periskop.id - Bulan Syawal merupakan momen pembuktian bagi umat Islam untuk tetap menjaga semangat ibadah setelah Ramadan berlalu. Salah satu amalan yang dianjurkan di bulan ini adalah menjalankan puasa sunah selama enam hari.

Akan tetapi, masih banyak yang bingung dan belum benar-benar paham. Puasa Syawal itu bisa dilakukan kapan saja, sih, dan batas akhirnya sampai kapan? Apakah harus langsung setelah Idulfitri atau sebenarnya boleh dilakukan di pertengahan hingga akhir bulan Syawal? Untuk menjawab kebingungan ini, cari tahu penjelasan lengkapnya di sini.

Apa Itu Puasa Syawal dan Keutamaannya?

Puasa Syawal merupakan salah satu ibadah sunah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam setelah menjalani puasa Ramadan dan merayakan Idulfitri. Ibadah ini dilakukan pada bulan Syawal dan punya keutamaan besar, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.

Puasa enam hari di bulan Syawal memiliki pahala yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa sepanjang tahun." (HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa pahala yang dijanjikan sangat besar. Jadi, tidak heran kalau banyak umat Islam ingin tahu dengan pasti puasa Syawal bisa dilakukan sampai kapan agar tidak terlewat.

Selain itu, ada keutamaan lain yang tak kalah penting. Para ulama menjelaskan bahwa salah satu tanda amal ibadah diterima adalah ketika seseorang dimudahkan untuk melakukan kebaikan berikutnya.

Artinya, jika seseorang mampu melanjutkan puasa di bulan Syawal, hal itu bisa menjadi pertanda baik bahwa ibadah puasa Ramadan yang telah dijalani sebelumnya diterima.

Batas Puasa Syawal Sampai Kapan?

Bulan Syawal sendiri dimulai dari 1 Syawal, yaitu Hari Raya Idulfitri, hingga akhir bulan dalam kalender Hijriah. Namun, pada tanggal 1 Syawal, umat Islam dilarang berpuasa karena merupakan hari raya. Oleh karena itu, puasa Syawal baru bisa dilakukan sejak 2 Syawal.

Lalu, sampai kapan batasnya? Jawabannya adalah hingga akhir bulan Syawal, yaitu tanggal 29 atau 30 Syawal, tergantung jumlah hari dalam bulan tersebut. Itu menjadi batas terakhir untuk menyelesaikan puasa enam hari.

Dengan memahami batas waktu ini, umat Islam bisa lebih mudah mengatur jadwal puasa, baik dilakukan berturut-turut maupun dicicil. Yang terpenting, jumlahnya tetap enam hari dan masih berada di bulan Syawal.

Ada dua panduan yang bisa dijadikan acuan oleh umat Islam di Indonesia:

1. Kalender Hijriah Indonesia (Kemenag RI)
Berdasarkan perhitungan dari Kementerian Agama, 1 Syawal 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Dengan jumlah bulan Syawal sebanyak 29 hari, maka batas akhir puasa Syawal jatuh pada Sabtu, 18 April 2026.

2. Kalender Hijriah Global Tunggal (Muhammadiyah)
Sementara itu, Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) menetapkan 1 Syawal lebih awal, yaitu pada 20 Maret 2026. Dengan jumlah hari yang sama, yaitu 29 hari, batas akhir puasa Syawal jatuh pada Jumat, 17 April 2026.

Perbedaan ini wajar terjadi karena adanya perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah. Oleh karena itu, umat Islam bisa menyesuaikan dengan pedoman yang diikuti masing-masing.

Jadwal Puasa Syawal

Berdasarkan penetapan 1 Syawal 1447 H yang jatuh pada 21 Maret 2026, puasa Syawal bisa mulai dilaksanakan sejak 22 Maret hingga 18 April 2026.

Berikut contoh jadwal puasa Syawal jika ingin dikerjakan selama enam hari berturut-turut di awal bulan:

  • 22 Maret 2026 (2 Syawal 1447 H)
  • 23 Maret 2026 (3 Syawal 1447 H)
  • 24 Maret 2026 (4 Syawal 1447 H)
  • 25 Maret 2026 (5 Syawal 1447 H)
  • 26 Maret 2026 (6 Syawal 1447 H)
  • 27 Maret 2026 (7 Syawal 1447 H)

Meski begitu, tidak perlu khawatir jika belum sempat melaksanakannya di awal bulan. Puasa Syawal tetap bisa dikerjakan di hari lain, selama masih berada dalam bulan Syawal.