi juga ingin menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal yang penuh keutamaan. Hal ini sering menimbulkan pertanyaan: bolehkah puasa Syawal digabung dengan qadha Ramadan? Dan apakah benar bisa mendapatkan dua pahala sekaligus? Penting untuk memahami hal ini agar ibadah yang dilakukan tetap sah dan memberikan hasil yang maksimal.

Puasa sunah Syawal selama enam hari sebenarnya paling dianjurkan dilakukan langsung setelah Idulfitri, yaitu mulai tanggal 2 sampai 7 Syawal. Tapi tenang, kalau tidak bisa dilakukan berurutan atau pada tanggal tersebut, tetap boleh dilakukan di hari lain selama masih di bulan Syawal. Meski tidak berurutan, kamu tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa Syawal yang pahalanya disebut seperti berpuasa selama satu tahun penuh, sebagaimana dijelaskan dalam hadis riwayat Imam Muslim.

Bolehkah Menggabungkan Puasa Syawal dan Qadha Ramadan?

Dijelaskan bahwa orang yang menjalankan puasa qadha atau menunaikan nazar di bulan Syawal tetap bisa mendapatkan keutamaan seperti orang yang melakukan puasa sunah Syawal. Hal ini dijelaskan oleh Syekh Ibrahim al-Baijuri dengan mengutip pendapat Imam Ibnu Rajab al-Hanbali.

Dilansir dari NU Online, menggabungkan puasa qadha Ramadan dengan puasa Syawal pada dasarnya diperbolehkan. Artinya, ibadahnya tetap sah dan tetap bernilai.

Meski begitu, pahala yang didapat tidak sepenuhnya sama seperti jika puasa dilakukan secara terpisah, yakni menyelesaikan qadha Ramadan terlebih dahulu, lalu dilanjutkan dengan puasa Syawal.

Karena itu, banyak ulama menganjurkan untuk mendahulukan puasa qadha Ramadan agar kewajiban selesai lebih dulu, kemudian baru menjalankan puasa sunah Syawal supaya keutamaannya bisa diraih secara maksimal.

Keutamaan Puasa Syawal

Ada beberapa keutamaan puasa Syawal yang perlu diketahui. Pertama, puasa ini berfungsi sebagai penyempurna puasa Ramadan, mirip seperti salat sunah rawatib yang melengkapi salat wajib. Kedua, pahalanya bisa menyempurnakan puasa Ramadan hingga setara dengan puasa selama satu tahun, sebagaimana disebutkan dalam hadis.

Selain itu, puasa Syawal juga menjadi tanda bahwa ibadah Ramadan kita diterima karena seseorang yang terus melanjutkan kebaikan setelah Ramadan menunjukkan konsistensi dalam beribadah. Puasa ini juga menjadi bentuk rasa syukur kepada Allah atas berbagai nikmat di bulan Ramadan. Terakhir, puasa Syawal membantu menjaga kebiasaan baik agar ibadah tidak terputus meski Ramadan telah usai.

Mana yang Lebih Utama?

Dalam hal ini, para ulama umumnya sepakat bahwa yang lebih utama adalah mendahulukan puasa qadha Ramadan sebelum menjalankan puasa sunah Syawal. Alasannya, puasa qadha merupakan kewajiban yang harus ditunaikan terlebih dahulu, sedangkan puasa Syawal bersifat sunah.

Selain itu, dengan menyelesaikan qadha lebih dulu, seseorang bisa menjalankan puasa Syawal secara terpisah sehingga keutamaannya bisa didapat secara lebih sempurna, termasuk pahala seperti berpuasa selama satu tahun penuh.

Meski begitu, bagi yang memiliki keterbatasan waktu atau khawatir tidak sempat menjalankan keduanya, menggabungkan niat puasa tetap diperbolehkan. Jadi, pilihan bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tanpa meninggalkan kewajiban utama.

Bacaan Niat Puasa Syawal dan Qadha

Niat Puasa Syawal

Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ فِي شَهْرِ الشَّوَالِ سُنَّةً لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Nawaitu shauma ghadin fī syahrisy-syawāli sunnatan lillāhi ta‘ālā

Artinya:
Saya berniat puasa sunnah esok hari di bulan Syawal karena Allah Ta’ala.

Niat Puasa Qadha Ramadan

Arab:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى

Latin:
Nawaitu shauma ghadin ‘an qadhā’i fardhi syahri Ramadhāna lillāhi ta‘ālā

Artinya:
Saya berniat mengqadha puasa Ramadan esok hari karena Allah Ta’ala.