periskop.id - Forum diskusi bertajuk "Kopdar Bareng Mas Dar" di Universitas Gadjah Mada berubah ricuh pada Senin malam, 15 Juni 2026, setelah mahasiswa menilai jawaban para pejabat Kabinet Prabowo Subianto tidak menyentuh akar persoalan yang mereka angkat. 

Kericuhan berlangsung di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, dan berujung pada pengepungan kendaraan narasumber oleh ratusan mahasiswa.

Advertisement

Acara yang digelar oleh Total Politik itu menghadirkan tiga pejabat negara sebagai pembicara: Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid, Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko, serta Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. 

Topik yang diusung menyentuh isu Pancasila sebagai pemersatu bangsa, namun relevansi tema itu langsung dipertanyakan oleh Aliansi Serikat Mahasiswa UGM di tengah kondisi negara yang mereka nilai carut-marut.

Pemicu Kericuhan: Jawaban Dianggap Tidak Substansial

Suasana forum yang semula berjalan kondusif mulai memanas sekitar pukul 20.30 WIB, tepat setelah ketiga narasumber merampungkan sesi pemaparan materi. Pada titik itu, Budiman Sudjatmiko justru mengundang peserta untuk menyampaikan kritik secara langsung di ruang diskusi.

"Silakan kritik kami di sini, jangan di media sosial," ujar Budiman kepada peserta forum.

Undangan itu disambut oleh mahasiswa dengan kritik tajam yang mempertanyakan kelayakan ketiga pejabat membahas Pancasila di tengah tumpukan persoalan bangsa yang dinilai belum terselesaikan. Perdebatan memanas, hingga puluhan mahasiswa naik ke atas panggung dan membentangkan spanduk bertuliskan "UGM Menolak Pengkhianat Reformasi" dan "UGM Menolak Penjilat Rezim".

Situasi makin tak terkendali saat massa melempar gelas air mineral ke arah narasumber, memaksa panitia menghentikan jalannya diskusi. Panitia bersama petugas keamanan segera mengevakuasi ketiga pejabat keluar dari Joglo GIK UGM.

Pengepungan di Luar Gedung dan Pelarian Budiman

Upaya evakuasi tidak berjalan mulus. Ratusan mahasiswa telah mengepung bagian luar gedung dan menghadang kendaraan para narasumber, menuntut agar dialog dilanjutkan secara terbuka.

"Mana Budiman! Katanya mau diskusi!" teriak massa di luar gedung.

Merespons desakan itu, Nusron Wahid dan Sudaryono akhirnya keluar menemui mahasiswa untuk melanjutkan dialog di depan gedung. Budiman Sudjatmiko, sebaliknya, tidak tampak dan diduga telah meninggalkan lokasi melalui pintu belakang gedung.

Dialog di luar pun tidak berlangsung lama. Ketika seorang mahasiswa menanyakan tanggung jawab Nusron atas kebijakan alih fungsi ratusan ribu hektare lahan di Papua yang diklaim menggusur masyarakat adat, Nusron merespons dengan mengajak mahasiswa datang langsung ke Papua untuk melihat fakta di lapangan. Jawaban itu dianggap tidak menjawab substansi persoalan.

Beberapa menit berselang, Nusron dan Sudaryono bangkit dari tempat duduk lalu berjalan menuju kawasan Bundaran UGM dan gerbang selatan kampus. Mahasiswa yang merasa dihindari langsung menghadang pergerakan rombongan menggunakan water barrier, memicu aksi saling dorong dan kejar-kejaran di kawasan sekitar gedung.

Tuntutan Serikat Mahasiswa UGM kepada Pemerintah

Aliansi Serikat Mahasiswa UGM merumuskan tiga pertanyaan mendasar yang mereka tujukan kepada pemerintahan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka. Pertama, bagaimana bangsa bisa dipersatukan jika suara rakyat yang mengkritik justru diabaikan dan dianggap gangguan.

Kedua, di mana nilai Pancasila ketika konflik agraria dibiarkan berlanjut tanpa transparansi, sementara rakyat diminta berhemat di tengah pemborosan elite. Ketiga, apa yang sesungguhnya sedang diwujudkan Kabinet Merah Putih, cita-cita Pancasila atau cita-cita kekuasaan semata.

Dalam pernyataan tertulis yang diunggah di akun Instagram Serikat Mahasiswa UGM pada 16 Juni 2026, aliansi itu mempertanyakan arah kebijakan pemerintah secara keras. "Rezim kita buta terhadap banyaknya kebijakan yang tidak pernah menyentuh akar permasalahan. MBG yang menyerap habis APBN, koperasi desa merah putih yang nirmanfaat. Siapa yang sebenarnya dilayani rezim, cita-cita Pancasila atau cita-cita untuk berkuasa?" tulis mereka.

Serikat mahasiswa itu juga menyoroti kepergian Budiman dari lokasi tanpa menemui massa sebagai tindakan yang mengecewakan. "Budiman yang pernah ikut aksi demonstrasi malah kabur, dasar pengkhianat, pengecut," teriak massa di lapangan. 

Aliansi menyebut kejadian malam itu sebagai peringatan keras bagi pemerintahan yang mereka anggap sakit kronis, seraya mengingatkan bahwa kesabaran publik memiliki batasnya.

Kericuhan di GIK UGM malam itu mencerminkan ketegangan yang kian terbuka antara mahasiswa dan pejabat pemerintah dalam forum-forum publik. Substansi tuntutan mahasiswa, mulai dari isu agraria, transparansi kebijakan, hingga konsistensi nilai Pancasila, kemungkinan besar akan terus mengemuka di ruang-ruang diskusi serupa ke depannya.