Periskop.id - Nama Green SM mendadak ramai diperbincangkan publik Indonesia usai sebuah unit taksi listriknya diduga terlibat dalam insiden yang memicu kecelakaan antara kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam.

Meski penyebab pasti kecelakaan tersebut masih dalam penyelidikan pihak berwenang, sorotan publik kini mengarah pada perusahaan taksi listrik asal Vietnam itu. 

Banyak warganet mulai mencari tahu profil Green SM, termasuk bagaimana sepak terjang perusahaan ini di Indonesia maupun di pasar Asia Tenggara.

Perusahaan taksi listrik asal Vietnam, Green and Smart Mobility JSC, mulai menjadi sorotan di kawasan ASEAN. Perusahaan yang beroperasi dengan nama Xanh SM di Vietnam ini disebut-sebut sebagai salah satu penantang serius Grab di sektor layanan transportasi daring.

Di pasar ASEAN lainnya, perusahaan ini menggunakan nama Green SM maupun Green GSM.

Secara harfiah, “Xanh” dalam bahasa Vietnam berarti “hijau”, sehingga nama Xanh SM dapat diartikan sebagai “Green SM”.

Perusahaan ini mengusung konsep mobilitas hijau melalui layanan taksi listrik dan penyewaan kendaraan listrik.

Fokus pada Taksi Listrik dan Penyewaan Kendaraan

Melansir dari laman resmi perusahaan, Green SM beroperasi di dua bidang utama.

Pertama adalah layanan taksi listrik. Kedua adalah layanan penyewaan mobil dan sepeda motor listrik buatan VinFast.

Skala investasi awal perusahaan ini sangat besar. Green SM mengoperasikan sekitar 20.000 unit mobil listrik dan 60.000 unit sepeda motor listrik.

Layanan Green SM sepenuhnya menggunakan kendaraan listrik VinFast. Perusahaan mengklaim kendaraan tersebut tidak menghasilkan polusi, tidak menimbulkan bau bahan bakar minyak, tidak bising, lebih sehat, dan ramah lingkungan.

Model bisnis ini membuat Green SM tampil berbeda di tengah dominasi perusahaan ride-hailing berbasis kendaraan konvensional.

Didirikan Pham Nhat Vuong dengan Investasi Triliunan Rupiah

Green SM didirikan oleh Pham Nhat Vuong, Chairman Vingroup.

Perusahaan ini didirikan dengan modal dasar sebesar 3.000 miliar dong Vietnam atau VND. Pham menguasai 95% saham perusahaan tersebut.

Jika dikonversi dengan rata-rata kurs dong Vietnam terhadap rupiah pada 2023, nilai investasi awal Green SM setara sekitar Rp1,92 triliun.

Besarnya investasi ini menunjukkan keseriusan Pham dalam membangun ekosistem kendaraan listrik terintegrasi di Asia Tenggara.

Tahun Berdiri dan Wilayah Operasional

Green SM resmi memulai operasinya di Hanoi pada 14 April 2023. Identitas visual utama perusahaan ini adalah warna cyan atau biru kehijauan. Warna ini juga menjadi ciri khas armada taksi listrik Green SM di jalanan.

Setelah sukses di pasar domestik Vietnam, Green SM mulai berekspansi ke pasar internasional.

Pada 2023, Green SM mulai beroperasi di Laos dan menjadi pasar internasional pertama di luar Vietnam.

Setelah itu, perusahaan masuk ke Indonesia pada akhir 2024. Saat pertama masuk ke Indonesia, perusahaan masih menggunakan nama Xanh SM sebelum kemudian berganti menjadi Green SM.

Pada pertengahan 2025, perusahaan mulai beroperasi di Filipina dengan nama Green GSM.

Ekspansi bertahap ini menunjukkan ambisi Green SM untuk menguasai pasar ride-hailing di Asia Tenggara.

Digadang Jadi Rival Grab di Vietnam

Di pasar domestik Vietnam, Green SM disebut sebagai pesaing utama Grab.

Dalam survei yang dilakukan firma riset pasar Decision Lab yang berbasis di Ho Chi Minh City pada 2024, sebanyak 36% responden memilih Xanh SM sebagai aplikasi ride-hailing pilihan mereka.

Angka itu menempatkan Xanh SM di posisi kedua. Sementara Grab masih memimpin dengan 62% responden.

Meski belum menggeser Grab, capaian ini menunjukkan penetrasi pasar Green SM cukup cepat dalam waktu singkat.

Terkait Erat dengan Penjualan VinFast

Catatan keuangan VinFast menunjukkan hubungan bisnis yang sangat erat dengan Green SM.

Sebanyak 82% penjualan VinFast pada 2023 berasal dari perusahaan-perusahaan lain yang juga dimiliki Pham, salah satunya adalah Xanh SM.

Menurut laporan Reuters, pada 2023 Xanh SM menghabiskan US$839 juta untuk membeli taksi dan skuter listrik.

Perusahaan juga menandatangani kesepakatan senilai US$419 juta untuk membeli tambahan 14.600 kendaraan listrik.

Langkah ini menunjukkan strategi Vingroup dalam membangun ekosistem tertutup antara produsen kendaraan listrik dan operator transportasi.