Periskop.id - PT Timah (Persero) Tbk membagikan dividen sebesar Rp656,8 miliar kepada para pemegang saham dari laba bersih tahun buku 2025. Nilai tersebut setara 50 % dari total laba bersih perseroan yang mencapai Rp1,31 triliun.
Keputusan pembagian dividen itu disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan atau RUPST Tahun Buku 2025 yang digelar di Jakarta, Jumat. Melalui keputusan tersebut, PT Timah membagi keuntungan secara seimbang antara imbal hasil kepada pemegang saham dan kebutuhan penguatan bisnis perusahaan.
Direktur Utama PT Timah Restu Widiyantoro mengatakan, pembagian dividen menjadi cerminan kinerja positif perseroan sepanjang 2025. Capaian itu didukung perbaikan operasional, penguatan fundamental bisnis, serta kemampuan perusahaan menjaga daya saing di tengah tantangan industri timah.
"Pembagian dividen ini mencerminkan kinerja positif yang berhasil dibukukan perseroan," ujar Direktur Utama PT Timah (Persero) Tbk Restu Widiyantoro dalam keterangan resminya yang diterima di Jakarta, Jumat (12/6).
Selain membagikan dividen, PT Timah juga menetapkan 50 laba bersih lainnya atau sekitar Rp656,8 miliar sebagai saldo laba ditahan. Dana tersebut akan digunakan untuk mendukung pengembangan usaha sekaligus memperkuat struktur keuangan perusahaan.
Dengan skema tersebut, PT Timah tidak hanya memberikan nilai tambah langsung kepada pemegang saham, tetapi juga tetap menjaga ruang pembiayaan untuk pertumbuhan bisnis ke depan. Langkah ini penting karena industri timah masih menghadapi tantangan dari sisi produksi, harga komoditas, tata kelola tambang, dan kebutuhan investasi.
Pada 2025, PT Timah membukukan pendapatan sebesar Rp11,55 triliun. Angka ini naik 6,41 % dibandingkan 2024 yang sebesar Rp10,86 triliun. Laba usaha perusahaan tercatat Rp1,91 triliun, sementara EBITDA mencapai Rp2,76 triliun.
Dari sisi operasional, PT Timah mencatat produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn. Produksi logam timah mencapai 17.815 metrik ton, sedangkan penjualan logam timah tercatat 16.634 metrik ton.
"Perseroan berkomitmen untuk terus menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai optimal bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan," ujar Restu.
Restu melanjutkan, sepanjang tahun buku 2025, PT Timah mampu menjaga kinerja operasional dan keuangan melalui peningkatan produktivitas, penguatan tata kelola, efisiensi di seluruh rantai bisnis, serta pengelolaan keuangan yang prudent.
Capaian tersebut menjadi fondasi bagi perusahaan untuk tetap membagikan keuntungan kepada pemegang saham, sekaligus menjaga keberlanjutan usaha. Dalam industri komoditas, keseimbangan antara dividen dan laba ditahan penting karena perusahaan tetap membutuhkan dana untuk mempertahankan produksi, meningkatkan efisiensi, dan mengembangkan cadangan.
Permintaan Timah
PT Timah juga menatap 2026 dengan optimistis. Perseroan menilai permintaan timah global masih memiliki prospek menjanjikan, terutama karena sekitar separuh konsumsi timah dunia ditopang oleh industri solder. Produk solder menjadi komponen penting dalam sektor semikonduktor, elektronik, pusat data, teknologi kecerdasan buatan, energi, dan infrastruktur kelistrikan modern.
International Tin Association mencatat solder masih menjadi penggunaan terbesar timah secara global, dengan porsi 51% pada 2023. Lembaga itu juga menyebut prospek jangka panjang timah didukung penggunaan pada sektor solar, 5G, kendaraan listrik, dan teknologi baru lainnya.
Kondisi tersebut sejalan dengan strategi PT Timah untuk memperkuat produksi dan menjaga daya saing. Pada 2026, perusahaan menyiapkan sejumlah agenda, mulai dari akselerasi produksi, optimalisasi cadangan, transformasi digital, penguatan aspek keberlanjutan atau ESG, hingga efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis.
PT Timah juga akan mengoptimalkan kinerja anak perusahaan, aset non-operasi, serta sinergi lain untuk mendukung keberlanjutan perusahaan. Strategi ini diperlukan agar perseroan tidak hanya mengandalkan kenaikan harga komoditas, tetapi juga memperkuat efisiensi dan tata kelola dari sisi internal.
Tantangan di industri timah sebelumnya sempat menjadi perhatian. Reuters pada September 2025 melaporkan PT Timah optimistis mengejar target produksi logam timah 21.500 metrik ton pada 2025, meski produksi semester pertama sempat melemah akibat persaingan dengan penambang ilegal, cuaca hujan, dan keterlambatan pembukaan tambang baru.
Dalam laporan itu, Restu menyebut pembentukan satuan tugas untuk menindak tambang ilegal di Bangka Belitung diharapkan membantu pencapaian target produksi. Masalah tambang ilegal memang menjadi salah satu isu penting dalam industri timah nasional.
Selain mengganggu produksi resmi, aktivitas ilegal juga dapat menekan tata kelola rantai pasok, merusak lingkungan, dan mengurangi optimalisasi cadangan oleh perusahaan yang beroperasi secara legal.
Karena itu, penguatan tata kelola menjadi bagian penting dari strategi PT Timah. Jika tata kelola produksi dan rantai pasok membaik, perusahaan berpeluang menjaga stabilitas pasokan, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat posisi Indonesia dalam pasar timah global.
Sebagai produsen timah negara, PT Timah memiliki peran strategis dalam industri mineral Indonesia. Timah bukan hanya komoditas ekspor, tetapi juga bahan penting bagi rantai pasok teknologi modern. Ketika permintaan dari sektor elektronik dan energi meningkat, kinerja produsen timah dapat ikut terdorong apabila produksi dan tata kelola berjalan optimal.
Pembagian dividen Rp656,8 miliar untuk tahun buku 2025 menunjukkan PT Timah berhasil menjaga profitabilitas di tengah tantangan tersebut. Namun, keputusan menahan separuh laba juga menegaskan bahwa perseroan masih membutuhkan ruang investasi untuk memperkuat bisnis jangka panjang.
Dengan kombinasi dividen, laba ditahan, dan strategi ekspansi, PT Timah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan pemegang saham dan kebutuhan transformasi perusahaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan momentum kinerja 2025 dapat berlanjut pada 2026, terutama melalui peningkatan produksi, efisiensi, dan pemanfaatan peluang permintaan timah global.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar