Periskop.id - Dunia transportasi darat di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari nama besar PT Antar Lintas Sumatera atau yang lebih dikenal dengan sebutan bus ALS.
Perusahaan otobus (PO) ini tercatat sebagai salah satu operator transportasi tertua dan terbesar yang telah melayani jalur lintas Sumatera selama lebih dari 59 tahun. Sejarah berdirinya PO ALS berawal dari inisiatif H Sati Lubis bersama tujuh saudagar yang masih merupakan kerabatnya.
Mereka bersepakat mendirikan perusahaan angkutan penumpang darat yang awalnya berpusat di Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara, pada 29 September 1966. Seiring perkembangannya, kantor pusat perusahaan kemudian berpindah ke wilayah Amplas, Kota Medan.
Sebelum dikenal luas sebagai angkutan penumpang, PO ALS mengawali kiprah bisnisnya sebagai penyedia angkutan barang yang membawa hasil bumi untuk kebutuhan masyarakat.
Saat beralih menjadi operator bus, rute pertama yang dilayani adalah Kotanopan menuju Medan dengan mengandalkan bus Chevrolet C50 buatan Amerika Serikat. Armada inilah yang menjadi fondasi awal bagi ekspansi besar besaran rute ALS ke berbagai wilayah yang bahkan sebelumnya belum terjamah operator lain.
Ekspansi Masif: Pemegang Rekor Rute Terpanjang di Indonesia
Pada era 1970 an, PO ALS mulai memperluas jangkauan operasionalnya hingga mencakup wilayah Bengkulu, Banda Aceh, Jambi, Palembang, Lampung, dan Padang.
Ambisi perusahaan untuk menyeberang ke Pulau Jawa sempat terkendala keterbatasan kapasitas kapal penyeberangan pada masa itu. Namun, memasuki tahun 1980 an, peluang tersebut terbuka lebar seiring dengan peningkatan fasilitas pelabuhan.
PO ALS langsung menggebrak dengan membuka trayek dari ujung Sumatera hingga ke berbagai kota besar di Pulau Jawa, seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, hingga Jember.
Jangkauan operasional yang mencapai jarak sekitar 2.920 kilometer ini membuat bus ALS dinobatkan sebagai PO dengan rute terpanjang di Indonesia. Untuk menempuh jarak tersebut, armada bus ALS memerlukan waktu perjalanan yang cukup lama, yakni sekitar satu minggu atau tujuh hari di perjalanan.
Perusahaan ini bahkan sempat merambah hingga ke Pulau Bali pada tahun 2003. Namun, karena pertimbangan jarak yang sangat ekstrem serta kondisi mesin armada yang kurang memadai untuk rute tersebut, trayek ke Bali akhirnya resmi ditutup.
Budaya Persaudaraan dan Keunikan Manajemen Keluarga
Salah satu hal yang paling melekat pada identitas bus ALS adalah filosofi "Naik Sebagai Penumpang, Turun Sebagai Saudara".
Ungkapan ini lahir karena durasi perjalanan yang sangat lama menciptakan ikatan emosional yang kuat antara kru bus dan penumpang. Tidak jarang, para pelanggan setia mengenal kru bus secara pribadi layaknya keluarga sendiri karena kebersamaan selama berhari hari di jalanan.
Secara manajemen, PO ALS memiliki keunikan dalam sistem kepemilikan armada yang dikelola oleh keluarga besar. Identitas pemilik setiap unit bus dapat dikenali melalui angka ketiga pada nomor pintu (Nopin) dengan rincian:
- Angka ujung 1: Dimiliki oleh keluarga Almarhum Haji Sati Lubis (Direktur Utama PT ALS).
- Angka ujung 3: Milik Almarhum Haji Rasyad Nasution.
- Angka ujung 5: Milik Japarkayo Hasibuan.
- Angka ujung 7: Milik keluarga Almarhum Haji M Arief Lubis.
- Angka ujung 8: Milik Almarhum Haji Abdul Wahab Lubis dan Almarhum Haji Hasbullah Lubis.
- Angka ujung 9 dan 0: Milik Almarhum Nursewan Lubis dan Almarhum Rangkuti.
Kini, pengelolaan armada tersebut telah diteruskan oleh generasi kedua dan ketiga dari para pendiri asli. Begitu ikoniknya bus ini hingga menginspirasi karya seni, seperti lagu "Di Loket Ni ALS" yang dipopulerkan oleh Bonardo Trio serta lagu bertema serupa oleh seniman Maryati br Lubis.
Duka di Lintas Sumatera
Di tengah sejarah panjangnya, kabar duka menyelimuti operasional bus ALS pada Rabu (6/5) siang. Sebuah kecelakaan tragis melibatkan bus ALS dan sebuah truk tangki terjadi di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan.
Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Muratara melaporkan sebanyak 16 orang tewas dalam insiden tersebut. Rincian korban meninggal dunia terdiri dari 14 orang penumpang bus ALS, satu orang sopir truk tangki, dan satu orang kenek truk tangki.
Benturan frontal yang sangat keras menyebabkan kedua kendaraan mengalami kerusakan berat atau ringsek di lokasi kejadian. Seluruh korban jiwa telah berhasil dievakuasi oleh petugas dari lokasi kecelakaan maut tersebut.
Tinggalkan Komentar
Komentar