periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Rabu, 6 Mei 2026, seiring pelemahan indeks dolar AS dan meredanya tensi geopolitik global. Rupiah tercatat naik 36 poin ke level Rp17.387 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp17.424.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah sempat menguat lebih dalam hingga 40 poin sebelum akhirnya ditutup di level Rp17.387.
“Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup menguat 36 poin ke Rp17.387 dari sebelumnya Rp17.424. Penguatan sempat mencapai 40 poin di level Rp17.409,” ujarnya,” Rabu (6/5).
Dari eksternal, pasar merespons positif pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengindikasikan peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap konflik yang sebelumnya mengganggu jalur distribusi energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Trump juga mengumumkan penghentian sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz sebagai bagian dari upaya membuka ruang negosiasi. Meski demikian, blokade terhadap pelabuhan Iran masih tetap diberlakukan oleh Angkatan Laut AS.
Sentimen ini berdampak pada melemahnya dolar AS, sehingga memberikan ruang penguatan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari kinerja ekonomi Indonesia yang menunjukkan percepatan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 mencapai 5,61%, mengindikasikan tren pemulihan yang semakin kuat.
Pemerintah juga berkomitmen menjaga momentum tersebut melalui kebijakan lanjutan dan koordinasi erat dengan Bank Indonesia, terutama dalam menjaga likuiditas sistem keuangan.
Namun demikian, pelaku pasar masih mencermati sejumlah indikator yang belum sepenuhnya solid, seperti penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Maret 2026 yang turun ke level 122,9 dari sebelumnya 127,0.
Tinggalkan Komentar
Komentar